
Saat Rava dan juga Varel keluar dari ruangan Renata, seluruhnya mendekat pada keduanya.
“Bagiaman Kak?” tanya Eva yang paling cepat duluan mendekati Varel.
“Renata sudah sadar Eva, dan sedang di periksa oleh Dokter,” jawab Varel, dengan refleks Eva memeluk tubuh Varel.
“Syukurlah Kak, aku turrut senang atas sadarnya Renata.” Eva memeluk dengan penuh kasih, saat Varel akan membalas pelukan Eva, dengan cepat Raka menarik tubuh Eva dan menggantikan pelukan Varel dengan dirinya.
“Aku juga turut bahagia untuk kamu Rel,” ucap Raka dengan menepuk-nepuk pundak Varel.
Varel dan yang lainnya tersenyum terkecuali Eva dia menatap sinis pada suaminya, apa lagi mereka sangat tahu betul sifat Raka yang pencemburu itu, “Hahahah.. Terima kasih, pak Raka.” Katanya dengan membalas pelukan Raka dengan erat, sampai Raka tidak percaya dengan yang di perbuat Varel pada dirinya.
“Hahahah.. iya sama-sama, lepaskan aku.” balas Raka dengan mencoba menarik tangan Varel.
“Bagaimana dengan Renata, Rava?” tanya Jimmy yang mendekati Rava.
“Dari yang Rava lihat sih baik-baik saja, Paman. Tidak ada masalah, tapi enggak tahu sedang dalam pemeriksaan.” Rava menatap Jimmy dengan rasa santainya.
“Renata mengingatmu kan? Tidak lupa ingatan, kek film apa ya namanya, paman lupa judulnya apaan.” Seru Jimmy dengan menggaruk kepalanya.
“Kau itu.. korban film sayang,” Anna tiba-tiba mendekat dan menimpalinya.
“Siapa tahu aja kan sayang? Bagaimana Renata, Rava?” tanya Jimmy lagi.
Rava tertawa kecil, raut wajahnya sudah sangat berubah dari sebelumnya, “Renata mengingatku Paman, Tante Anna. Kami semua di ingatnya, enggak tahu kalau paman Jimmy,” ledek Rava.
Jimmy mengerucutkan bibirnya dengan mata yang menyusuri mata Rava, “Sementang kau sudah lega dengan sadarnya Renata, sekarang kau bisa meledekku. Kau mau minta Paman cium?”
Rava refleks menjauhkan wajahnya, “Enggak Paman, dari pada paman yang cium bagusan tante Anna, Rava enggak nolak, karena tante Anna kesayanganku dan juga Renata.”
Anna tersenyum lalu menarik tubuh Rava dan memeluk anak si Eva yang sudah di anggapnya sebagai keponakannya juga.
“Sayang… Tante mendukungmu, kau harus berusaha ya untuk mendapatkan Renata, semoga Renata tidak lagi melepaskanmu.” ucap Anna.
Rava tersenyum dan membalas pelukan Anna, dengan mengelus punggung sang Tante dia berkata, “Terima kasih Tante Anna, dirimu memang sangat baik ,”
“Sudah-sudah, aku ngiri ini.” sindir Jimmy.
“Kenapa kau cemburuan Jim?” sambung Raka yang sedari tadi melihat ke mereka, dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
“Aku..? Bukankah Pak Raka juga seperti itu?” tanya Jimmy balik ke Raka.
“Aku? Apa iya aku seperti itu?” balas Raka dengan tatapan tajam ke Jimmy.
“Benarrr… Bukankah kau tadi juga menarikku saat aku memeluk kakaku sendiri?” ini Eva yang jawab dengan ganas, maatanya menatap sinis ke Raka.
Semuanya sudah menahan tawa, takut kena semprot oleh Raka. Raka menoleh ke seluruh orang yang di sekitarnya dan mendekati Eva.
“Sayang… kenapa kau tidak membelaku?” bisik Raka yang tiba-tiba mendekat pada Eva.
“Kau itu tidak pantas di bela, kau sangat emosian, cemburuan, aku sangat gemas denganmu!,” bisik Eva dengan penekanan, dengan gigi yang di rapatkan, lalu usai berbisik dengan Raka, Eva pura-pura tertawa, agar yang lainnya tidak curiga.
Raka menelan salivanya, merasa takut mendengar suara sang istri yang sudah penuh penekanan di setiap kata-katanya. Tak lama, Dokter dan team medis lainnya keluar dari kamar Renata, dengan cepat Rava dan Varel mendekat pada mereka,
“Bagaiamana keadaan Renata, Dok?” Rava dengan bersemangat menuggu jawaban Dokter.
