My Chosen Wife

My Chosen Wife
PENOLAKAN.



"Astaga... Orang-orangan salju? Kenapa dia bisa di sini?" gumam Jimmy, Anna memberikan kode ke Jimmy untuk tidak berbicara.


 


 


"Bang Raka... Aku rindu denganmu. Lama sudah tak ku lihat..." ucapnya ke Raka dengan melantunkan lagu.


 


 


"Tapi aku tidak rindu denganmu!" balas Raka melirik ke Eva yang menatapnya sinis.


 


 


Mata Defan jijik melihat papanya yang sudah tua itu masih manja dengan pamannya. Walaupun tua, Frans masih tampan dan berjiwa muda.Sedangkan yang lainnya menatap aneh ke Frans. James sendiri langsung berlari memeluk Noona nya Renata.


 


 


 


"Lepaskan tanganmu!" Raka memukul tangan Frans yang memeluk dengan sangat kuat, "Kau itu sudah tua! harusnya kau itu malu dong, lihat anak-anak kita semua ada di sini. Sudah sana!" perintah Raka.


 


 


 


Bukannya takut, Frans malahan semakin percaya diri, "Kaliannn semua... Tutup mata kalian! Aku mau melepas rinduku sama abangku tersayang, yang paling tampan sejagat raya." Frans semakin erat memeluk Raka. Raka merasa susah bernafas dengan pelukan adik gilanya. Yang lain masih tidak melepas pandangan geli pada si Frans.


 


 


"Kenapa kau masih saja sekuat ini?" tanya Raka dengan susah payah.


 


 


"Karena aku terus berlatih bang, seperti dirimu. Apa lagi dalam urusan ranjang." katanya lagi dengan pelan.


 


 


"Mama.." panggil Vara mendekati sang mama, lalu menatap pada Renata. Eva menyentuh tangan Vara, dan memberikan semangat untuk sang anak.


 


 


 


Defan sendiri sudah menepuk jidatnya, menahan malu. Salah langkah dia, menginformasikan pada papanya akan kedatangan Raka. Ternyata sang papa langsung terbang menggunakan pesawat pribadinya hanya untuk ketemu Raka, bukan dirinya.


 


 


 


"Eh... Marimar, Tahu malu kenapa sih! Di sini Ramai dan yang sakit itu Renata, keponakanku. Bukan Pak Raka, lo uda tua enggak berubah juga ya!." Jimmy mendekat pada Frans.


 


 


Frans yang mendengar suara Jimmy, sontak melepaskan pelukannya dari tubuh Raka dan menatap ke Jimmy. Refleks Raka mengambil nafas panjangnya, merasa berterima kasih dengan suara si Jimmy.


 


 


"Egh... Ferguso... Kau ada di sini juga? Wah... Aku tidak menyangkah kalian semua di sini, terakhir kali aku berjumpa denganmu, saat Om Jimmy nikahan. Ya kan Om?" ucap Frans dengan mengangkat kedua alisnya.


 


 


James menatap pada Frans, merasa aneh. Karena selama ini, memang Franslah yang enggak pernah di lihat oleh James.


 


 


 


"Enggak anak, Enggak Bapak, sama aja. Gua bukan Om Lo! Panggil gua abang!" perintahnya ke Jimmy.


 


 


"Yeeee... Ngarep lo agh, abang gua tuh cuma ini doang!" tunjukknya ke Raka.


 


 


 


"Tapi gua enggak merasa punya adik! sudahlah Frans , kau itu mau ke sini untuk apa? Buat semak saja!" ketus Raka dengan menatap tajam.


 


"Wuihhh Galak amat sih, Frans rindu bang. Bukan mau buat semak, sekalian mau jengukin Renata yang kabarnya calon mantu bang Raka dan Mba Eva ku sayang," ujarnya lalu ia melihat Eva yang sudah tersenyum ke Frans, "Egh... Jadi lupakan ,Mba Eva ku tercinta, Sampai lupa aku menyapa Mba ku yang palingggg cantik," Frans hendak berjalan ke arah Eva , sigap Raka berdiri di hadapan Eva menghalangi Frans untuk memeluk Istrinya itu. Itulah kebiasaan si Frans yang tidak pernah berubah, meskipun dia sudah tua.


