
Ghia merasakan perutnya diaduk-aduk, dengan cepat ia lari kedapur memuntahkan semua isi perutnya.
"Uek, uek.... " muntah Ghia membuat Laras menghampirinya dan memijit tekuk Ghia.
"Lo kenapa Ghi? " tanya Laras menuntun Ghia duduk.
"Gak tau, perut gue diaduk-aduk Ras. Kepala gue juga pusing belakangan ini. " jawab Ghia setelah duduk dan memijit keningnya.
"Lo ada salah makan? " tanya Iren yang datang dengan teh hangat, dan menyerahkan ke Ghia.
"Uek, gak ada malah porsi makan lebih dari sebelumnya. " jawab Ghia dan menerima teh hangat dari Iren dan meminumnya,"makasi Ren. " sambung Ghia.
Icha tersenyum mendengar keluhan Ghia, Icha bangkit dan mendekati Laras dan Ghia. Icha memasang tengtopnya dileher, Iren menyingkir membiarkan Icha duduk disamping Ghia.
Icha memeriksa tubuh Ghia dengan telaten, wajah Ghia juga pucat dan Indra datang dengan kantung plastik pizza rasa keju.
"Cha bini gue kenapa kok pucet gitu? " tanya Indra khawatir dan Icha menyeringai jahil.
(Cha lo senyum devil, pasti ada gak beres nich. ) batin yang lain dan Arkya terkekeh mendengar batin yang lain.
"Lo apain Ghia semalam sampai muntah? " tanya Icha pura-pura galak.
Glek...
Indra menelan ludahnya susah payah, sambil menggelengkan kepala. "Gue gak apain kok, semalem dia minta gue masakin nasi goreng. Kan lo tau cuma gue yang gak bisa masak, dan buatan gue keasinan tapi dia bilang enak. Mau larang gue yang diancem gak dikasi jatah, terus tidur diluar. " jawab Indra jujur.
"Gak asin kok, enak malah kalau asin ngapain gue sampai nambah dua piring. " sewot Ghia membuat yang lain menganga.
(Adeh, jelas enak kan anaknya yang minta gimana sih. ) batin Icha dan tersenyum.
"Terus lo beli apaan nich? " tanya Icha galak lagi.
"Ini pizza rasa keju yang gue minta. " jawab Ghia dan menarik plastik yang atas meja lalu mengeluarkan tiga tempat pizza, Icha mengengambil ketiga kotak pizza yang ingin dibuka Ghia.
"Lo alergi keju Ghia, kalau elo makan yang ada dada lo sesak dan gatal-gatal. " cegah Icha galak.
"Cha gue pengen makan loh, lo tega ama gue Cha. "mohon Ghia sampai menangis, membuat Rosa terkekeh melihat Ghia merengek.
"Hemster kasi aja, buatin dia penawarnya kasian tuh udah memohon kayak gitu. " sahut Arkya membantu Ghia.
(Untung lo ngidam, kalau enggak ogah gue kasih. ) batin Icha sedikit kesal.
"Ren buatin jus mangga dulu, nich buat lo satu aja gak boleh banyak. " ucap Icha dan Iren datang dengan jus mangga, dan menyodorkan ke Icha.
Icha pun mengambil jus yang dibuatkan Iren, dan mengambil sesuatu dijas kedokterannya. Setelah dapat Icha menuangkan dijus, lalu mengaduknya hingga rata dan menyodorkan keGhia.
Indra membukakan kotak pizza untuk Ghia,"yang boleh minta dikit gak? " tanya Indra.
"No, ini semua punya aku. Kalau mau beli sendiri. " jawab Ghia dan mengambil ketiga kotak pizza membuat yang lain melongo tak percaya.
"Udah biarin ntar ngambek ribet lagi, Dra gue pengen bicara ama lo bisa. " ajak Icha dan Indra mengangguk lalu berdiri. Icha jalan ketempat duduknya tadi, dan Indra duduk disamping Arkya agak jauh agar berhadapan dengan Icha.
"Bini gue kenapa sih Cha? Makannya lebih dari biasanya? " tanya Indra khawatir.
"Maksud lo apaan sih? " tanya Indra gak mudeng dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue tanya ama lo, kapan terakhir beliin bini lo pembalut? " tanya Icha dan mengaduk jus.
"Dua bulan yang lalu, dan sekarang belum disuruh lagi. " jawab Indra jujur.
"Jadi artinya apa? Lo ngak sadar ama tubuh Ghia berisi gitu, makannya aja udah kayak gak makan tiga hari. Lo gak sadar kalau Ghia sering nangis dan minta ini itu, lo juga gak sadar dia sering marah-marah. " ucap Icha menatap Indra.
"Berarti ada malaikat kecil dirahim Ghia, dan bodohnya gue gak sadar. Berapa usianya Cha? " tanya Indra baru ngeh.
"Kurang lebih dua bulan, kurangin berhubungan badan. Karena si kecil masih lemah puasa dulu selama sebulan, dan jangan buat dia setres terus selama Ghia hamil lo tinggal ama mertua lo. Kalau elo kantor kan dia gak sendiri, satu lagi turuti semua yang dia mau. " jawab Icha panjang.
"Kalau enggak anak lo ileran mau? " tanya Derel menakuti Indra.
"Ya enggak lah, empat tahun gue menanti dan gue gak mau kehilangan lagi. " jawab Indra dan bahagia.
"Belajar dari kesalahan lo dulu. " sahut Arzya menepuk bahu Indra, tapi yang kena malah pipi Indra membuat yang lain tertawa.
"Untung gue punya temen dokter, gak repot kerumah sakit. Makasi ya Cha selama ini lo tahan ama Ghia, ya udah gue samperin Ghia dulu. " ucap Indra.
"Sama-sama, boleh berhubungan badan tapi jangan sering dan pelan-pelan. " balas Icha dan tersenyum.
Indra mengangguk dan lari menghampiri Ghia, setelah dekat ia mengangkat tubuh Ghia berputar-putar.
"Mas pusing ini, turunin dan kenapa kau malah senyum lihat bini mual-mual. " sewot Ghia membuat yang lain tertawa.
"Ghi lo kayak habis pms aja, marah-marah mulu ama laki lo. " sahut Vita menatap keduanya.
"Tau nich, kalau Indra pergi dan cari istri lagi dan gugat cerai lo gimana mau? " tanya Verel nakut-nakutin Ghia.
"Gak boleh, mas Indra cuma milik gue. " jawab Ghia dan memeluk tubuh Indra dengan erat.
"Istriku cuma kau sayangku. " sahut Indra dan mengelus kepala Ghia.
"Jadi kenapa tadi senyum-senyum gitu? " tanya Ghia serius.
"Disini ada malaikat kecil didalam perutmu. " jawab Indra dan mengelus perut Ghia yang masih rata.
"Aku hamil? Kenapa baru bilang mas? Sengaja ya biar kabar bahagia ini diumpetin dari aku gitu iya? " tanya Ghia bertubi-tubi seraya memukul lengan Indra.
"Auww, auww yang sakit. Mas baru dikasi tau ama Icha, aduh udah donk sakit ini. " jawab Indra sambil menghindar.
Ghia terdiam dan Indra menariknya kedalam pelukannya, lalu mencium kening Ghia dengan kasih disertai air mata bahagia. Ghia juga menangis serta mengelus perutnya, yang didalamnya sudah ada malaikat kecil setelah keguguran tiga tahun lalu.
Akhirnya selesai juga...
Jangan pernah bosen ya gaes....
Disinilah awal kesabaran yang harus dimulai Indra, walaupun ia sengsara asalkan demi untuk anak tercinta.