My Chosen Wife

My Chosen Wife
SITUASI ANEH.



Di dalam perjalanan, masing-masing di dalam mobil, Renata bersama Rava, Vara bersama Harsen, Defan bersama Alice. Ketiga mobil itu beriringan berjalan mengikuti mobil Rava yang menjadi pemandu mereka untuk ketempat yang di janjikan Rava untuk makan malam bersama.


 


 


Suasana hening di Mobil Rava membuat Renata terus-terusan menatap ke Rava hingga dia membuka suaranya.


 


 


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Renata, merasa heran dengan Rava yang hanya berdiam dan memasang wajah petak.


 


 


"Tidak apa-apa. Emangnya kenapa dengan wajahku?" tanya Rava tanpa menoleh ke Renata.


 


 


"Kenapa ya? Seperti ada manis-manisnya kali ya?" celetuk Renata.


 


 


Tiba-tiba Rava tertawa, tidak bisa menahan geli dengan barusan yang di dengarnya dari mulut si Renata.


 


 


"Kau pikir aku gula?" tanya Rava dengan tersenyum.


 


 


"Nah... seperti itu dong. Aku kan senang melihat Kau itu tersenyum. Bukan wajah yang mirip kotak, jelek banget tahu." ucap Renata.


 


 


"Habisnya Kau sih, dua kali membuatku malu dalam hitungan menit," ucap Rava dengan sekilas menatap wajah Renata.


 


 


Dengan cepat Renata menoleh ke Rava, "Emangnya, apa yang sudah ku perbuat hingga kau malu?"


 


 


"Kau tidak tahu?" tanya Rava.


 


 


Renata menggelengkan kepalanya, "Tidak... Keknya Aku tidak melakukan kesalahan apapun."


 


 


"Ouuu begitu ya... Enak banget jadi kamu ya?"


 


 


"Apaan sih! Jangan betele-tele dong, langsung aja. Aku sungguh tidak mengerti maksud ucapanmu." tutur Renata.


 


 


"Dengarkan baik-baik, yang pertama Aku malu hampir pingsan usai menemani kamu bermain roller coaster, yang kedua... Kenapa Kau memuji si Defan. Bukankah harusnya Aku duluan yang memiliki kekasih di bandingkan dengan Defan. Karena Kau saja yang lari dariku, kalau tidak Aku juga kan yang duluan memiliki kekasih." balas Rava dengan wajah kesalnya.


 


 


"Ya ampun Rava, Kau ini seperti anak-anak saja. Kenapa Kau cemburuan seperti itu. Soal roller coaster, bukankah Kau sendiri yang bertanya kepadaku kita main apa dan sesuka aku untuk memilihnya. Masa iya, Kau melupakan ucapan mu sendiri? Agh... Aku sungguh tidak percaya dengan dirimu. Bukankah di atas Kau juga sudah katakan pernah bermain roller coaster beberapa kali. Kenapa kau berbohong padaku?" tatapan Renata berubah menjadi tatapan memperhitungkan.


 


 


Rava merasa gugup, salah lagi pikirnya.


 


 


"Agh... ya sudahlah. Aku tidak tahu, susah ngomong sama wanita. Selalu benar dah , buat kepalaku pusing."


 


 


"Dasar Pria aneh!" gumam Renata seraya membuang pandangannya.


 


 


"Apa barusan Kau bilang?" Rava meliriknya.


 


 


"Pria ANEH!" ucapnya dengan penuh penekanan.


 


 


Rava tertawa, lalu tangan kirinya mengacak rambut Renata, "Kalau Aku pria aneh, Kau lebih aneh. Punya kekasih aneh, kita impaskan?."


 


 


Renata merapikan rambutnya serta tersenyum, "Iya... Karena itu kita berjodoh bukan?"


 


 


"Hahaha... Benar juga." balas Rava sekenahnya.


 


 


Di dalam mobil yang di kemudikan oleh Harsen. Vara memilih berdiam, ketimbang harus membuka topik duluan. Bukan gaya Vara sebenarnya, karena Vara paling tidak suka berdiam seperti itu. Tetapi karena Vara agak kesal dengan ketidak pekahan Harsen terhadap dirinya, jadilah ia memilih untuk berdiam.


 


 


Harsen sendiri merasa tidak enak melihat keanehan dari Vara. Biasanya Vara sangat ribut, jika dia bersama dengan Harsen.


 


 


Apa Aku melakukan kesalahan lagi? Kenapa tiba-tiba dia diam sedari tadi?


 


 


"Vara." panggil Harsen membuka suara.


 


 


"Hemmm." jawab Vara malas.


 


 


"Kenapa diam? Tidak seperti biasanya?"


 


 


"Perasaan kak Harsen saja, sedari tadi Vara gak diam kok." jawab Vara.


 


 


"Lah... Buktinya enggak ada suara di antara kita Nona Vara." balas Harsen merasa aneh.


 


 


"Hello Tuan Harsen, Enggak dengar suara angin yang keluar dari kedua lubang hidungku. Kan itu di namakan bersuara. Perasaan Tuan saja di mobil ini tidak bersuara, Ini suara AC, suara mesin mobil. Gitu aja kok enggak tahu sih?" protes Vara jadi kesal.


 


 


"Kok Nona Vara jadi sensian sih?" Harsen kembali bingung.


 


 


"Situ dong tanya pada dirinya sendiri. Kenapa Tuan Harsen ini, sungguh tidak pekah jadi Pria!" celetuknya dengan rasa kesal.


