My Chosen Wife

My Chosen Wife
RENCANA LANJUTAN.



 


 


"Baiklah.. Rencana berikutnya, jauh lebih cepat dari dugaan kita." Raka menatap dengan kedua mata penuh kebencian.


 


“Benar besan. Terus, apa yang harus kita lakukan?” tanya Leo, yang berdiri di sisi kanan Raka.


 


“Mari kita rundingkan dulu,” kata Raka beranjak dari duduknya, dan  meminta Leo dan Varel mengikutinya. Jadilah ketiganya berdiri, saling berdekatan untuk membicarakan rencana selanjutnya dengan membentuk lingkaran kecil.


 


 


Setelah mendapatkan persetujuan dari ketiganya, mereka kembali ke posisi masing-masing. Ada perasaan takut Ansel, melihat ketiga pria yang di bilang tidak muda lagi, tapi jiwa mereka jauh dari kata tua.


 


 


Raka kembali duduk di bangkunya, di dampingi Leo dan Varel. Kini Leo yang bertugas, mengambil ponselnya dari saku kemejanya dan melemparkannya ke arah Ansel. Bagaikan tatapan tajam burung elang, kedua manik mata Leo di selimuti kebencian. Seperti Ansel adalah mangsanya yang hendak dia terkam.


 


 


“Pakai ponsel saya! hubungi papa-mu!” perintah Leo.


 


Ansel hanya menunduk, dia tidak memberikan respon atas ucapan Leo barusan.


 


“Kenapa Kau hanya diam! Cepaaaat lakukaaaaan!” teriak Leo, seketika itu juga membuat Raka dan Varel kaget.


 


 


“Gila Pak Leo kejam juga.” gumam Varel dalam hatinya.


 


 


Raka yang semula kakinya berada di atas meja yang ada di depan Ansel pun menjadi terangkat karena kaget mendengar suara teriakan Leo.


 


 


“Ehemmmm.” gumam Raka pelan dan salah tingkah.


 


“Buruan lakukan Ansel! Sebelum kamu benar-benar di musnahkan dari muka bumi ini!” kata Varel dengan pelan.


 


 


“Paman! Tolong bantu keponakanmu!” isak tangis Ansel terdengar getir.


 


 


Varel tertawa kecut. “Jangan memanggilku Paman! jika kau tidak mau menuruti perintah kami di sini! Sadarlah, Kau tidak bisa di jadikan umpan oleh Papa-mu! Kelakuan Papa-mu itu tidak bisa teramaafkan oleh kami lagi, Ansel. Jadi, jangan tutup-tutupi  kesalahan Papa-mu, harusnya kau tidak seperti ini , bila papa-mu tidak memanfaatkan-mu dan menanamkan kebenciannya dalam diri kamu sejak kecil Ansel. Jadi saya mohon, ikuti semua perintah kami. Kau tidak punya banyak waktu untuk berpikir.” kata Varel dengan sangat serius.


 


 


“Berikan nomer ponsel Papa kamu si Valdi!” perintah si Leo lagi.


 


“Tunggu Leo! beritau tugas Ansel, saat dia menghubungi Valdi.” kata Raka dengan aura dingin.


 


Leo pun mendekat ke Ansel.


 


 


“Katakan ke pada papa-mu, kau butuh strategi baru untuk mendapatkan Vara, karena ini masalah yang sangat urgent. Katakan padanya, kalau Vara akan menikah dengan Harsen, anak dari pengawalnya Tuan Raka. Dan kau, sangat bingung untuk mengatasinya sendiri. Karena masalah ini benar-benar sangat membuat-mu frustasi. Karena waktumu sudah tinggal dua minggu lagi, jadi kau butuh strategi baru untuk menggagalkan pernikahan Vara dan Harsen, karena itu Kau akan kembali ke New York. Untuk berjumpa dengan Papamu yang bertujuan untuk membicarakan hal ini. Lakukan sesuai yang saya katakan! Jika kau tidak melakukan sesuai yang ku katakan barusan! jangan berharap, semua keluarga-mu termasuk adikmu si Zahra, akan menjadi bagian pemabalasan yang kau perbuat atas anakku dan yang lainnya!” ancam Leo dengan kedua matanya yang tajam


 


 


“Apa kau paham!” Raka mencoba memastikan.


 


 


Ansel menganggukan kepalanya.


 


“Baiklah, pakai ponselnya saja Leo! biar lebih meyakinkan.” perintah Raka ke Leo.


 


 


Dengan secara paksa, Leo mengambil ponsel dari saku celana Ansel. Lalu menyalakan ponselnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Ansel. Ansel benar-benar pasrah, dia tidak tau harus melakukan apapun lagi. Karena baginya, menyadari kengerian Raka, menjadi ketakutan sendiri bagi dirinya. Teringat setiap ucapan Harsen yang sudah  memperingatinya sedari awal. Tapi, dia tidak percaya, hingga dia bisa merasakan sendiri, bagaimana Raka bekerja secara halus untuk melakukan pembalasan dendamnya. Ansel mengakui itu, mengakui setiap aura dingin dan kekejaman Raka.


