My Chosen Wife

My Chosen Wife
RINDU.



"Renata... Jangan bercanda!."


 


 


“Aku tidak  sedang bercanda, aku serius” Renata memilih untuk rebahan, dan mencoba memejamkan matanya, dan menarik selimutnya untuk menghindari tatapan kesal Rava pada dirinya. Dalam hatinya Renata, sebenarnya dia sangatlah senang, karena akhirnya Rava ternyata mencintai dirinya. “Harusnya aku berterima kasih pada Vara, membuatnya sadar akan perasaannya terhadapku dengan adanya kejadian ini. Tetapi kenapa kecelakaan yang menimpa diriku, Rava yang berubah?”  gumam Renata dalam hatinya.


 


 


Renata membuka matanya sebelah kiri, mengintip pada Rava yang masih saja menatap kesal, seperti tidak terima.


 


 


“Kau mau main-main denganku?” tanya Rava yang tahu si Renata mengintipnya.


 


 


“Tidak.. aku sedang mengantuk, hoaaaammmm.” Renata mulai ingin membalikkan badannya untuk membelakangi Rava.


 


 


Rava tidak tinggal diam , dia pun ikut rebahan dan menarik tubuh Renata untuk tetap berhadapan dengannya. Renata terbelalak, saat wajah Rava sudah sangat dekat dengannya. Jantung Renata tidak seirama seperti sebelumnya, dengan jantung yang berdebar-debar perasannya mulai tidak karuan karena menatap wajah tampan Rava. Rava tersenyum, sebenarnya ia tahu Renata masih memiliki perasaan yang sama dengannya, hanya saja tidak di pungkuri olehnya, pengorbanan Renata selama ini ke dirinya Rava, tidak sebanding dengan pernyataan cinta Rava pada Renata. Dengan merangkul pinggang Renata, Rava tersenyum dan mulai menelusuri setiap wajah Renata dari dekat.


 


 


“Kenapa? Malu? Masih cinta kan denganku kan? Kau hanya purak-purak kan?” tanya Rava dengan suara terendahnya.


 


 


Renata segerah sadar dan mencoba menolak tubuh Rava agar menjauh, tetapi Rava menahannya dan semakin mendekapnya masuk kedalam pelukan Rava.


 


 


“Rava.. kau jangan begini. Nanti ada Dokter atau perawat yang masuk, apa kau tidak malu?” Renata semakin gugup di dalam pelukan hangat Rava.


 


 


“Tidak ada yang masuk, jam segini adalah jam untuk pasien beristirahat. Jika pun ada yang masuk, emangnya kenapa? Kau kan calon istriku, apa ada yang melarangnya?” ucap Rava membelai lembut puncak kepala Renata.


 


 


“Kau jangan mencoba untuk membujukku, aku akan tetap dengan pendirianku, Rava. Jika  kau benar-benar mencintaiku, buktikan kalau itu memang benaran cinta , bukan cuma sekedar rasa bersalah dengan apa yang aku alami.” ucap Renata dengan menengadah ke wajah Rava.


 


 


“Baik.. akan aku terima tantanganmu. Akan aku perlihatkan dan aku buktikan pada dirimu, aku benar-benar mencintaimu. Dan untuk malam ini, biarkan saja begini. Izinkan aku melepaskan rinduku padamu, kau membuatku sangat takut.” Rava menatap sendu pada wajah Renata.


 


 


Renata mengubah pandangannya, dia takut terpengaruh dengnan pendiriannya,  saat menatap wajah Rava yang sangat lembut itu, tidak seperti sebelum-sebelumnya, yang suka marah, suka mengabaikan dirinya, dan ini sangat berbedah, lembut dan sangat perhatian. Dulu mendapatkan senyuman Rava saja sangat sulit untuk Renata. Tetapi hari ini, senyuman Rava terus ia dapatkan.


 


 


“Sudah.. tidurlah. Istirahat, besok akan aku temani untuk melakukan CT Scan, aku harus memastikan tidak ada yang serius di tubuhmu ini. Tapi aku sangat bersyukur, kau itu sangat kuat seperti wonder woman saja,” Rava tertawa sendiri.


 


 


Renata yang didalam pelukan  Rava ikut tersenyum mendengar ucapan Rava, belaian tangan Rava yang lembut membuatnya mengantuk dan mulai mencoba untuk memejamkan matanya  di tempat yang paling dia rindukan, dada montoknya Rava yang selalu mampir di fantasinya Renata, hingga dia tertidur. Rava melirik kearah wajah Renata yang sedari tadi hanya diam. Di rasa Rava sudah benar-benar terlelap, ia menarik tangannya perlahan dan membawa kepala Renata ke atas bantalnya.


 


 


Rava menatap wajah Renata, ia tersenyum. Mengelus lembut pipinya, menyingkapkan rambutnya yang ada di pipi Renata, hingga menatap jelas pada wajahnya yang sangat teduh itu.


 


 


“Kenapa tidak dari dulu, aku menyadari perasaanku padamua?” gumamnya pelan.


 


 


Rava memilih memejamkan matanya, untuk ikut bergabung dengan Alam mimpinya Renata.


 


 


***


Kediaman Rava Atmadja.


 


 


Seluruh keluarga malam itu tiba di rumah Rava, di sambut bibi Tarni dan bi Marni menyapa seluruhnya dengan di suguhkan teh jahe. Rumah Rava sangat ramai, tetapi karena rumah sang anak memiliki banyak kamar dan ckukup menampung mereka semua, membuat Raka tidak mengizinkan satu pun dari mereka untuk menginap di penginapan. Jadilah semuanya, sampai si Frans turut tinggal di rumah Rava. Seusai semuanya meneguk habis teh jahe buatan pekerja Rava, Raka berubah jadi panitia, ia meminta semuanya berkumpul di ruangan keluarga.