 


 


M**ana Defan sama Alice duluan jadian, ketimbang denganku memendam perasaan sama Pria kakuh ini dari aku kecil.


 


 


"Aku... Kenapa denganku?"


 


 


"Agh... Sudahlah tidak usah di bahas lagi. Lain kali tanyakan saja pada rumput yang bergoyang." balas Vara menatap pada jalanan.


 


 


 


 


Bagaimana bisa Aku bertanya pada rumput yang bergoyang? Apa rumput itu bisa berbicara, hemmm.. terus kalau enggak bergoyang bagaimana juga harus ku tanyakan. Vara kenapa sih? Buat aku bingung saja .


 


 


Harsen menggaruk-garuk kepalanya karena bingung dengan ucapan Vara. Vara sendiri melirik sekilas ke Harsen yang bingung itu. Membuat Vara tersenyum kecil, dasar Pria kakuh nan polos.


 


 


****


 


 


Hari yang sudah malam itu membawa mereka tiba di salah satu restaurant di New York. Masing-masing turun dari mobil, dengan cepat Vara mengajak Alice untuk mendekat pada Renata. Mata Rava menajam saat Vara menarik Renata dan berjalan masuk ke dalam restaurant tanpa menunggunya.


 


 


Harsen dan juga Defan mendekat ke Rava yang masih santainya berdiri menatap pada ketiga wanita yang sudah berjalan masuk.


 


 


"Ayo Kak, Apa kita tidak masuk?" Defan menatap sang kakak.


 


 


"Aku menjadi bingung dengan suasana saat ini, kenapa kita seperti kencan. Apa Kau dan Vara jadian?" tiba -tiba Rava menatap ke Harsen.


 


 


"Ngah... Kakak." balas Harsen kaget.


 


 


"Agh.... sudahlah. Ayo masuk, Aku takut para wanita itu di godain pria bule di dalam." Rava berjalan duluan tanpa menunggu Defan dan Harsen yang saling memandang.


 


 


Defan dan Harsen sama-sama takut, dengan pertanyaan Rava tadi. Harsen sendiri, tidak tahu bahwasannya Defan sudah tahu , Vara memiliki perasaan pada Harsen. Sembari merasa cemas menatap pada kepergian Rava, Harsen tiba-tiba tersadar dengan tatapan Defan.


 


 


"Kenapa Kau melihat Kakak seperti itu Fan?" tanya Harsen dengan menyipitkan salah satu matanya.


 


 


Defan tersenyum seraya berjalan dan berkata, "Pantas saja Vara menyukai kak Harsen." ucapnya dan berjalan ke arah pintu masuk.


 


 


Harsen yang mendengar suara samar yang berasal dari mulut Defan merasa penasaran. Dengan cepat Harsen berlari mengejar Defan. Sesampainya di samping Defan, Harsen merangkul pundaknya.


 


 


"Apa yang barusan kau ucapkan?" tanya Harsen.


 


 


"Kakak mau tahu?" tanya si Defan.


 


 


Harsen menganggukan kepalanya, "Iya..."


 


 


"Mana bayarannya." Defan mengulurkan tangannya ke arah Harsen.


 


 


"Nanti kakak transfer ke rekening kamu." ucap Harsen bersemangat.


 


 


"Serius Kak?" tanya Defan histeris.


 


 


"Serius....Buruan kasi tahu, kakak tadi ada dengar kamu ucap Vara. Kakak sangat penasaran, jadi kamu tolong ulangi sekali lagi." ucap Harsen dengan menatap serius pada Defan.


 


 


"Agh....Siaran ulangnya mahal. Jadi kakak santai saja, jangan serius seperti itu. Defan kan jadi takut kak," ucap Defan dengan tertawa.


 


 


"Buruan!." ucap Harsen yang sudah penasaran sampai ke ubun-ubun.


 


 


Defan kaget, lalu ia mendekat ke Harsen dan berbisik di kuping Harsen.


 


 


"Kata Vara... Dia sangat menyukai Kak Harsen. Hanya saja, Kak Harsen tidak pernah pekah dengan perasaan Vara."


 


 


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tiba-tiba Rava datang dari depan pintu masuk. Keduanya menatap ke Rava dan saling salah tingkah.


 


 


"Heh... Hah.. Ini Kak di kuping Kak Harsen ada gajah." celetuk Defan gugup.


 


 


"Gajah? mana mungkin gajah ada di kupingku." bisik Harsen ke Defan.


 


 


"Dih Kak... Salah lagi nih, Defan enggak bisa berpikir cepat Kak. Salah alasan nih, gaswat ini namanya." bisik Defan ke Harsen.


 


 


Rava di sana hanya mengernyitkan keningnya,


 


 


"Sudah ayo masuk, yang lain sudah mau pesan makanan." ujar Rava seraya berbalik masuk.


 


 


"Agh... Untung saja Kak Rava enggak curiga, Kak." ucap Defan ke Harsen.


 


 


Harsen menarik nafasnya, "Kalau tahu juga enggak masalah, cinta harus memiliki. Karena harus memiliki, diri ini harus berjuang dengan segala tantangan dan juga rintangan." balas Harsen kemudian berjalan ke pintu masuk.


 


 


Sekarang malahan Defan yang menggaruk kepalanya karena bingung dengan ucapan Harsen. Dari pada mati penasaran, Defan memilih mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya untuk berjalan ke pintu masuk.


 


 


Bersambung.


.........


 


 


Jangan lupa bantu VOTE dan Like nya ya. Terima Kasih 😍🥰🙏