My Chosen Wife

My Chosen Wife
Papa???



Keeseokan harinya, Kediaman Rava Atmadja.


Kehidupan keluarga Atmadja kembali berjalan normal seperti biasanya, pagi itu keluarga Atmadja di sibukkan dengan kesibukan mereka masing-masing. Di mana Eva seperti biasanya mengurusi anak dan suaminya. Selesai mempersiapkan sarapan pagi, seluruhnya sudah berkumpul dan bersiap untuk menikmati sarapan pagi mereka. Selesai sarapan pagi, Eva mengantarkan sang suami untuk berangkat bekerja. Tampak Raka yang sudah mengenakan kemeja dengan dasi yang di benarkan oleh Eva sebelum Ia masuk ke dalam mobilnya, dengan jas yang sudah di berikan Eva, Ia mengantarkan sang suami dengan kecupan hangat pada bibir Raka.


“Selamat bekerja suamiku,” kata Eva dengan romantisnya.


Raka tersenyum, “Terima kasih Mama bearku, semoga harimu menyenangkan. Saat Kau pulang nanti, biarkan aku menjemputmu.” kata Raka dengan sangat lembut.


“Baiklah Papa bear, Aku akan menunggumu. Berhati-hatilah di jalan dan semangat dalam bekerja, semoga pekerjaanmu berjalan dengan lancar.” balas Eva dengan tersenyum sumringah.


Raka menyentuh kepala Eva dan membelainya dengan lembut, “Baiklah sayang… Aku berangkat.” katanya dengan tersenyum.


Eva menganggukan kepalanya saat  Raka sudah masuk ke dalam mobilnya, Eva menatap kepergian sang suami. Mobil yang di kendarai Raka berjalan meninggalkan kediaman mereka melewati pintu gerbang, tiba-tiba mobil itu terhenti. Membuat kening Eva mengkerut melihatnya, pertanda Ia bingung. Tampak kepala Raka yang keluar dari kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah Eva.


“Sayangkuuuuu… Aku mencintaimu.” teriak Raka dari mobilnya dengan melambaikan tangannya ke Eva.


Eva yang melipat kedua tangannya di atas dada  tertawa dan kemudian membalas lambaian tangan Raka dan menjawab, “Aku juga mencintaimu sayang,” jerit Eva.


Lagi-lagi Raka melambaikan tangannya dan kembali masuk ke mobilnya dan bersamaan itu mobil melaju hingga hilang dari pandangan Eva. Eva pun berjalan menuju pintu masuk. sudah tampak Vara yang menunggu di depan pintu sambil senyum-senyum ke Eva. Eva sejenak berhenti dan membalas senyuman Vara dengan malu-malu, kemudian dia berjalan mendekati Vara.


“Kenapa kamu senyum-senyum sayang?” tanya Eva pada Vara, merangkul pundaknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


“Vara senang dech lihat Mama dan papa masih bisa mengekspresikan cinta kalian tanpa malu. Vara jadi kepengen seperti itu Ma, jika tua nanti bersama ka harsen. Tapiii…sepertinya berat, karena kak Harsen kan kaku Ma,” balas Vara dengan manjanya.


Eva tersenyum ke arah Vara, “Harsen itu sama seperti papanya sayang, tetapi kalau sudah menikah, kan romantisnya juga gak terkatakan. Nanti kalau Harsen jadi lebay karena romantisnya ke kamu, kamu malahan malu. Jalani saja Nak, semuanya pasti ada proses dan masanya tentunya kan?” kata Eva menyemangati Vara.


“Iya sih, Ma. Oh ya Ma…Mama mau ke mana hari ini?” tanya Vara.


“Hemmm.. Mama mau nongkrong cantik sama para Bibimu sayang,” kata Eva dengan mengusap lembut kepala Vara, “Apa kamu mau ikut?” tanya Eva menatap wajah Vara yang sedang bermanjaan padanya


“Tidak Ma.. Vara di rumah saja, Vara enggak tahu mau ke mana lagi. Lagian kan, Vara beberapa hari lagi juga sudah kembali ke New York.” Vara memasang wajah sedihnya,


“Jangan bersedih, Vara juga sudah hampir selesai kan? Mama dan Papa akan menyusul saat Vara di wisuda dan kita akan kembali pulang ke rumah bersama-sama. Terus… Mempersiapkan bisnis yang akan Vara kembangkan. Bukankah tidak membutuhkan waktu yang lama?”


“Iya benar yang di kata  Mama,” sambung  Rava yang baru turun dari atas bersama Renata.


“Kakak,” kata Vara.


“Kalian mau ke mana Nak?” tanya Eva pada Rava yang melihat Renata dan Rava sudah berpakaian rapi.


“Agh.. Rava mau membawa Renata ke suatu tempat Ma, Kami pamit dulu ya Ma,” kata Rava dengan menarik punggung tangan Eva dengan lembut dan salim pada mamanya.