 


 


 


"Jangan macam-macam!" Raka melototkan matanya.


 


 


 


"Hehehehe... Awas kabur tuh mata bang." Frans pun mundur , karena kalau Raka melotot rasanya gimana gitu bagi dia, buat merinding.


 


 


 


"Sudah Frans, sapalah Renata. Anak dari Casandra dan Kak Varel." ucap Eva lembut.


 


 


Mata Frans menoleh ke Casandra, yang sudah menatap aneh ke Frans sedari dia berbicara. Sedangkan Varel yang berdiri di belakang Casandra menatap dengan senyuman. Karena memang Frans lucu di matanya, mirip dengan adik iparnya Jimmy.


 


 


 


"Ayo anak-anak, kita keluar." ajak Raka, dengan Defan dan Vara. Sedangkan James masih ingin dengan Renata melepas rasa rindunya, yang terus duduk di sebelah Casandra dengan menatap nanar ke Rava. Rava yang sedari tadi di depan James berhadapan dengannya sesekali melirik tajam, karena James teramat manja dengan Renata.


 


 


 


Vara menolak, karena dia masih ingin di kamar Renata untuk meminta maaf, hanya saja belum memiliki waktu ya pas. Raka pun tidak bisa memaksa yang lainnya, hingga dia masih menunggu semuanya untuk keluar bersama. Karena ini pertama bagi mereka untuk berkumpul.


 


 


"Kamu yang namanya Renata?" tanya Frans mendekati Ranjang Renata tepatnya di samping Rava.


 


 


Casandra kembali menatapi Frans, masih sama seperti dahulu kala dengan rasa yang sama. Sedangkan Renata menatap ke Frans dengan senyuman manisnya, "Iya Om, saya Renata."


 


 


Jimmy ngakak tiba-tiba, mendengarkan panggilan Renata pada Frans. Gerakan cepat, Jimmy mendapatkan tatapan Frans. Refleks Jimmy mengulurkan lidahnya, merasa puas dengan balasan dari Renata.


 


 


 


"Apa benar, kau ini anak dari Mba Kunti?" tanyanya lagi.


 


 


"Siapa? Mamiku? Kenapa om mengatai Mami ku kunti?" Renata protes, Rava menggenggam tangannya agar tidak di anggap serius.


 


 


 


"Sudahlah Renata, Ini nih teman yang tertukar. Dia memang ada rada miringnya, jadi jangan di tanggapin. Dan kau Frans, berubahlah! Kau enggak malu apa dengan anakmu, anakmu perilakunya sangat baik. Lah bapaknya? Amit-amit." ucap Casandra.


 


 


 


"Ou... Papanya Defan ya Omm? Kalau begitu salam kenal, jangan bertengkar, kita temanan. Soalnya anak om si Defan, dia itu adik angkatku." celetuk Renata mengulurkan tangannya.


 


 


"Wah... Kau punya kakak angkat, Fan." sekejap menoleh ke Defan yang menahan malu itu, "Sejak kapan kalian bisa akrab? Aku dan Mamimu saja tidak seakur kalian. Tapiii... Kau punya Papi yang sangat baik Renata," ucap Frans menoleh ke Varel dengan membalas uluran tangan Renata.


 


 


 


"Jangan memujiku Frans." balasnya dengan senyuman.


 


 


"Tuh kau lihat... Papi kamu sangat berbedah dari mamimu, mami mu itu dengan kereta api, kereta apinya yang kalah!" ujar Frans lagi.


 


 


 


"Frans... Rindu dengan suaraku?" Casandra menimpali.


 


 


"Egh enggak Mba, Enggaak berani serem."


 


 


"Sudah jangan bertengkar, ayo kita keluar. Biar Renata Istirahat." ajak Eva.


