My Chosen Wife

My Chosen Wife
JAKARTA.



Satu minggu kemudian, di mana Defan dan juga Vara sudah menyelesaikan masa-masa ujian mereka, dan mereka juga sudah libur panjang, kabar kepulangan mereka sudah terdengar ke seluruh anggota keluarga mereka.


 


 


Rava memilih keberangkatan di malam hari, karena memang Rava lebih suka aja, karena biar ngantuk dan bisa tertidur selama di penerbangan. Seluruhnya sudah bersiap di dalam pesawat yang mereka tumpangi, Rava duduk di samping Defan, karena dia tidak mau memisahkan Vara dan Harsen yang berstatus kekasih itu.


 


Mungkin Rava sadar dirilah, namanya juga dia sedang di ambang masa pacaran, sama seperti Harsen dan juga Vara. Meskipun keduanya biasa saja di depan Rava, tapi ya Rava mengerti akan bahasa tubuh keduanya. Syukur Rava sadar, sehingga Ia harus mengorbankan dirinya duduk di berdamping dengan Defan, yang manjanya kelewatan.


 


"Kak Rava..." panggil Defan ke arah Rava yang sudah menutup matanya.


 


"Hemmmm." balas Rava, tanpa membuka matanya.


 


"Kak... Defan ada panggilan ke toilet." kata Defan dengan meringis.


 


"Terus... Apa hubungan dengan Kakak?" tanya Rava dengan suara datarnya.


 


"Temani dong Kak," balas Defan tidak sabaran, karena sudah menahan panggilan alamnya sedari tadi.


 


Rava mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke Defan, "Kau ini sudah besar Defan, masa iya Kakak harus menemani kamu terus? Gimana sih kamu ini Fan? Kamu itu berjenis kelamin pria, harusnya pemberani dong." ucap Rava dengan menajamkan matanya.


 


Defan memasang wajah becut di depan Rava, "Kalau kakak enggak mau temani Defan, Defan akan pipis di sini!" ancam Defan dengan meringis.


 


Rava yang mendengar ancaman Defan di buat kesal, rasanya pengen kali si Rava mentoyor kepala si Defan biar isi kepalanya bisa di perbaharui. Vara yang mendengar ocehan keduanya mendekat.


 


"Ada apa sih? kenapa kalian berdua akur sekali?" ledek Vara.


"


Nih... Urus sepupu kamu ini Vara! Masa cuma mau ke toilet mesti kak Rava ikutan. Bukankah minta di gampar itu namanya?" cetus Rava ke Vara.


 


Vara menahan tawanya, "Apa kau sudah gila Defan? kau itu bukan anak-anak dan kak Rava bukan bapak-bapak yang menemani anaknya berpergian! Kau jangan buat malu keluarga kita! sudah sana... posisi toilet tidak jauh dari bangku mu ini. Apa susahnya sih!" ketus Vara.


 


"Mana Harsen, suru Harsen temani sepupu somplakmu ini!" kesal Rava di buat si Defan.


 


"Enggak mau! Pokoknya Defan maunya sama kak Rava!" katanya dengan merengek.


 


"Hah... Habis kesabaranku! Baiklah... Baik... ayo jalan!" perintah Rava seraya berdiri dan berjalan ke arah toilet dan di ikuti oleh Defan.


 


Vara di buat tertawa melihat Rava seperti bapaknya si Defan aja pikirnya. Kemudian Vara kembali ke posisi duduknya, di lihatnya Harsen yang tertidur dengan nyenyak. Karena memang jam itu sudah menunjukkan waktu tengah malam, yang di perintahkan untuk tertidur selama di penerbangan.


 


 


Vara mencoba menarik selimutnya dan ikut memejamkan matanya, siapa tahu aja pikirnya bisa berjumpa dengan Harsen di dalam mimpinya. Vara pun tersenyum dengan kedua matanya tertutup. Tak lama Rava dan Defan kembali ke posisi mereka masing-masing, dengan kesalnya Ia menatap ke Defan yang purak-purak tidak melihat ke arah Rava dan menarik selimutnya dan buru-buru memejamkan kedua matanya lalu mengubah posisinya membelakangi Rava.


 


Rava hanya bisa menarik nafas dan menggelengkan kepalanya. Merasa seperti di ledekin oleh Defan, andai saja saat itu adalah dirumah, mungkin kepala Defan sudah menjadi sasaran empuk untuk Rava.


