
"Hehe makasi, udah duduk aja lagi. " balas Arzya dan cengengesan.
Rayen lari menuju toilet, dan wajah Bintang menjadi sendu melihat Rayen tak menatapnya. Arzya duduk disamping Icha, Icha menyenggol lengan Arzya yang jadi ketua.
"Gimana enak gk udah dapet gelar baru? " tanya Icha dan memasukkan kentang mulutnya.
"Enak apaan coba gue dag dig dug lah, kayak nembak cewek. " sewot Arkya dan minum jus milik Arkya, anak macan pun berdiri dan mendekati Arzya.
"Ketua baru kami pamit ya, kita percaya sama lo. Kalau ada ide gila lagi kasi tau ya, aku orang yang pertama bantu. " sahut yang bermata delima.
"Sip lah, kalau gak ada misi jangan terlalu formal. Lo gue aja ya, kecuali yang lebih tua aja. " balas Arzya dan jabat tangan ala cowok, dan yang lain pun ikut salaman.
Rayen kembali dan duduk disamping Icha yang mabar bersama dengan Zaza, Icha merasakan ada yang tidak beres dengan Rayen.
"Abang Rayen lamar kak Bintang sekarang. " sahut Icha membuat yang lain terkejut.
"Tapi dia tidak percaya sama abang dek. " balas Rayen dan Bintang berdiri dihadapan Icha dan Rayen dengan penampilan serba Biru, termasuk topeng mata biru dan jubah panjang berlambang macan membuat semua terkagum.
"Ketua aku pamit ya, aku mau cari pelaku penyiraman Indri di Amerika. " pamit Bintang membuat Icha langsung berdiri.
"BINTANG JINGGA PUTRI. " teriak Icha murka dan mata Icha ditutupi topeng.
Sepasang tangan kekar memeluk pingggangnya, dan kepalanya dibalik punggung Bintang.
"Kalau kau pergi, lebih baik mas ngak nikah selamanya. Dari pada nikah ama gadis lain, bukan denganmu. " sahut Rayen membuat Bintang mengelus tangan kekar Rayen.
"Tapi aku udah bikin hati mas sakit kan? Kenapa masih ingin menikahi aku hmm? " tanya Bintang dan melepaskan pelukan Rayen.
Keduanya saling pandang, dimata Rayen menyatakan banyak kerinduan yang mendalam. Bintang berhambur kepelukan Rayen, air mata keduanya runtuh dan Rayen memeluk erat tubuh Bintang.
"Karna hanya seorang gadis yang bernama Bintang, mampu buat hati mas jungkir balik dan uring-uringan disaat kau menolak pertolongan mas dulu waktu kita pertama bertemu. " jawab Rayen dan yang lain memandang haru keduanya.
Bintang melepaskan pelukannya, tangannya menghapus air mata Rayen.
"Udah ajak kepelaninan bang, atau barengan ama aku dan kesya kan sayang? " tanya Vian kepada kesya.
"Boleh juga tuh, tapi mas Vino gimana masak iya kita tinggal? " tanya Kesya pada yang lain.
"Iya juga ya, mereka kan baru dekat. Masak iya langsung nikah, kalau mereka ribut gimana? " tanya Arkha juga baru tau.
"Hmm mas Vino dan Keyla mau nikah gak bareng ama yang lain? " tanya Icha serius.
"Maulah Cha, biar kami saling mengenal dalam hubungan halal. " jawab Vino serius.
"Kalau begitu besok berjuanglah mendapatkan restu dari seseorang. " jawab Icha santai.
"Siapa Cha/hemster? " tanya semua serempak, membuat Icha terkekeh.
"Sabar, besok pasti kalian tau siapa orang ku maksud. Kak Bintang dimana byakugan? " tanya Icha.
"Dimarkas tidur, tadi habis keliling markas soalnya. " jawab Bintang dengan penampilan seperti biasa, jubahnya sudah bersembunyi dan tangannya mengelus perut buncit ratih.
"Hmm kena hukuman dari salah satu anggota kita, yang dijailin habis-habisan ama byakugan. " jawab Bintang.
Icha menepuk keningnya,"aduh anak itu ngak ada habisnya bikin masalah mulu. " ucap Icha mengeluh.
"Yang nanti nginep ya dirumah, biar langsung berangkat kebandara juga. " pinta Arkya menggenggam tangan Icha.
"Ma, pa. Boleh ngak? " tanya Icha pada Sonya dan Anji.
"Boleh asal jaga batasan, Icha tidur dikamar tamu aja. Gak boleh sekamar ama Arkya, ya tau mereka tunangan tapi gak boleh hilaf. " jawab Anji.
"Janji om, hanya peluk aja kok gak lebih dari itu. " ucap Arkya dan tersenyum dingin.
"Baiklah, nanti aku menginap. Tapi aku pulang dulu ambil baju, aku ada kuliah siang besok jadi aman. " balas Icha membuat Arkya memeluknya erat.
Setelah itu mereka bersih-bersih, untuk menutup restoran dibantu yang lain diiringi gelak tawa. Hanya Ratih yang ringan, karena masa kehamilannya membuat Ratih cepat lelah.
MALAM PUN DATANG....
Icha sudah berada dirumah si kembar, setelah makan malam Taufan, Ratih, Rayen, Arkya, Arzya serta Icha duduk diruang tamu sambil nonton tv. Hanya Icha yang tidak ia sedang membuat surat untuk seseorang, rasa kepo Ratih pun bangkit.
"Icha. " panggil Ratih lembut membuat yang dipanggil menatapnya.
"Ya bunda. " sahut Icha dan kembali mengetik dilaptop.
"Boleh tanya sesuatu ngak. " ucap Ratih dan Icha tersenyum kearah Ratih.
"Tanya banyak juga boleh bunda. " balas Icha dan mengeprint surat yang diketik tadi.
"Kenapa kau ngak pernah nangis? Cuma tatapan sedih aja yanh bunda liat? " tanya Ratih hati-hati.
"Ceritanya tragis bunda, kalau pun diceritain bakalan gak kelar-kelar. Icha bisa nangis kalau disaat mendesak aja bunda. " jawab Icha dan melipat surat, lalu memasukannya kedalam amplop putih.
"Bunda istirahat aja, sama om kan capek pulang kerja. Lo berdua juga tidur sana masukk. " sambung Icha.
"Ya udah ayah duluan ya sama bunda, kau juga tidur ya. " pamit Taufan diangguki Icha.
"Cha gue duluan, besok kelas pagi jam 8. " pamit Arzya dan memakai kacamatanya.
"Iya sana masuk, ajak kembaran lo itu. " ucap Icha dan Arzya menarik tangan Arkya untuk tidur.
Icha mematikan laptopnya, lalu menutupnya Icha menatap punggung Arkya yang hilang dibalik pintu kamar. Ia pun bangkit dan nrnatikan lampu, lalu jalan menuju kamarnya yang dibawah.
Akhirnya selesai juga....
Jangan lupa like dan vote ya gaes...
Chapter 20 masih mikir dan ketik....