 


 


 


"Iya benar... Bibi dan Paman pulanglah. Biar Rava yang menginap di sini." Rava bersikukuh ingin menjaga Renata.


 


 


"Tidak usah Nak, kau pulanglah. Biar bibi dan pamanmu yang di sini." balas Casandra.


 


 


 


"Kau seperti tidak pernah muda saja San, biarkan Rava yang di sini." sambung Jimmy.


 


 


 


 


"Ma... Pulanglah. Enggak apa-apa, Rava di sini." bujuk Renata.


"Dengarkan tuh anakmu, anakmu mau anakku yang menjaganya. Kau dan Varel, ikutlah dengan kami. Kita istirahat, besok baru kembali." sambung Raka.


 


 


"Iya Sayang, ayola kita pulang. Biar Rava di sini, dan Renata pasti lebih nyaman dengan Rava di sini." ucap Varel dengan sangat lembut membujuk sang Istri.


 


 


 


"Noona, James juga di sini boleh?"James memajakun bibirnya dengan wajah memohon.


 


 


"Jangan.. Kalian kan belum Istirahat sedari di pesawat. Ada baiknya kalian beristirahat dlu, biar semuanya kembali semangat." bujuk Renata.


 


 


"Benar... Kau di rumah saja!" Rava menatap tajam ke James.


 


 


"Baiklah... Kak." jawabnya sedih.


 


 


"Kak Rena," panggil Vara yang awalnya masih berdiam.


 


 


Renata menatap Vara dengan senyuman, "Iya Vara?"


 


 


"Vara minta maaf ya Ka," ucapnya Lirih.


 


"Ssstt... Sudah gak usah merasa bersalah." balas Renata.


 


 


"Tapi Ka—."


 


"Sayang... Besok kemari lagi ya. Ini sudah malam, biar kakak mu istirahat." ucap Raka merangkul pundak sang anak.


 


 


"Iya.... Renata, cepat pulih. Paman dan Bibi pulang ya. Kau sama Rava yang romantis-romantis. Jangan gado-gado, enggak baik." celetuk Jimmy.


 


 


 


Renata tersenyum , sedangkan Rava hanya menggelengkan kepalanya.


 


"Ayooo semuanya, kita keluar." ajak Varel, lalu ia mendekat ke sang anak, "Sayang... Papi pulang dulu. Cepat pulih biar kita pulang bersama-sama" Varel mengecup kening Renata.


 


"Iya papi..." balasnya dengan menyentuh tangan Varel .


 


"Rava... Jaga Renata baik-baik." sambung Varel lagi.


 


"Siap paman," balas Rava dengan semangat.


 


"Mami pulang ya nak... Kau Istirahatlah." Casandra juga mengecup kuning Renata.


 


"Iya Mi, Mami dan yang lainnya hati-hati." seru Renata.


 


Semuanya melambaikan tangan terkecuali Frans, sebelum beranjak keluar ruangan, sedangkan si Frans mendekati Rava dan berbisik ke kuping Rava.


 


 


"Jangan menyia-nyiakan waktu yang baik, kau tahu papamu itu, dalam urusan cinta dia akan mendapatkannya sampai menjadi miliknya. Jadilah seperti papamu." bisik Frans lalu mengedipkan matanya.


 


 


"Paman... Kau bisa saja." ucap Rava menyentuh pundak Frans.


 


 


"Cepat keluar Frans! Jangan mengotori pikiran anakku!" ketus Rava yang sudah di depan pintu.


 


Dengan cepat Frans bergegas menuju pintu keluar dan mengikuti Raka beserta yang lainnya, untuk pulang ke rumah Rava. Tinggalah keduanya, yang masih berdiam diri. Ruangan menjadi sepi, membuat Renata salah tingkah.


 


 


"Tidurlah, aku akan menjagamu." ucap Rava masih setia duduk di samping Renata.


 


"A—Aku tidak bisa tidur, jika kau terus berada di sebelahku, menatapku terus. Apa kau gila?" tanya Renata gugup dan melirik sekilas ke Rava.