***


Bandara, Jakarta.


 


Keesokan harinya, tepatnya sore yang hampir menjemput senjanya. Pesawat yang di tumpangi Rava dan yang lainnya tiba tepat sesuai dengan waktunya. Tampak wajah lelah di masing-masing penumpang yang ikut terbang bersamaan dengan Rava dan yang lainnya. Vara yang sangat merasa kelelehan dengan raut wajah yang manyun melangkahkan kakinya di tengah keramaian pengunjung bandara yang berlalu lalang.


 


Rava menarik tangan sang adik dan merangkul pundaknya agar Vara bisa bersandar dari lelahnya.


 


 


"Apa sangat lelah?" tanya Rava dengan penuh perhatian.


 


Vara merangkul pinggang Rava, "Iya kak... Sangat lelah. Bolehkah nanti enggak usah kembali lagi kak? perjalanan ini membuat Vara merana." ucapnya dengan sedih.


 


Orang yang melihat keduanya yang sangat mesra itu di pikir adalah pasangan kekasih, sementara sang pujaan hati yang sebenarnya, mendorong koper yang mereka bawa dengan troli, begitu juga dengan Defan, keduanya berada di belakang Vara dan Rava, berjalan dalam diam, karena mata kantuk dan rasa lelah mereka memang benar-benar sangat menyelimuti tubuh mereka.


 


"Sabar sayang... Tidak mungkin Kau tidak kembali, bagaimana dengan persipan skripsimu, sabar hanya sebentar lagi saja. Keluar dari sini, sudah ada yang menjemput kita. Kau bisa melanjutkan tidurmu selama perjalanan ke rumah kita." kata Rava menyemangati.


 


"Baiklah Kak... Oh ya Kak, Apa mata Vara ada lingkaran mata pandanya?" kata Vara menunjukkan wajahnya ke Rava.


 


Rava tersenyum, "Tidak ada... kau ini sangat takut sekali. Hanya satu malam jam tidurmu tidak baik." kata Rava dengan santainya, walaupun dia lelah, dia tidak ingin memperlihatkan pada adik-adiknya.


 


"Benarkah? kakak tidak tahu , berapa banyak uang yang harus Vara keluarkan untuk melakukan perawatan pada kulit wajah Vara. Walaupun papa, mama dan kak Rava banyak uangnya, semampu Vara, Vara tidak akan meminta di luar dari jajan bulanan dari kalian semua." kata Vara dengan manjanya.


 


Rava mengacak rambut Vara, "Kau memang sangat mandiri sekarang. Tetapi jika butuh, mintalah. Buat apa gunanya kakakmu ini sukses, kan buat kau juga. Apa lagi nanti kau itu sama dengan Renata yang menyukai yang namanya shopping di mana-mana, jangan kau pikir kakak tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini." ucap Rava dengan tersenyum.


 


Vara memutar kedua bola matanya, merasa kedapatan dan kemudian, "Kakak... Itu kak Renata!" tunjuk Vara dengan histerisnya.


 


Renata yang dari kejauhan itu juga sama sudah melihat kedatangan keempatnya. Renata melambaikan tangannya ke arah mereka yang di balas oleh Vara dan juga Defan, lalu berjalan seakan ingin mendekati mereka.


 


 


Defan yang tahu itu Renata dengan cepat dia mendorong trolinya mendahuli Vara dan juga Rava. Rava yang melihat ke arah Defan yang sudah bersemangat ke arah Renata, melepas pelukannya dari Vara dengan perlahan, dan mengejar Defan yang hampir sampai di depan Renata. Dengan kecepatan angin tornado , memecah kerumunan orang sekitarnya, akhrinya Rava mendapati kaos Defan dan menarik Defan untuk mundur dari hadapan Renata yang sudah membuka kedua tangannya ingin memeluk Defan.


 


 


"Lepaskan Kak!" ucap Defan dengan meronta-ronta.


 


 


"Enggak boleh! Aku kekasihnya, tentunya harus aku yang duluan memeluk." ucap Rava yang dengan cepat menyambut kedua tangan Renata yang terbuka dan memeluknya erat.


 


Renata memeluknya sangat erat serta tersenyum melihat tingkah Rava yang cemburuan itu.


 


"Kau sangat manja! Bukan hanya manja , tapi sangat cemburuan pada adikmu sendiri." kata Renata tepat di samping kuping Rava.


