
HOTEL R&A
Sesampainya di depan kamar Hotel Alice dan Anet, Defan melepas rangkulan tanganya dari pundak Vara sebaliknya dengan Vara, Ia pun melepas tangannya dari pinggang Defan. Keduanya saling memandang,wajah Vara di tekuk seakan kesal.
"Kenapa Dramanya kok jadi suami dan istri sih Fan? Kenapa enggak Kakek dan cucu?" tanya Vara kesal.
"Nomong apaan sih Kau ini Vara, Ayo masuk dulu, sebelum mantan orang yang naksir kau kembali ke sini." ujar Defan berjalan masuk.
Defan pun berjalan masuk ke kamar Alice dan Anet, di ikuti oleh Vara yang masih bersungut-sungut. Alice yang melihat kedatangan Vara berdiri dan menghampiri Vara dengan bersemangat.
"Varaaaa" panggilnya dengan semangat.
"Alice" balas Vara bersemangat dan memeluk tubuh Alice.
"Aku merindukanmu Alice" ujar Vara senang.
Alice melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Vara, "Bukankah baru sehari kita tidak bertemu Vara?"
Vara terlihat tersenyum manja, "Iya sih... Tapi Aku tetap merindukan kamu. Oh ya Apa kalian hanya di kamar hotel saja?"
"Suru Vara duduk dulu Alice," ucap Anet ikut mendudukkan tubuhnya.
"Ayo Vara, duduk di sini." ajak Alice menunjuk ranjangnya.
"Terima kasih... Alice, Bibi." ucap Vara.
"Ada apa denganmu Vara? kenapa Kau ke sini membawa mobil sendiri? apa kau tidak takut, Bibi, Paman dan Kak Rava tahu Kau akan di marahi." tutur Defan yang duduk di depan Vara.
"Aku hanya ingin sendiri membawanya Fan, kenapa mereka harus marah? lagian mobil itu juga pemberian dari Papa saat Aku berulang tahun ke 17 Tahun. Aku juga sudah punya surat izin mengemudi, kenapa lagi sih?"
"Mungkin saja mereka mengkhawatirkan Vara sayang. Ketahuilah nak, mereka memiliki alasan yang baik buat kamu." jawab Anet dengan tersenyum.
Vara pun sejenak berpikir, lalu dia berkata, "Benar sih yang Bibi katakan, Tapi—" ucapnya dengan merebahkan tubuhnya, "Vara ingin sekali mandiri, walaupun Mama, Papa dan Kak Rava enggak pernah mengekang Vara." ujar Vara dengan bibir cemberut.
Drrrrttt.... Drrtttttt...
Vara bergerak dan mengambil tasnya, "Siapa yang meneleponku." katanya dengan mengambil ponselnya.
"Kak Harsen." gumamnya pelan.
"Angkat saja! Kenapa Kau membuatnya khawatir?" Defan menatap tajam ke Vara.
"Sudah ku tolak, Tapi...Bagaimana Kau tahu Fan?"
"Kak Harsen tadi mengirimkan pesan ke Aku, dia barusan tiba di rumah, dan bertanya ke Bibi dan Kakak, mereka sudah tahu Kau membawa mobil." kata Defan mengangkat ponselnya dan menunjukkan pada Vara , pesan dari Harsen.
Vara menarik nafasnya sejenak, kembali ponselnya bergetar, Drrrrtttttt.... Drtttttttt...
"Kak Rava." gumamnya menatap pada Defan dan Alice.
"Di angkat! jangan buat pengantin baru menjadi marah,"ujar Defan dengan menajamkan matanya.
"Iya iya... " kata Vara dengan menyentuh tombol hijau dari ponselnya.
📲 Vara : Kak Rava
📲 Rava : Vara... Kamu di mana sayang? Kenapa bawa mobil enggak bilang-bilang sih? Kakak kan takut ada sesuatu hal yang terjadi pada dirimu.
📲 Vara : Kakak... Maafin Vara, tapi Vara baik-baik saja Kak, jangan khawatir. Vara di Hotel bersama Alice, Bibi Anet dan juga Defan.
📲 Rava : Iya kakak tahu, harusnya kamu katakan dong ke Mama, kalau kamu mau berkendara sendiri. Mama juga khawatir sayang, ya sudalah kalau begitu, kamu tetap di sana, jangan ke mana-mana, Harsen sudah di dalam perjalanan ke Hotel. Kamu membuatnya merasa frustasi. Ada apa dengan kalian?
📲 Vara : Tidak ada apa-apa kak, kenapa sih kakak suru kak Harsen ke sini? Vara kan masih ingin main dengan Alice, Kak?
📲 Rava : Tidak usah cemberut, Alice akan ikut bersama Defan, Mama sudah mengatakan mereka akan makan malam bersama kita.
📲 Vara : Baiklah Kak..