Dokter yang berjenis kelamin Pria itu tersenyum sebelum menjawab, “Semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tetapi besok akan kita lakukan CT Scan pada pasien, agar hasilnya lebih akurat.” jawaban Dokter membuat seluruhnya mengucap syukur.
“Baik Dokter, Terima kasih atas pelayanan Dokter yang sangat maksimal untuk anak saya,” ucap Varel bahagia.
“Sudah tugas kami Tuan, silahkan masuk. Saya izin,” balas sang Dokter.
“Rava… Izinkanlah paman untuk masuk kedalam,” ucap Jimmy memohon.
“Ayooo.. kita semua masuk. Kan ini kamar VIP, dan sedang tidak ada perawat.” Rava sangat bersemangat, “Ayo.. Ma.” ajak Rava dengan merangkul pundak sang Mama.
Raka dengan bibir manyun, mengikuti dari barisan paling belakang masuk kedalam kamar Renata. Mana Eva sedari siang itu tidak banyak bicara pada dirinya, saat makan juga pada diem-dieman. Tega benar Eva kalau dia sudah kesal, Raka tersika batin dan pikiran.
“Hallo Renata,”seru Jimmy dengan girang mendekat pada Renata, Renata menatap aneh pada semua orang yang berada di sana. Casandra sendiri, tetap tidak berpindah dari ranjang sang anak, bnegitu pun Rava dia mendekati Renata dengan menatap wajahnya penuh senyuman.
“Rava… Ini siapa? “ tunjuk Renata pada Jimmy.
Rava dan Jimmy saling memandang, enggak sangka ucapan Rava tadi benaran terjadi, yang lainnya pun saling memandang bingung.
“Apa kau tidak mengenal pamanmu yang paling tampan ini?” tanya Jimmy penuh harap.
“Kau tahu siapa aku, Renata?” Raka berjalan mendekati Jimmy dan menyenggol Jimmy untuk pindah, Jimmy yang sedih pun berpindah dari posisinya.
“Paman Raka,” balas Renata dengan suara yang sudah kembali seperti semula.
“Kalau, Saya?” giliran Anna yang berdiri di samping Raka.
Rava sendiri, sedari tadi menahan tawanya pada Jimmy, yang melihat dengan wajah sedihnya.
Eva berjalan ke samping Anna dengan senyuman hangatnya, “Apa kau mengenalku sayang?” tanya Eva dengan lembut.
Renata menatap Eva dengan dalam, lalu ia berpindah menatap Rava, Rava pun tersenyum membalas tatapannya.
“Bibi Eva, calon mertuaku yang sangat menyayangiku.” Renata berkata dengan jujur.
Jimmy dengan cepat mengambil giliran lagi, berdiri di samping Eva, “Kalau aku? Apa kau sudah mengingatnya?” tanya Jimmy dengan menunjuk wajahnya.
Renata memiringkan kepalanya, serta menggaruk-garuk kepalanya, “Paman? Siapa ya? Apa aku dekat dengan Paman? Apa aku mengenal Paman? Apa jangan-jangan Paman itu yang tukang potong rumput ya?” tanya Renata mengundang tawa orang-orang yang ada di ruangan.
Jimmy kembali memasang wajah sedihnya dan meringis lalu ia berkata, “Iya.. Paman tukang potong rumput , di rumah Lee Min Ho, Renata. Kenapa kau sangat tega sama Paman mu sendiri, aku ini orang yang sangat dekat denganmu, kau itu sering curhat tentang Rava, semuanya kau ucapkan sampai pada rahasiamu, rahasiamu yang sangat kau takutkan untuk di ketahui orang banyak. Apa perlu paman katakan agar kau mengingatnya?”ancam Jimmy dengan wajah meringis seraya mengangkat kedua alis matanya.
“STOP Paman, aku mengingatmu, Paman Jimmy.” ledek Renata yang sudah takut dengan ancaman Jimmy.
Jimmy mendekati Renata, dan mencubit pipinya.
“Awwwww.. Sakit paman, Tidak lihat apa? wajahku yang cantik ini lebam,” seru Renata, tidak terima. Sedangkan Rava melirik tajam ke Jimmy, begitupun dengan Varel.
“Apaaa.. Kalian dua! Mau marah padakau! Anak dan kekasihmu ini, sangat tidak sopan kepadaku! Kalian tahu, dia sampai menangis padaku menceritakan kisah pilunya, dan sekarang dia mengerjaiku, kalian semua di ingatnya, sedangkan aku tidak. Apa aku bakalan percaya begitu saja? Aghhh.. kau ini, syukur paman memiliki senjata ampuh tentang kelemahanmu itu.” ujarnya dengan kesal.
“Sudah paman, minum dulu. Jangan marah-marah terus ke Renata, dia kan baru sadar,”sambung Rava dengan mengambil segelas air.
