
Sore hari di mana Rava bersama Harsen tiba di kediamannya, dengan rasa lelahnya dia berjalan masuk di ikuti oleh Harsen. Harsen juga turut tinggal satu atap dengan Rava. Sesampainya di ruangan tamu, asisten rumah tangga Rava bernama bu Tarni berjalan mendekati Rava dan Harsen.
"Tuan muda." panggil Bu Tarni. (Saya ubah sesuai saran dari pembaca)
"Ya Bu... ada apa?" Rava menoleh ke Bu Tarni.
"Kak... Harsen duluan, ya." ucap Harsen pamit.
"Baiklah... Sen duluanlah." ucap Rava.
Seusai Harsen berjalan ke atas, Bu Tarni memberikan satu paket berbalutkan pelastik.
"Tuan muda... Tadi ada kurir yang mengantarkan paket ini di tujukan untuk Tuan Muda Rava." ucap bu Tarni.
Rava mengambilnya seraya membaca isi tulisan di atas paketannya, "Terima kasih Bu." balas Rava.
"Sama-sama Tuan. Oh ya... apakah makan malam sudah bisa saya hidangkan, Tuan?" tanya Bi Tarni.
"Hemmm nanti saja dulu Bu, biar saya memanggil adik-adik saya dahulu." balas Rava dengan tersenyum.
"Baiklah... Tuan Muda. Saya permisi." balas Bu Tarni seraya kembali ke dapur.
Rava masih memandangi kotak yang terbungkus dengan pelastik hitam. Mengamati nama pengirim yang belum sempat terbaca olehnya. Lalu dia mendapatinya di sudut paling bawah "Renata?" tanyanya seolah berpikir dengan menapaki anak tangga.
"Bukankah orangnya sudah enggak ada? Kenapa paketannya baru sampai?" tanya Rava sendiri.
Tampak dari pinggiran lantai atas, Vara dan Defan bersamaan menatapi Rava yang berjalan ke atas dengan mengoceh sendiri.
"Sepertinya kak Rava sudah gila." celetuk Defan.
Vara menoleh ke Defan dan tertawa, "Gila karena cinta." sambung Vara.
Keduanya tertawa bersamaan, lalu saat tiba-tiba vara tersadar, dia terhenti dari tawanya, "Sejak kapan kita akur?" tanya Vara ke Defan.
"Sejak negara Api menyerang." balas Defan cepat, mendapatkan lototan dari Vara.
Rava melihat keberadaan kedua adiknya dengan cepat Ia berjalan hingga sampai ke atas.
"Halo Kak." sapa Vara dengan senang.
"Halo Kak." sambung Defan.
"Haiiii kalian berdua... Sejak kapan berdiri di sana?" tanya Rava dengan mata tak berkedip.
"Sejak kak Harsen baru masuk ke kamarnya." balas Vara dengan semangat , "Oh ya... Apa yang kakak bawa?" tanya Vara dengan melihat kotak yang di balut dengan pelastik.
"Paketan dari kak Renata." balas Rava seadanya, lalu berjalan melewati Defan dan Vara menuju kamarnya.
Vara bersemangat mendekati Rava, "Uwoooowww.... Kak Renata romantis banget, orangnya sudah terbang , paketannya sampai di rumah sang kekasih."
Rava tersenyum, lalu tiba di depan pintu kamarnya langsung saja Ia membuka pintunya dan saat menoleh ke belakang, Vara masih berdiri di depan kamarnya.
"Kenapa enggak masuk? Masuklah." perintah Rava.
"Benarkah boleh?" Vara bersemangat.
"Bolehlah... Ayo sayang sini, kakak juga mau ngomong sama kamu." ucap Rava.
Vara bersemangat masuk ke dalam kamar Rava tak lama tampak Defan ikut masuk. Rava meletakkan paketannya di atas meja lalu menoleh pada kedua adiknya.
"Siapa yang menyuruh kamu masuk, Defan?" tanya Rava dengan mendekati keduanya.