📲 Rava : Okey.. sampai jumpa di ruma adikku sayang, Byeeeee...
📲 Vara : Bye juga Kakak.
Wajah Vara semakin menyedihkan saat Ia tahu Harsen yang datang menjemputnya.
"Kenapa sih Vara? wajahmu sangat menyedihkan?" tanya Alice.
"Iya nih.. Aneh...Kau kenapa Vara!" ketus Defan.
Vara menatap Defan semakin kesal, "Kenapa kau beritahu Aku di sini? Kakak menyuruh kak Harsen menjemputku!"
"Lah.. Kau ini sudah dewasa, kenapa seperti kanak-kanak? Hadapi masalahmu, kasian kak Harsen enggak tahu apa masalahnya." ujar Defan marah.
"Apa Kau tahu masalah kami... Arggghhh....Kau ini asal bicara saja!" katanya ke Defan.
"Apapun masalah kamu, kamu harus hadapin Vara." decak Alice dengan menyentuh tangan Vara.
"Alice... kau membela Defan?" tanya Vara dengan sedih.
"Tidak sayang... Vara enggak baik menghindar, apapun masalah kamu, kamu harus menanggapinya dengan baik." balas Alice sambilan tersenyum.
"Baiklah.. Aku tidak akan menghindar." ujar Vara tidak ada pilihan lain.
"Oh ya Vara, keburu lupa, tadi pria yang mengikutimu, apa kau tahu dia siapa kan?" Defan membuka suara.
"Tahu... Anak satu kelas Aku dulu. Karena itu kah kau berteriak dari atas Fan?" Vara menatap dengan kaget.
"Iya... Aku menunggumu lima menit sesudah kau mengirimkan pesan ke Aku, dan Aku melihat di depan pintu masuk Ia terhenti menatapmu berbicara pada staff Hotel. Jadilah Aku membuat seperti itu, biar dia enggak macam-macam denganmu. Apapun ceritanya, Aku tidak akan membiarkanmu di usili dia, walaupun ada Kak Harsen." kata Defan dengan semangat berapi-api.
"Siapa sih yang kalian maksud?" tanya Alice bingung.
"Itu penggemarnya si Vara, tadi berada di Hotel ini juga. Satu lift, jadi aku membantunya untuk terhindar dari pria aneh itu. Terusss...Ya aku katakan saja, Vara istriku dan anak kami menunggu di kamar," tutur Defan ke Alice
Alice dan Anet sama-sama tertawa mendengarkan pengakuan Defan. Vara menggelengkan kepalanya, menatap ke Defan dengan tatapan nyeleneh, "Cih... Drama yang kau buat tidak mengenakan bagiku Fan, andai saja antara kita adalah Kakek dan cucunya..Tapi enggak coock juga ya.. Kau masih muda, harusnya tadi kau katakan, kau itu ajudanku." ucap Vara dengan mengandai-andai.
Ting Tung....
Suara bel dari kamar hotel Alice terdengar. Seluruhnya menoleh ke arah pintu.
"Mungkin saja itu Harsen, Nak." ucap Anet.
"Biar Defan saja yang buka, Bi." balas Defan dengan cepat berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Vara langsung saja menarik selimut putih menutupi seluruh tubuhnya, Alice dan Anet di buat tersenyum dengan ngambeknya si Vara.
"Kak Harsen." ucap Defan.
"Di mana Vara?" tanya Harsen panik.
"Di sit—" Defan terhenti dan mencari-cari Vara di posisi sebelumnya.
"Tadi di atas ranjang, masuklah dulu kak." pinta Defan ke Harsen.
Harsen pun berjalan masuk, memberikan sapaan pada Anet dan Alice.
"Selamat siang Bibi Anet, Alice." sapanya bersaman mendekati ranjang.
"Vara....Keluarlah, kenapa kau bersembunyi di bawah selimut." kata Defan dengan mendekati ranjang.
Vara masih berdiam, sedangkan Defan menarik selimut yang menutupi tubuh Vara. Harsen melihat wajah Vara yang menutup kedua matanya. Harsen pun mendekati Vara.
"Vara..." panggilnya.
"Vara enggak mau ngomong sama kakak." ketusnya dengan membalikkan tubuhnya.
"Vara... Ayo kita pulang, Bibi Eva menunggu kamu." kata Harsen mencoba membujuk.
Vara kembali menggerakkan tubuhnya menatap ke Harsen, "Karena Kak Harsen ke rumah, mama dan kak Rava jadi tahu Vara membawa mobil."
"Iya... semua karena Kakak. Sudah ayo kita pulang, biar mobilmu di bawa pak Cakra, beliau sudah di bawah." ajak Harsen lagi.
Vara menatap salah tingkah wajah Harsen yang tidak biasanya, apa lagi Ia terima di salahkan oleh Vara tanpa banyak bicara. Membuat Vara tidak enakan dengan sikpnya sendiri.