Jimmy dengan cepat meneuguk habis minumannya dan, mengembalikan gelas itu pada Rava.
“Apa kau sudah tenang , Jim?” tanya Raka.
“Sudah Pak, Saya sangat puas malahan.” jawab Jimmy menyekah mulutnya.
“Terus.. katakan pada kami, apa rahasia anakku padamu, Jim?” Casandra membuka suaranya.
“Mami.. jangan dengarkan Paman, Paman hanya bercanda.” Renata menarik tangan maminya.
“Tapi sepertinya itu sangat serius sayang. Buktinya kau langsung mengingatnya, berarti itu benar adanya. Buruan Jimmy, katakan apa rahasia anakku padamu.” Casandra menatap galak pada Jimmy.
“Dih.. biasa aja dong kakak ipar, matamu nanti bisa keluar. Hilang dong nanti statusmu sebagai mata Valak.” Sindir Jimmy ke Casandra.
“Yeee.. Lo kok cerewet amat sih Jim, Anna buruan suru suamimu ini, mengatakan rahasia dia dan anakku.”
“Kakak.. namanya juga sudah rahasia. Biarlah itu antara Jimmy dan anakmu.” Anna menatap Casandra dan tersenyum pada Renata.
“Benar itu Bi, Renata setuju pada Bibi Anna.”ucap Renata dengan cepat.
Seluruh sahabat itu pada rceok dengan rahasia si Jimmy dan Renata itu, tetapi Rava mendekatkan wajahnya ke Renata mengalihkan perhatiannya.
“Apa yang menjadi rahasiamu? “bisik Rava ke Renata.
Renata menoleh cepat padanya, “Kau juga, tidak perlu tahu, kau kan bukan siapa-siapaku. Sudah sana, cari pacar barumu.” bisik Renata dengan menajamkan pandangannya.
“Wah.. ternyata kesadaran dan ingatanmu sudah bekerja sama dengan baik,” bisik Rava dengan tawanya.
“Kau pikir, aku bisa melupakan sikapmu, di saat aku tidak sadarkan diri? Di alam sana, kau pun hadir. Membuatku cepat-cepat ingin tersadar, apa kau tahu itu?” jawab Renata dengan kembali berbisik lagi.
“Apa kau mau membalas dendam padaku?” tanya Rava dengan berbisik dengan menyunggingkan senyuman hangat pada Renata.
“Tentu saja! Akan aku balaskan semua perbuatanmu,kau tahu itu semua sangat sakit, jadi jangan tersenyum manis seperti itu,mengingatkanku saja dengan si Manis di rumahku.”
“Wah.. Nona Renata sangat hebat. Kau hebat Renata, kau mau mempermainkan perasanku? Kau tunggu saja, saatnya kau akan jatuh kedalam pelukanku.” Rava mengedipkan matanya.
“Sepertinya kita mengganggu, rasa rindu dari kedua pasangan ini.” Ledek Jimmy, membuat Rava dan Renata menatap pada dirinya.
Betapa kagetnya ternyata sedari tadi, semua pasang mata itu sudah memandangi keduanya, hanya saja keduanya sangat asik sampai tidak mendengar suara yang sudah sepi itu, rava dan renata saling memandang dalam diam. Eva sendiri, merasa sangat bahagia dengan pandangan tadi, membuatnya tersentuh. Jadi kepengen memeluk Raka, tapi gengsi. Karena keduanya masih dalam masa tidak bercakapan.
Eva menoleh ke Raka, Raka menangkap pandangan langsung dari Eva. Refleks, Raka tersenyum pada sang Istri yang masih menatap tajam padanya. “Apa!” kata Eva tanpa suara. Langsung saja Raka membuang pandanganya dan terdiam, karena ia benaran sangat takut, kesalahannya menurut Eva sangatlah fatal.
“Bang Rakaaaaaaa”
Tiba-tiba dari arah belakang, pintu masuk seorang Pria berseru dengan lantang dan berlari mendekati Raka dan diikuti oleh yang lainnya masuk kedalam. Raka yang barusan berbalik tercengang dengan matanya yang terbelalak, Raka mematung sekejap. Dengan cepat pria itu memeluk erat tubuh Raka.
“Aku merindukan dirimu, Bang.”
Bersambung.
Hayooo.. Siapakah dia? Jangan lupa tekan like dan Vote nya ya. Mon Maaf, enggak mau emak taruh iklan, walupun banyak yang suka ada iklannya, mak kalau ada yang baperan jadi malas. Jadinya emak gak letak iklan lagi ya, puas kan lo! Udah gak Vote baper lagi, da agh.. Terima kasih semuanya atas Tips koin, like dan Votenya, semoga sehat selalu. Sampai jumpa di hari senin lagi ^^