"Ada tadi kak... tadi ada yang manggil-manggil Defan katanya bole masuk." balas Defan.
Rava mengernyitkan keningnya, "Iya siapa?"
"Bayangan kak Rava." balasnya lagi.
"Hah... Kau ini mengada-ngada saja. Sudahlah... Kalau begitu. Kalau Aku mengusirmu, pasti kau akan merengek di depan pintu. Membuat ku repot saja." balas Rava lalu Ia mencari bangku kecil dan memindahkannya ke arah tepat di depan Defan dan Vara yang duduk di pinggir ranjang Rava.
Defan dan Vara yang melihat tingkah aneh kakaknya penuh tanda tanya di dalam diri keduanya. Mau apa sih Rava pikir mereka.
"Jadi begini... Karena kalian berdua adalah adik yang sangat kakak sayangi, ya termasuk Harsen juga . Kakak mau meminta pendapat dari kalian." ujar Rava.
"Apa itu Kak?" tanya Vara bersemangat.
"Iya Kak.. Apaan. Siapa tahu kita bisa bantu Kak Rava." Defan menimpali.
Tokkkkkk.... Tokkkkk....
"Biar Defan yang buka, Kak." ucap Defan seraya berdiri dan berjalan membukakan pintu. Tampak Harsen yang menggunakan stelan rumah dengan atasan panjang cream dan bawahan panjang hitam dengan rambut setengah basah berjalan masuk ke kamar Rava.
Vara terpukau dengan mulut yang mengangah melihat Harsen yang berjalan dengan elegannya. Rava yang melihat ekspresi berlebihan Vara buru-buru mendekati sang adik dan menutup matanya dengan tangan Rava.
"Keganjenan!." bisik Rava.
"Wuahhhh... Kak Harsen tampan sekali. Pantesan saja Vara jatuh cinta dengan Kakak." celetuk Defan dengan santainya, saat Harsen sudah bergabung di depan Vara dan Rava.
Harsen menoleh ke Defan dengan mata yang di besarkan.
"Mulutmu Defan!!! jangan melebih-lebihkan, siapa yang bilang Aku jatuh cinta dengan Kak Harsen." ucap nya dengan sinis.
Kali ini mata Harsen berpindah ke Vara, lalu menatap Rava yang hanya menyimak pembicaraan ketiga adiknya.
Defan berjalan ke arah mereka, menunjuk Vara dengan jari telunjukknya seakan tidak terima dengan ucapan Vara, "Bukankah waktu itu Kau yang katakan padaku? Kau bilang Kau sangat mencintai kak Harsen, hanya saja cintamu bertepuk sebelah tangan. Bukankah itu mulutmu Vara?" ucap Defan menggebu-gebu.
Vara memalingkan wajahnya dengan mata yang di pejamkan dan menyentuh keningnya.
Awassss saja Kau Defan, Kau membongkar rahasiaku. Memalukan sekali!!!!
"Benarkah itu Vara?" tanya Rava yang duduk di sampingnya, lalu menatap ke Harsen, "Benarkah kau membuat cinta adikku bertepuk sebelah tangan Sen?"
Harsen menjadi gugup, "A...Aghhh... Bukan seperti itu Kak" ucap Harsen dengan mengangkat kedua tangannya.
"Terus.... Apa maksud yang di katakan Defan?"
"Kak Rava... Harsen tidak pernah menggantung perasaan Vara. Hanya saja, Harsen tidak berani kak, kan kakak tahu sendiri, Harsen hanyalah seorang bawahan, masa iya berani meminta lebih dari itu kak? terus Vara juga masih kuliah, Harsen tidak ingin mengganggu pendidikannya." jelas Harsen.
"Sen....Kakak enggak mau tahu soal itu. Jika kalian saling suka, kakak akan mendukung kalian, soal bawahan, itu semua sudah di atur oleh Buyut dan Papa. Cuma Kamu yang terpilih dengan mereka untuk mendampingi Kakak ataupun Vara." balas Rava, "Kenapa kakak jadi mengurusi masalah kalian? Tujuan kakak pada kalian kan, ingin meminta pendapat kalian." ucap Rava dengan menyentuh kepalanya.