"Ayo Vara, Bibi dan Alice juga akan ke rumah kamu. Mama kamu mengundang kami makan malam sayang." Anet mencoba membujuk Vara.
"Baiklah Bi." balasnya sedih.
Harsen dengan cepat membantu mengambilkan tas Vara yang ada di atas ranjang, "Rapikan pakaian kamu, Nona." ucap Harsen dengan datar dan dingin, Lalu Ia berjalan keluar dari kamar menunggu Vara di depan pintu luar kamar.
Vara kaget, Ia menatap pada Defan yang mengerti sikap Harsen barusan.
"Kau membuatnya dalam masalah Vara, Kau lihat dari kemarahanmu? dia berubah dingin seperti pengawalmu sebelumnya yang di perintahkan Kak Rava pada Kak Harsen." ucap Defan dengan berbisik.
Vara yang sudah merapikan dirinya dengan perasaan yang sama seperti di katakan Defan, menjadi gugup. Ia menoleh ke Anet dan Alice, "Bibi, Alice, Vara duluan pulang ke rumah, sampai jumpa nanti malam," katanya dengan lesu dan lemas.
"Semangattt...Jangan keraskan hatimu" bisik Defan lagi.
Vara menatap ke Defan, "Aku pulang." katanya dengan sedih.
Vara berjalan pelan menuju pintu, Ia merasa deg deg an, saat melihat wajah Harsen yang tidak bersahabat seperti dulu. Sampai di depan pintu, Harsen yang melihat Vara datang, "Silahkan jalan Nona." ucapnya dengan datar.
Vara pun berjalan keluar dan di ikuti oleh Harsen di belakangnya, sampai di depan lift. Vara enggak bisa menerima keadaan, dia pun protes menatap ke Harsen. Harsen yang mendapat pandangan dari Vara pun ikut menoleh ke arahnya.
"Ada apa Nona Vara?"tanya Harsen.
"Kak Harsen!"
Harsen menoleh ke sekelilingnya, syukur saja sepi pikirnya, "Kenapa Nona? kenapa berteriak?"
"Jangan memanggilku Nona!" ketus Vara.
"Kenapa Nona Vara? Apa anda keberatan?" tanya Harsen dengan tatapan biasa.
"Ihhh.. Kak Harsen!" katanya lagi, kali ini kedua mata Vara berkaca-kaca, menahan sedihnya.
Tinggggg.....
Suara pintu lift terbuka, Vara membuang kasar pandangannya dan hendak berjalan masuk ke dalam lift, tanpa menunggu Harsen. Harsen yang melihat air mata Vara yang sudah lolos dari pelupuk matanya, menarik tangan Vara. Vara terhenti, lalu menoleh ke Harsen.
Harsen menarik nafasnya sejenak, dan mengusap lembut air mata yang membasahi pipinya Vara.
"Jangan menangis," ucap Harsen lembut.
Vara semakin menangis mendengar ucapan Harsen barusan.
"Jangan menangis, kenapa Kau ini nakal sekali? Jangan menangis, malahan semakin menangis, Apa kau mau membuat kekasihmu ini terlihat memalukan di depanmu?" tanya Harsen dengan pelan.
Vara memukul dada Harsen, melampiaskan kekesalannya. Kemudian Harsen menarik pinggang Vara dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menangis di sini, enggak enak di lihat orang. Menangis di mobil saja" ujar Harsen seraya tersenyum.
"Kakak sangat jahat!" ucap Vara lagi.
"Tetapi Kau mencintai yang jahat ini." sambung Harsen.
"Kak Harsen Ja—"
"Maafkan Kakak." potong Harsen dengan membelai lembut puncak kepala Vara.
"Maafkan Kakak, karena tidak memberitahumu kepulangan Kakak kemarin. Maafkan Kakak karena membuat kamu cemburu karena Sylvia. Maafkan Kakak.. membuat kamu menangis. Jangan bersedih lagi, kalau kamu terus menangis, kakak gantian akan menangis di sini" ancam Harsen seperti Raka.
Vara buru-buru melepas pelukan Harsen dari tubuhnya , kemudian Ia mengusap air matanya dan berjalan menuju tombol lift agar cepat terbuka. Harsen malahan tersenyum, melihat Vara yang menjadi takut dengan ancamannya.
"Kau memang Gadis yang sangat unik." gumam Harsen dengan pelan.
Harsen mendekati Vara dan menggenggam erat telapak tangan Vara seraya berdiri menunggu pintu lift rerbuka. Ancaman ampuh dari Raka, mampu membuat Vara berhenti menangis. Mungkin saja, Vara trauma dengan kejadian waktu dia di sekolah.
Bersambung.
.....
Hayooo.... Mana Like dan VOTE nya 🥰