 


Rava tersenyum, "Biarin aja! dia enggak tahu apa, Aku ini kekasihmu! seharusnya aku dong yang duluan memelukmu, kenapa jadi dia?" balas Rava tidak terima.


 


"Iya... Iya.. Aku mengerti. Sudah... semuanya sudah berkempul. Izinkan aku memeluk mereka," ucap Renata dengan perlahan melepas pelukannya.


 


Defan cemberut, "Kenapa kak Rava ini semakin mengesalkan saja!" ujarnya dengan bibir manyun.


 


"Apa kau bilang!" kata Rava.


 


"Ssstt... Jangan berantam, sini Defan." panggil Renata dengan lembut dan meminta Defan membalas tangannya yang sudah siap memeluk.


 


Dengan wajahnya yang sedih, Defan membalas pelukan Renata, "Defan rindu dengan kak Renata." kata Defan manja.


 


Renata mengusap tubuhnya dengan lembut, "Kakak juga Defan." balas Renata.


 


Dengan cepat Rava menarik tangan Defan yang memeluk Renata, "Sudah... Sudah...Jangan lama-lama. Bergantianlah dengan Vara." perintah Rava


 


Defan benaran kesal, matanya menatap Rava dengan tajam, dan Rava yang sadar akan tatapan Defan dengannya, membalas matanya lebih dari mata Defan yang melotot ke arah Rava. Jadilah Defan menutup matanya sekejap, seperti tatapan sundel bolong pikir Defan.


 


Vara dengan cepat memeluk Renata yang memberikan tubuhnya ke Vara untuk di peluk.


 


"Selamat datang kembali sayang." kata Renata.


 


"Terima kasih, Kakaku sayang. Vara rindu sama kak Renata." ucap Vara dengan membalas hangat pelukan sang calon ipar.


 


"Kakak juga sayang... Bisa dong kita belanja bareng ini." ucap Renata dengan mata yang menggoda.


 


"Benar kak... Agh... Vara mau." kata Vara bersemangat.


 


"Tadi aja katanya lelah, di ajak shopping langsung sadar. Wanita aneh!" celetuk Rava.


 


"Dih kak Rava... Kok mulutnya kek barusan di tampar sama cabe ya. Pedas amat sindirannya, Vara memang cape kok kak. Bukan di buat-buat, kan belanjanya enggak sekarang kak." protes Vara.


 


"Iyalah Iya... Kakak paham, Wanita harus di mengerti." ucap Rava acuh.


 


"Halo Sen," panggil Renata.


 


 


Harsen yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya mendapatkan giliran, Renata mendekati Harsen yang sudah tersenyum ke arahnya. Dengan lembut Harsen membalas pelukan Renata, tanpa berani menatap kakak beradik kandung itu.


 


"Selamat datang adikku, selamat juga atas jadianmu dengan Vara." kata Renata.


 


 


Vara dan Harsen sama-sama saling menatap dengan kagetnya, dari mana Renata bisa tahu kalau bukan dari Rava. Keduanya saling berpindah tatapan mengarah ke wajah Rava yang membuang pandangannya ke arah lain. Seakan Rava tahu, keduanya bakalan langsung tahu siapa dalangnya.


 


 


"Sudah... Pelukannya. Ayo kita pulang, papa dan mama pasti sudah menunggu kita." ajak Rava yang dengan cepat berjalan duluan.


 


 


Renata yang tahu maksud menghindarnya Rava itu di buat tersenyum menatap sang kekasih. Ada-ada saja tingkah para abang beradik itu pikir Renata. Sering bertengkar, bercanda maupun selisih paham, tetap saja mereka akan kembali mesra. Rava memang contoh kakak terbaik buat ketiganya. Meskipun kadang ucapanya menyakitkan, ketiganya sangat mengerti kalau itu hanya sekedar di mulut dan hanya perkataan, tetapi hati dan perasaannya sangat baik dan penyayang.


 


.


Tekan like dan bantu VOTE terus ya All... Pembaca yang baik hatinya, jangan bilang mom ada maunya, ku cium yang komentar itu ya 🤣🤭 . Terima kasih, jika ada kata yang kurang dan lebih tolong di maklumi, karena saya enggak ngetik dari Komputer, akan saya perbaiki segerah jika saya sudah benar-benar enakan. Agak kelelahan... mohon maklum 🙏😘