
Beberapa hari kemudian.
"Udara di sini sangat sejuk." kata Renata menatap langit pagi itu dengan memejamkan kedua matanya dan menikmati udara pagi dari balkon kamar Hite di mana mereka memilih menginap di salah satu Hotel mewah di Negeri Ginseng itu.
"Apa lagi menikmatinya dengan keharuman tubuh Istriku ini" Rava memeluk tubuh Renata dari arah belakang dan mencium pundak dan tengkuk lehernya.
Kedua mata Renata mengerjap dan tersenyum seraya berbalik menatap Rava yang sedang bermanjaan itu.
"Kau sangat menggoda." bisiknya sambilan kembali memeluk tubuh Renata lagi.
"Hemmmmm... Terus kau si penggoda." kata Renata membalas pelukannya dengan erat.
"Kalau bukan aku yang menggoda terus siapa? hantu? Kau ini ada-ada saja. Bagaimana....sekarang Kau mau ke mana Istriku?" tanya Rava ke Renata.
"Kemana ya? Hemmm.. kemarin kita uda jalan-jalan e beberapa tempat. Aku juga bingung, tapi... Bagaimana kalau kita ke taman bermain saja?" Renata mengusulkan ke Rava.
"Boleh... Tapi aku tidak mau bermain permainan gilamu" ujar Rava dengan menempelkan keningnya di kening Renata.
"Baiklah... kita main yang lain saja. Atauuuuu.... Biarkan aku bermain dengan Oppa-oppa tampan di Negara ini. Bolekah?"
Rava menatap cemberut, "Tidak! Enaka saja, kemarin kau sudah melihat seluruh oppa-oppa di Negara ini, matamu sudah selingkuh dari Aku. Bukankah itu sudah cukup? kenapa sekarang Kau menginginkan Raganya untuk bermain bersamamu? Kau menjatuhkan martabatku sayang. Aku Merasa merugi setelah menuruti apa kemauanmu. Kau menyukai Oppa-oppa di sini, sedangkan Aku? Kau suru melihat Ajumma yang berjualan di pinggiran kota. Itu tidak adil bagiku sayang. Andaikan saja, bisa bertemu dengan Lisa atau si Rosé, atau si cantik Son Ye Jin, bukankah akan lebih melengkapi?" Rava mendudukkan tubuhnya di depan meja yang sudah di isi dengan makan pagi mereka.
"Teroooooossss... dari mana kamu tau beberapa member dari grup penyanyi Blackpink sayang? Daaannn.... nama dari Eonni kesukaanku yang bermain drama dengan Oppa Hyun Bin?" Renata menatap Rava dengan setengah menunduk dan wajahnya yang didekatkan ke wajah Rava.
Saling memandang, Renata yang berkacak pinggang menatap Rava dengan mata yang mengikuti gerak-gerik kedua bola mata Rava dengan kening yang saling bertempelan, membuat Rava susah mencari alasan. Dengan cepat Rava menarik tubuh Renata, dan memangkunya di atas pahanya.
Rava mencium lengan tangan Renata sambilan mencoba menangkan pikirannya sejenak, lalu ia pun menjawab, "Aku tidak sengaja waktu buka Youtube untuk mencari tempat wisata yang akan kita kunjungi, egh... ada muncul itu penyanyi yang menurutku sangat bagus sayang, jadilah Aku menonton mereka. Maaf ya... Presdir juga butuh hiburan sayang. Terus soal Eonnimu itu juga Aku melihat dramanya, sama Oppa yang kamu bilang tadi. Habisnya dia cantik sih sayang, enggak mungkin mataku salah menilai kan, terus aku bilang jelek, demi kamu enggak marah." Rava mengungkapinya dengan memeluk manja dan bebricara seperti anak kecil.
Renata tersenyum, "Iya iya... Aku gak percaya" balasnya dengan tertawa.
Rava langsung menggelitik pinggangnya Renata, jadilah keduanya tertawa bersamaan.
"Ampunnnn?" tanya Rava sambilan terus menggelitik.
"Ampun Sugar baby... " kata Renata sambilan menangkis tangan Rava yang menggelitiknya.
"Baiklah... Karena itu Kau tidak boleh nakal pada suamimu yang tampannya seperti Lee Min Ho." ujar Rava sambilan memeluk Renata dengan erat.
Renata kembali terkesiap, dan melirik ke arah Rava,
"Jangan bilang Kau juga melihat dramanya Oppa Lee Min Ho?"
Rava tersenyum, "Aku mengetahui ini dari adikmu James dan Paman mu Jimmy. Jangan salahkan Aku" Rava langsung mengecup bibir Renata.