 


 


“Frans… kau tidurlah dengan Defan di kamarnya, Varel dan Casandra tidurlah di kamar bawah ini, biar kalian lebih tenang. Terus Jimmy dan Anna pasti sudah tahu kamar kalian sendiri kan? Dan kau Eva, pastinya tidur denganku.” ucapnya dengan menaikkan kedua alisanya ke atas dan ke bawah secara bersamaan.


 


 


“Tentu dong, Eva akan tidur dengan Pak Raka. Mana mungkin dengan si orang-orangan salju” ledek Jimmy dengan melirik pada Frans.


 


 


“Mungkin saja, dia Mbaku.” jawabnya gak kala heboh dengan Jimmy.


 


 


Pluuuuukkkk…. Raka mentoyor kepala Frans.


 


 


“Duh bang Raka! Apaan sih sakit tahu.”


 


 


“Rasa apa Frans” tanya Varel.


 


 


 


 


“Habisnya.. mulutmu kelewat lebar.” sambung Raka dengan tatapan tajam ke Frans.


 


 


“Tidurlah sendiri, aku akan tidur dengan Vara.” Sambung Eva, membuat gelak tawa di ruangan itu pecah.


 


 


Raka  menatap sedih ke Eva, tetapi Eva membuang pandangannya , tidak ingin melihat wajah Raka yang sangat membuatnya kesal.


 


 


“Ma… Jangan kejam-kejam dengan papa, mama tahu kalau papa bisa keter sendiri kalau mama diamkan terus?” bisik Vara pada Eva.


 


 


“Biarin aja, mama enggak suka papa selalu mendominankan emosinya. Kasian kakakmu,” Eva kembali berbisik dengan Vara.


 


 


“Iya Ma, tapi jangan lama-lama dong, itu papa rindu sama mama loh.” Vara membujuk sang mama, karena dia tahu benar papanya si Raka enggak bisa lama-lama di diamkan oleh mamanya. Dan Vara memang tidak mau papanya terusan sedih.


 


 


“Ssssttt… ini urusan papa dan mamamu,” bisik Eva dengan menyentuh lembut kepala Vara.


 


 


“Iya deh mamaku sayang,” Vara merangkul pinggang Eva.


 


 


 


 


“Maaf Tuan dan Nyonya, makanan sudah terhidang. Silahkan di nikmati,” ucap bi Marni pada seluruhnya.


 


 


“Baik Bi, Terima kasih.” balas Harsen yang barusan masuk bergabung.


 


 


 


 


“Harsen… Apa papa dan mamamu tidak datang juga?” tanya  Frans mendekati Harsen dan merangkul pundaknya.


 


 


 


 


“Tidak… Mama dan Papa, Harsen mengelola perusahaanku selama aku di sini, Frans. Kau lihat itu si Jimmy? Dia juga ada di sini, jadi tidak mungkin kan semuanya berangkat. Tetapi jika ada waktumu, datanglah ke Jakarta , Nak. Minta ke Rava memberikanmu waktu, untuk ketemu dengan kedua orang tuamu.” Raka juga merangkul pundak Harsen, seakan memberikannya semangat karena hanya Leo dan Rere yang tidak bergabung dengan mereka.


 


 


“Tidak apa-apa, Paman, kalian semua yang di sini juga keluarga Harsen.” balas Harsen, lalu matanya menatap pada Vara  yang menatap Harsen tersenyum. Saat Vara tertangkap basah menatapnya dengan tersenyum, Vara membuang pandangannya dan  memudarkan senyumannya.


 


 


“Kalian terlihat sangat mirip, Pak Raka. Benar-benar seperti kakak adik yang romantis,” ledek Jimmy.


 


 


Dengan cepat Raka melepaskan rangkulannya dari pundak Harsen, dan menatap tajam ke Jimmy.


 


 


“Sudah.. jangan aneh-aneh Jim, ayolah pak Raka kita makan malam,karena ini sudah jam istirahat harusnya.” Varel memang sudah sangat lapar plus lelah. Apa lagi dia memikirkan Casandra yang sudah banyak menguras air matanya.


 


 


“Baiklah… semuanya ke ruangan makan, anggaplah ini di rumah kalian sendiri.” Seru Raka pada semuanya.


 


 


 


 


Semuanya pun berjalan menuju meja makan, Defan dan James berbincang dengan berjalan bersama ke meja makan, karena game online yang mereka mainkan membuat keduanya menjadi akrab, Jimmy dan Anna tersenyum. Karena Defan memang sangat berbedah dari Frans yang tidak tahu malu itu, sedangkan Eva yang berjalan terakhir di hentikan oleh Raka. Raka menarik tangannya dengan lembut.


 


 


“Sayang… jangan marahan lagi dong, Aku enggak sanggup terus begini. Aku minta maaf, untuk semua yang aku lakukan semuanya.” ucap Raka dengan memohon, wajahnya pun berubah sedih.


 


 


Kalau sudah begitu, benteng pertahanan Eva pun ambruk. Dia tidak tega dengan wajah tampan Raka yang sudah  berubah mirip boneka Barbie itu.


 


 


“Ya sudah.. Nanti kita bicarakan di kamar, sekarang ayo kita makan.” ajak Eva dengan mengulurkan tangannya. Secepat itu Raka merubah raut wajahnya, dengan girang Raka  menyambut tangan sang istri. Keduanya saling tersenyum dan berjalan ke  ruangan makan dan bergabung dengan yang lainnya, menikmati makan malam dengan penuh kemesraan antar sahaabat yang sudah di anggap keluarga bagi mereka semua.


 


 


.


Tekan Like dan jangan lupa Votenya ya ^_^