Defan menahan tawa, Harsen semakin bingung, Vara masih malu-malu.
"Kakak mau bilang apa? katakan." ucap Vara tanpa menoleh ke Harsen, purak-purak menutupi malu .
"Soal lamaran dan pernikahan. Bagaimana menurut kalian? tadi mama telepon kakak saat di perusahaan. Papa mau... Tidak perlu untuk mengadakan lamaran. Papa mau Kakak dan Kak Rena langsung menggelar pernikahan. Nah... di sini kakak minta pendapat kalian satu persatu." ucap Rava.
Ketiganya mencoba mencerna perkataan Rava barusan, tiba-tiba Harsen duluan mengemukakan pendapatnya.
"Ada baiknya yang di katakan Paman Raka, Kak. Lebih baik langsung menikah, bukankah kalian sudah saling mengenal sedari kecil? Buat apa lagi membuang waktu." ucap Harsen.
Vara yang mendengarkan ucapan Harsen ikut komat-komit seakan sangat kesal dengan menatap tajam ke Harsen.
Kalau bilangin orang sekaan dia sangat keren. Tetapi teruntuk dirinya sendiri, di cintai oleh wanita sepertiku, malahan tidak di syukuri. Aku kan pantas menjadi pendamping dari seorang Harsen. Anak tunggal, dan aku anak paling kecil, apa yang salah ? terus saja mengalaskan semuanya dengan pendidikan ku. Kau TIDAK tahu apa? Aku ini anak semester akhir! tentu saja Aku harus berjuang menyelesaikan pendidikanku. Cih... sungguh sangat menjijikkan.
Saling memandang, Vara yang berbicara dengan hatinya tersadar Harsen menangkap pandangannya.
"Heyyyyy... bagaimana denganmu!" Rava menyenggol tubuh Vara.
"Nikah saja kak! Jangan banyak alasan , jadikan langsung." kata Vara masih menatap kesal ke Harsen.
Harsen sangat ingin tertawa melihat tatapan Vara, hanya saja Ia menahannya.
"Kalau Def—."
"Belum di tanya, sabar dulu, jangan terlalu nafsu." ledek Rava ke Defan.
"Kakak!" rengek Defan sedih.
"Bagaimana pendapat kamu Defan?"tanya Rava dengan menahan senyumannya menatap Defan purak-purak kesal.
"Sama!" balasnya kesal.
"Gitu saja Kau merajuk." ucap Rava ikut kesal.
"Kakak" panggil Defan sedih.
"Apaa!" kata Rava nyolot.
"Ini kak jawaban Defan di dengar dong, kan Defan berhak juga memberikan pendapat." balasnya dengan wajah sedih.
"Ya sudahlah buruan." balas Rava malas.
Defan bersemangat mengatakannya, "Jawaban Defan sama, menikah saja langsung, bulan madu dan punya anak, bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya Defan.
Vara yang mendengar ucapan Defan ikut bersemangat, "Benar itu kak.... sangat benar, berikan Vara keponakan yang banyak untuk Vara." sambung Vara dengan mata berbinar.
Rava memasang wajah kesal, "Kenapa gak kau saja yang menikah dan buatlah banyak anak bersama Harsen, argggggghhhh....Sudah... sudah. Kalian keluarlah, bubarrr... Kenapa kalian semua jadi ngelantur!" Rava benaran kesal, seakan kepalanya panas, ada bara api yang membakar kepalanya.
Semuanya menatap takut , lalu berjalan cepat menuju pintu keluar, terutama Vara dan Defan yang buru-buru lari karena tahu Rava kesal dengan keduanya. Sedangkan Harsen hanya santai seperti di pantai. Dia tahu, Rava sedang bingung sendiri.
.
Tekan like dan jangan lupa bantu Vote :)