
..."Aku merasa canggung menjalani hubungan ini dengan sepupuku sendiri, aku harus bagai mana tak mungkin aku memutuskannya. Itu sama saja akan menyakiti hatinya, tapi kami saudara aku bingung dan malu bila harus pacaran dengan sepupuku sendiri. " ...
...Laras....
...Putus dan operasi jantung?...
PAGI PUN DATANG....
Hari berganti jadi bulan, tak terasa sudah dua bulan Indri dan Verel kembali dekat. Tapi sebagai seorang sahabat, Laras dan Arzya juga sedikit merenggang entah karena orang ketiga atau apa tak tahu. Yang tahu hanya mereka dan tuhan saja, Arzya juga merasa ada yang mengganjal diperaasaannya pada Laras.
Laras yang memang ingin menghindar, Arkya juga menyadarinya bahkan termasuk para orang tua kedua belah pihak juga tau. Icha juga sudah tak marah lagi, Verel sudah berhasil mengubur rasa cintanya untuk Indri.
Disekolah.....
Arkya dan yang lain sudah ada disekolah, Perasaan Indri terhadap Verel masih bersemayam dihatinya. Indri berjalan dikoridor dengan lesu, dibelakangnya juga ada Laras yang bertekad untuk mengakhiri hubunganya dengan Arzya.
"Laras awas lo nabrak. " teriak Verel dan
Buagg...
"Kalau jalan tuh liat-liat biar gak nabrak orang. " omel Laras sambil mengelus keningnya, yang menabrak dada bidang Arzya.
"Emang kau mikirin apa sih sayang? " tanya Arzya dan tersenyum manis, mampu membuat kaum hawa histeris.
"Engak papa kok, ya udah aku duluan ya daa. " jawab Laras dan langsung melenggang pergi.
(Ya tuhan, mampukah aku menghancurkan senyuman manisnya itu. ) batin Laras dan masuk kelasnya.
Deg....
Arkya yang mendengarkan batin Laras, langsung perasaannya tak karuan terhadap kembarannya. Icha melambai mesra saat melihat Arkya, didepan pintu kelasnya dengan secepat kilat lari masuk kelas dan bel berdering.
3 Jam kemudian.....
Kriiiing....
Bel istirahat pun berdering, semua murid berhambur keluar kelas menuju kantin. Arkya dan yang lain pun ikut keluar kelas, sepanjang jalan Derel terlihat bimbang.
"Rel lo kenapa? gak kayak biasanya? " tanya Arzya yang disamping Laras.
"Susah banget. " jawab Icha singkat dan duduk disamping Arkya.
"Apanya yang susah? Kalau susah kenapa gak mundur aja? " tanya Ghia dan minum jus.
"Hah tanggung jawab berat, gue udah coba undurin diri tapi ngak bisa. Yang ada gue kena pinalti atau denda. " jawab Icha dan makan somaynya.
"Berapa dendanya? " tanya Laras yang sudah selesai makan.
"Satu Triliun. " jawab Icha membuat yang lain menganga tak percaya.
"Eh buset, banyak amat. Jangankan cari segitu, cari lima puluh ribu aja susah. " sahut Arzya dan minum jus.
"Untuk berapa lama sayang? " tanya Arkya yang penasaran setelah selesai makan.
"Selama-lamanya sampai tua, baru pensiun sayang yuk bayar. " jawab Icha dan berdiri, lalu membayar.
Arkya dan yang lain pun membayar makan, tapi saat berbalik telinga Icha mendengar seseorang yang menahan sesak nafas.
"Hah, hah. Asmaku kambuh ambilkan obatku ditas. " pintanya dan salah satu cowok panik, Icha menyodorkan obat nafas pada adik kelasnya.
Dengan cepat gadis itu mengambilnya dan menyemprotkannya kemulut, dan berselang lama nafasnya membaik.
"Sudah membaik nafasnya? " tanya Icha membuat Arkya dan yang lain tak percaya, kalau Icha membawa obat-obatan.
(Mengangumkan kau sayang. ) batin Arkya dan tersenyum tipis.
"Sudah kak, makasi banyak. " jawabnya dan tersenyum.
(Wajahnya seperti pernah liat, tapi mana yaa? Arrghhh astaga dia dokter dari Amerika. ) batin si cowok yang panik tadi.
"Kalau punya asma, obatnya disetiap kondisi dan jangan ikut meting kelas lomba lari. Ikut yang lain dan jangan terlalu capek, ini kartu pengenalku. Kalau ada apa-apa telfon saja. " ucap Icha menyerahkan kartu pengenalnya, dan diterima oleh adik kelasnya.
Arkya dan yang lain pun menuju kelas, Derel menjadi tambah penasaran ingin bertanya tapi tak jadi karena bel masuk berdering.
Jangan lupa like dan vote...