“Iya nih Ma, Rena juga enggak tahu mau di bawa ke mana, Mas Rava enggak mau kasi tahu ke mana dia mau membawa Renata,” ujar Renata juga mencium punggung tangan Eva.


“Masssss???” kata Rava dan Vara bersaamaan.


“Astaga… Kakak di panggil Mas oleh kak Renata, kok Vara jadi geli ya?” Vara tertawa.


Rava mengkerutkan keningnya, “Kamu aja geli, bagaimaan dengan Kakak . Kamu jangan mengada-ngada Istriku, panggil Aku my sugar.” perintah Rava.


“My sugar? Apaan lagi itu? kok manja amat sih?”  protes Vara.


“Emangnya kamu dan Harsen saja yang pakai My prince, my pirincess? Kakak juga ada , My Sugar and my Candy,” Rava terlihat sangat bangga dengan yang di katakan.


“Vara rasa Kak Rava mulai Ma, Maaf.. Vara mau naik ke atas ya  Ma. Ka Rena hati-hati, bisa saja kak Rava mengidap gangguan jiawa,” Vara berkata sambilan berjalan ke arah tangga.


“Woiii.. Enak saja ya!” jerit Rava ke arah Vara.


“Dasara ya tu anak… kok gemesin banget rasanya.” gumam Rava senditi.


“Sudalah…katanya mau pergi. Jalanlah, hati-hati di jalan, jangan balap-balap.” Eva mengingatkan sang anak.


“Iya Ma… Enggak balap-balap kok, cuma ngebut-ngebut.” ledek Rava lagi.


“Kamu ini, sudah sana lanjut jalan. Hati-hati di jalan ya sayang… jaga Renata baik-baik.” kata Eva lagi.


“Iya Mamaku sayang, bye…Ma. Rava dan Renata berangkat ya,” balas Rava dengan menarik lembut tangan Renata.


“Iya Ma.. Kita berangkat ya Ma,” Renata menimpali.


“Iya…” Eva menjawab dengan  senyum yang menghiasi bibirnya.


Rava dan Renata bersama berjalan menuju pintu keluar menuju parkiran mobilnya. Di dalam mobil, langsung saja Renata memakai seatbeltnya.


“Kita mau ke mana sih sebenarnya sayang?” tanya Renata tidak sabaran.


“Tunggu saja, pasti kamu akan senang,” balas Rava dengan melajukan mobilnya.


Renata menarik nafasnya, “Baiklah… Pria misterius,” balas Renata.


Rava melirik sekilas ke Renata dan tersenyum, melihat wajah Renata yang sedikit kesal itu. Rava melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, memasuki keramaian kota Jakarta. Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di area parkiran Panti Asuhan, sejenak Renata terdiam. Sebelum Ia melepaskan seatbeltnya.


“Kita di ke sini mau ngapain sayang?’ tanya Renata.


“Lah… kalau ke sini artinya mau ngapain?” tanya Rava balik dengan memposisikan tubuhnya tepat di depan Renata.


“Kamu enggak ada bilang apa-apa soal ini ke Aku, sugarku yang ngegemesin,”ucap Renata dengan sedikit kesal.


Rava menarik tangan renata dengan lembut, “Iya candyku… kan ke sini juga enggak mesti pakai laporan, kan enggak ada larangan juga gitu,” Rava menatap manja.


“Tapi kan, kita mesti ada persiapan untuk mereka Sayang,” ujar Renata lagi.


“Sudah.. Ayolah turun dulu, kita temui anak-anak di dalam. Bukankah Kau menyukai anak-anak? Aku hanya ingin memperkenalkan kamu ke mereka, sebagai Istriku sekaligus Mama, sebelum kita berangkat bulan madu nanti sayang,”


“Mama?” tanya Renata bingung.


“Ayolah,” Rava melepaskan tangan Renata dan melepaskan seatbeltnya dan membuka pintu segerah turun dari mobilnya.


Langsung saja Rava berjalan menuju ke kerumunan anak-anak yang sedang bermain dan mengetahui kedatangan rava pagi itu. Renata akhirnya mengikuti Rava, Ia turun dari mobil dan berjalan menuju Rava dan anak-anak yang langsung senang melihat Rava.


“Papaaaaa….” seru anak perempuan yang barusan keluar dari dalam panti menuju lapangan panti asuhan dan berlari menuju Rava serta memeluknya.


“Alea,”seru Rava membuka kedua tangannya, dan memeluk anak berumur 10 tahun itu.


Renata yang sudah hampir tiba di belakang Rava, terhenti tiba-tiba, ia berpikir sendiri, tampak kemesraan anak dalam pelukan Rava, membuat Renata bertanya-tanya sendiri di dalam hati dan pikirannya.


“Papa???” tanya Renata sendiri.


Bersambung.


***


LIKE dan VOTE berikan dukungan kalian ke penulis ya. Mohon bantuannya ya, jangan pelit-pelt dong ,Terima kasih ^^