
"Mungkin Indri gugup duduk disamping lo. " sahut Verel dan membuat Arzya tersenyum kecut.
"Atau gue yang terlalu berharap sama Indri, sudahlah gue mau kerumah sakit aja. " balas Arzya dan menyambar jaket serta kunci mobil, lalu jalan menuju pintu resto.
"Hati-hati lo dijalan. " teriak Arkya merasa kasihan dengan kembarannya.
DIRUMAH SAKIT....
Mobil Arzya berhenti didepan rumah sakit, matanya sedikit perih dan menguceknya lalu menbuka pintu mobil. Arzya jalan kemeja administrasi, dan
Buaggg...
"Aduhhh sakit pea, kalau jalan pakek mata. " semprot Ghia tak melihat siapa yang menabraknya.
"Ya sorry, mata gue perih ini. Awas gue mau kedokter mata dulu," balas Arzya dan meninggalkan Ghia yang melihatnya mengucek mata.
"Zya tunggu gue ikut. " teriak Ghia dan mengejar Arzya yang menabrak Icha hampir jatuh, kalau tidak ditahan Icha.
Arzya menatap Icha dan Ghia menjadi empat, lalu mengucek matanya lagi hingga melihat kedau sahabatnya kembali dan kembali lagi.
"Cha dimana rungan Dokter mata? " tanya Arzya dan Ghia menatap Arzya.
"Sini gue anterin biar gak sesat lo. " jawab Icha dan berbalik, lalu jalan menuju ruangan Arkha diikuti Arzya san Ghia.
Diruangan dokter mata....
Arzya sudah duduk dihadapan dokter, ditemani dengan Icha dan melihat foto diatas meja sang dokter.
(Wajah anak ini mirip dengan anak macanku, tapi kenapa tidak bilang sama gue. ) batin Icha dan memperhatikan Arzya.
"Ada perlu apa anda kemari? " tanya dokter dan melirik Icha.
"Dok saya hanya ingin tau, kenapa mata saya seperti rabun dan selalu menabrak orang? " tanya Arzya.
"Apa kau pernah mengalami kelilipan misalnya? " tanya Dokter balik dan mengambil berkas formulir.
"Pernah, kemarin malam dokter. " jawab Arzya dan menatap dokter dihadapannya.
Dokter mengangguk, merasa ada yang ganjal. "Ayo kita periksa dulu biar tau pemasalahannya. " ucap dokter dan bangkit, Arzya juga ikut masuk keruang periksaan.
Icha mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya, dan mengechat anak macan Biru.
Ketua.
"Keyla ajak anak-anak kerosto jam makan siang. "
Send.
^^^Keylamacan Biru.^^^
^^^Send.^^^
Ketua.
"Sekitar dua puluh orang, bawa jaketku juga yang aku simpan didalam lemari ya. "
Send.
^^^Keylamacan Biru.^^^
^^^"Baik ketua, kami akan datang sekalian makan juga. " ^^^
^^^Send.^^^
Ketua.
"Aku tunggu. "
Send.
Chat pun berakhir, begitu pun dengan Arzya yang sudah selesai diperiksa dan kembali duduk disamping Icha.
"Jadi gimana dokter? Apa masalah serius? " tanya Icha dengan perasaan was-was.
"Tidak, matanya positif rabun jauh dan rabun dekat. Untuk bisa melihat dengan jelas, harus pakai kaca mata minus. " jawab Dokter dan membuka laci lalu mengambil kacanata hitam, dan sedikit putih lalu menyerahkannya keArzya.
Arzya meraihnya dan membolak balikan kata mata, dan ragu untuk memakainya Icha yang nelihatnya geram. Lalu merampas kacamata dari tangan Arzya, dan memakaikannya.
"Dokter apa rabunku ini permanen atau tidak? " tanya Arzya membenarkan letak kacamatanya.
"Maaf dengan berat hati dokter bilang, rabunmu permanen gak bisa hilang. " jawab Dokter.
Deg...
(Gimana kalau Indri menjauh? Gue gak mau kehilangan dia astaga aku gak sanggup lagi. ) batin Arzya.
"Kalau gitu kami uundur diri dokter. " pamit Icha dan salaman.
"Makasi dokter. " ucap Arzya sebelum keluar ruangan.
"Sama-sama. " balas dokter dan Icha serta Arzya jalan menuju parkiran, lalu menaiki mobil Arzya bersama Ghia yang sudah menunggunya.
Jangan lupa like dan vote....