"Sudah duduk di sini, habiskan sarapanmu. Siap itu, kita akan ke taman bermain seperti yang Kau inginkan." ujar Rava dengan lembut.
"Siap Pak Presdir," balas Renata dengan penuh hormat.
Rava tersenyum menatap kedua sisi bibir Renata yang melingkar sempurna. Renata tersenyum, sambilan memberikan makanan dan minuman yang terhidang di depannya dan memindahkanya ke depan Rava.
Rava merasa sangat beruntung mendapatkan hati wanita yang dulu sempat Ia tolak berkali-kali. Rasanya ia akan menyesal, jika sempat Renata bersuamikan orang lain. Mungkin Ia menyesalinya seumur hidup.
"Hemmm indah benar ciptaanmu wahai sang pencipta. Bukankah CiptaanMu yang satu ini, mampu membuatku terbuai dalam kehidupanku. Betapa beruntungnya Aku."
"Kenapa melamun? Ayooo... di makan sarapanmu" kata Renata membuyarkan lamunan Rava.
Rava tertawa kecil, "Aku sudah kenyang sayang." balasnya.
"Loh kenyang bagaimana? semuanya masih utuh sayang, jangan becanda agh. Enggak lucu."
"Melihat Ratu hatiku sedang makan dengan hati yang bahagia saja, sudah membuat perut abang kenyang Dek." ledek Rava.
Renata yang mendengarnya tertawa, "Kau ini membuatku terkekeh saja. Sudahhhh... Jangan gombal-gombal enggak jelas."
"Baiklah Istriku... Pagi ku berwarna bersamamu." ungkap Rava lalu ia mengambil Garpu dan sendok, langsung saja menyuapkan ke mulutnya.
***
New York, Kediamana Rava Atmadja.
"Selamat datang kembali Nona Vara, Tuan muda Harsen dan Defan." sapa asisten rumah tangga Rava yang duluan kembali.
"Terima kasih Bu Marni, sungguh perjalanan yang sangat melelahkan." kata Vara mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu utama.
"Bu... Tolong langsung siapkan saja makan siang untuk kita. Sebelum semuanya beristirahat" perintah Harsen pada Bu Marni.
"Baik.. Tuan." balas Bi Marni seraya meninggalkan ketiganya.
"Aku lemas... Aku butuh yang segar-segar." Defan juga ikut mendaratkan tubuhnya di depan Sofa Vara.
Harsen hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua adiknya yang sangatlah lelah. Yang satu adik somplak, satu adik yayangnya. Harsen memaklumi, dia menarik semua koper menuju ke dapan tangga.
"Ini Tuan Defan, Nona Vara. Silahkan di minum dulu, untuk menyegarkan tenggorakan sejenak." ucap Bi Tarni meletakkan nampan di atas meja yang berisi teko bening dan tiga gelas kaca.
"Agh... Ibu ku sayang.... Terima kasih banyak ya... Tau aja nih kita membutuhkan yang segar-segar. Kalian emang yang terbaik deh." Vara bangkit dan memuji pekerja kesayangan mereka.
"Sama-sama Nona cantik, Bibi permisi kebelakang dulu ya." Bi Tarni berjalan meninggalkan ruangan tamu setelah mendapat jawaban Vara.
"Aku dulu Vara... Sangat haus." Defan beranjak duduk.
"Enak saja.... Biarin dulu calon suamiku." celetuk Vara dengan menuangkan jus jeruk satu gelas dan menyisihkannya. Lalu Ia kembali menuangkan ke dalam satu gelas. Mata Defan di buat kesal merasa tidak sabaran.
"Tuang punyamu sendiri." ujar Vara, lalu Ia mengambil gelas terakhir yang dia tuang dan meneguknya.
Defan semakin kesal, Ia mengambil gelas yang di sisihkan Vara untuk Harsen dan Ingin meneguknya, dengan sigap Harsen dari belakang Defan menarik gelasnya dan langsung meminumnya dalam satu tegukan.
Mata Defan menatap sedih, Ia merasa tertindas dengan pasangan fenomenal di depannya. Ia melirik ke Vara lalu berpindah ke Harsen.
"Ini di tuangkan khusus oleh calon Istriku untuk Kakakmu. Jadi bukan bagianmu, jangan mengambil hak yang bukan milikmu," ucap Harsen seraya meninggalkan keduanya.
Vara di buat terkekeh mendengar ucapan Harsen, mata Defan sedih dan membuat bibirnya cemberut.
"Apes banget perasaanmu Nak." kata Defan pada dadanya.