 


Rava tersenyum, dengan cepat Rava melepas sepatunya, kemudian beranjak naik ke ranjang Renata yang cukup untuk dua orang itu. Lalu ia rebahan di samping Renata dan memeluk Renata.


 


 


"Apa kau memang su—sudah gila, Rava!"


 


"Iyaa... Aku gila karenamu!" ucap Rava menatap tajam pada dirinya.


 


"Lepaskan aku! Turun dari sini, jangan macam-macam." perintah Renata.


 


Rava semakin erat memeluk pinggang Renata.


"Awwwwwww..." seru Renata, membuat Rava beranjak duduk.


 


"Apa masih sakit?" tanyanya panik dengan mengusap-usap pinggang Renata.


"Sangat sakit, kau tahu rasanya di sambar kendaraan hingga tercampak? Kepalaku saja masih pusing. Kau lihat bekas luka di kepalaku yang bocor ini!" tunjuknya ke Rava, "Ini lebih sakit, dari pada menunggu cintaku terbalaskan. Sudahlah turun, jangan memaksakan dirimu, Rava."


 


"Siapa bilang aku memaksakan diri!".


 


"Aku... Kan aku barusan mengatakannya! Apa kau tidak dengar?"


 


 


"Dengar! Aku tidak memaksakan diriku, Aku benar-benar mencintaimu." ujarnya dengan jujur dan tatapan serius.


 


Renata tercengang mendengar ucapan Rava, lalu ia tiba-tiba tertawa dengan menutup mulutnya agar tidak di dengar orang.


 


"Kenapa kau malahan tertawa?"


 


 


"Hahaha... Rava... Kau itu sangat lucu kalau lagi seperti itu. Jangan bercanda denganku, sekarang turunlah, aku masih perlu istirahat. Ranjang ini tidak cukup bagiku dan dirimu, jadi turunlah jangan memaksakan dirimu." ucap Renata dengan menatap ke Rava, yang juga menatap serius ke Renata.


 


 


Rava mendekatkan wajahnya ke Renata, dengan tangan kanannya mencengkram tengkuk leher Renata dengan lembut, lalu ia menyatukan bibirnya ke bibir Renata, dengan memejamkan matanya, Rava memberikan sentuhan lembut pada bibir Renata. Mata Renata terbelalak, ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan Rava kepadanya. Dengan cepat Renata ikut memejamkan matanya dan tidak ada penolakan darinya.


 


 


Sekiranya Rava merasa cukup, ia melapaskan bibirnya dan menatap wajah Renata lalu tersenyum, "Sudah aku katakan, Aku tidak memaksakan diriku. Aku mencintaimu Renata. Mari kita terima perjodohan kita." ucap Rava dengan mantap.


 


 


"Tidak... Aku tidak mau." balas Renata.


 


Rava kaget, "Kenapa tidak mau! Apa karena si Albert itu! Akan aku patahkan lehernya jika kau masih berhubungan dengan dirinya!" Rava mulai tersulut emosi, satu sisi rasa gengsinya sudah ternodai, mana di tolak pula, meras sangat malu.


 


 


Renata malahan tersenyum, "Apa kau yakin mencintaiku?"


 


 


Rava menarik nafasnya, "Apa kau masih meragukan aku?"


 


"Sepertinya, kenapa kau berubah hanya dengan hitungan hari?"


 


"Ya...Karena aku, ya karena kejadian ini membuatku tersadar, seberapa pentingnya dirimu untukku."


 


"Terusss...Kalau tadinya aku mati , bagaimana?"


 


"Ya kau pasti bergentayangan kan? Lebih tepatnya, kau itu mendatangiku dengan marah-marah denganku. Sudah jangan aneh-aneh, kau itu mau menerimaku atau tidak?"


 


 


"Tidak... Aku tidak mau segampang itu."


 


Rava melototkan matanya, "Terus kau mau apa?"


 


"Aku mau kau berjuang untukku, jika kau berhasil membuatku mencintaimu lagi, aku akan terima cintamu."


 


"Renata... Jangan bercanda!."