 


 


Setelah ponsel Ansel aktif dengan sempurna, Leo menyentuh layar ponsel Ansel dan menggulirnya ke arah buku kontak Ansel.


 


“Siapa namanya?” tanya Leo datar.


 


“Mr.Val” ucap Ansel.


 


Dengan cepat Leo mencari dan langsung menyentuh tombol panggil hingga mengaktifkan mode speaker.


 


“Bicaralah! jangan melenceng dari setiap yang Saya katakan tadi!” ancam Leo lagi.


 


 


 


 


“Hallo Anakku.”~Valdi.


 


 


Varel yang untuk pertama kalinya mendengar suara Valdi, setelah puluhan tahun lamanya tidak pernah mendengarnya lagi, mengepalkan kedua tangannya. Mengingat setiap perbuatan Valdi terhadap dia dan keluarganya, hingga ke anaknya. Merasa sangat menjijikkan untuk Varel. Masih mendengar suara Valdi yang dengan santainya menjawab panggilan Ansel. Sungguh tidak punya hati, pikir Varel. Anak yang tidak tahu-menahu kisah masa lalu mereka, pun turut di seret dalam masalah mereka pikir Varel.


 


“Paaaa…..”~Ansel.


 


Ansel mengucapkan semuanya sesuai yang di katakan Leo tadi, hingga terjadilah kesepakatan antara Valdi dan Ansel untuk bertemu di kediamannya di New York.


 


“Baiklah, urus semua keperluan Ansel, suru orang-orang-mu juga Leo. Besok kita langsung berangkat menuju ke New York.” perintah Raka.


 


“Baiklah besan, “ jawab Leo.


 


“Oh ya! satu lagi, perintahkan Rans untuk memindahkan Ansel ke Vila saya. Tetap amankan dia jangan sampai kabur. Berikan makan dan minunya dengan cukup. Jadi, besok kita berjumpa di Bandara dan langsung terbang ke New York. Selebihnya, biar Frans yang bertugas memegang kendali bersama Rava salama kita tidak ada.” kata Raka serius.


 


“Baiklah besan.” jawab Leo.


 


“Okey, mari kita kembali untuk membicarakan ini ke keluarga kita, sebelum  semuanya di jalankan.” ungkap Raka sambil beranjak dari duduknya, karena Raka dan yang lainnya juga belum mengatakan apapun dan belum mendapatkan izin dari sang Istri.


 


 


“Tuan Raka!” panggil Ansel dengan kuat.


 


Raka  berbalik dan menatap ke Ansel, keningnya mengerut.


 


“Tolong jangan sakiti Papa Edward dan keluarganya. Mereka tidak ada hubungan-nya dengan perbuatan saya. Tolong jangan sentuh mereka, saya mohon Tuan Raka. Biar saya saja, saya saja yang tanggung.” mohon Ansel dengan getir.


 


Raka hanya menatap kesungguhan Ansel yang meronta dalam kesedihannya. Rasa-rasanya, saat dia memandang Ansel, mengingat anak-anaknya yang tumbuh dewasa dengan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya, berbeda dengan Ansel. Bahkan orang tua angkatnya saja, lepas tangan akan perbuatannya. Bagaiamana dengan orang tua kandungnya? Mamanya saja dia tidak tau entah di mana, sedangkan Papa kandungnya, menjadikan anaknya sendiri umpan untuk melancarkan pembalasan dendamnya terhadap Raka dan neneknya.


 


Sangat di sayangkan bagi Raka, Ansel anak yang menjadi tumbal, bahkan korban dari semua kesalahan di masa lalu. Betapa menjijikkannya si Valdi, batin Raka. Bukan hanya Raka, Varel pun begitu, sangat tidak masuk akal baginya. Meskipun Valdi adalah kakak tirinya, yang namanya seorang kakak, tetaplah kakak yang memiliki hubungan darah dengannya, dan Ansel adalah keponakan yang malang dalam pandangannya.


 


 


Tak harusnya, Ansel hidup dengan kebencian. Dia harusnya menerima cinta dan kasih sayang. Tapi Valdi kejam, tidak memiliki hati nurani. Bagaimana bisa memberikan cinta  untuk anak semata wayangnnya. Kebencian sudah seperti duri yang mendarah daging dalam kehidupannya, hingga orang terdekat menjadi korban dari setiap perbuatannya.


 


“Tenang saja! Saya hanya berurusan dengan Papa-mu!” balas Raka kemudian dia berjalan di ikuti Varel dari sisa tatapannya ke Ansel. Ansel membalas tatapan Verel hingga Varel membuang pandangannya dan berjalan di belakang Raka.


 


Sisa Leo yang akan menjalankan seluruh team keamanan dan orang-orang-nya yang sudah bersiap untuk menjalankan tugas dari Raka. Seluruhnya yang mereka perlukan untuk rencana selanjutnya di New York.


 


“Mari kita sudahi ini semua.”


 


 


 


 


 


Bersambung.


***


Saya butuh Like dan VOTE kalian ya, biar semakin semangatttt . Terima kasih ^^