Ketosku Loveku

Ketosku Loveku
Episode 32



"Untuk sat ini belum ada, gue pikirin dulu kalau udah ada gue samperin lo kekelas aja. " balas Laura.


"Terus temen lo kenapa diem? Bisu ya? " tanya Nian.


"Enak aja lo, gue Iren dan gak berniat untuk kerjasama jadi gue diem. " sahut Iren ketus.


"Apa lo gak naksir yang satunya? " pancing Nian dan menyeringai.


"Naksirlah, dia cowok idaman gue dan gue mau rebut dia dari tangan pacarnya. " jawab Iren dengan emosi.


"Jadi lo juga mau kerja sama sana gue? " tanya Nian.


"Kagak, biar gue sendiri aja. Tapi gue pinjem anak buah lo sekitar lima belas. " jawab Iren dan tersenyum, sambil menatap Nian.


"Oke, setelah ada rencana hubungiku. " ucap Nian dan bersandar disofa.


"Ya udah gue pamit dulu, byee. " pamit Laura bangkit, diikuti Iren dan melegang pergi.


Dirumah sakit....


Diruangan Icha....


Icha duduk dikursi kebesarannya, ditabgannya ada data tentang penyakit Ghia. Ia bersama dengan suster Lili yang selalu ada dimana pun Icha berada, kecuali pulang kerumah dan nanti sore Icha akan pulang.


"Kak lili sudah berapa besar kanker Ghia? " tanya Icha yang memakai jasnya dan tengtop dilehernya.


"Sudah dua kepalan tangan dokter. " jawab suster.


"Besar juga, liburan semester nanti aku akan mengajaknya kemo. " ucap Icha dan mengambil ponselnya dan menelfon Ghia.


"Ha-hallo Icha. " sapa Ghia setelah menganggkat panggilan dari Icha.


"Kenapa lo gagap? Lo dimana? Ama siapa? " tanya Icha bertubi-tubi.


"Gak papa, gue dijalan mall sama Indra. Kenapa? " tanya Ghia dan tangan Indra bergalut dngan manja.


"Gak papa, ntar malam gue kerumah lo jam 7 setelah makan malam paham. Awas lo kabur," jawab Icha disertai ancaman.


"Iya ibu dokter. " ucap Ghia geram dan mematikan telfon sepihak.


Setelah selesai Icha menggerutu karena ia belum selesai bicara, dan mendata tangani surat operasi paru-paru.


"Egh Ghia awas lo, gue belum selesai ngomong lo tutup telfonnya. " gerutu Icha dan berdiri lalu membuka jasnya serta tengtop.


"Hihi sabar, kau harus membujuknya untuk kemo. " ucap suster Lili dan terkekeh.


"Ayo kak, aku mau tidur sebentar dan mau pulang. " balas Icha jalan pincang dan keluar ruangan diikuti Lili yang dibelakangnya.


Sepanjang koridor semua suster menyapa Icha, karena tau Icha tunangan dari sepupu pemilik runah sakit. Bukan karena sebagai dokter, itu membuat Icha benar-benar kesal dan masuk ruangan lalu tidur dengan terlelap hingga malam.


MALAM PUN DATANG....


Dikediaman Tio....


Pukul 7 : 00 sesuai dengan ucapan Icha ditelfon, kini Icha dan Ratih sedang bertamu dirumah Ghia. Bahkan Indra juga Arkya juga ada sebagai sopir Icha, yang mrmbawa mobil Ratih.


"Gue mau bicara serius ama lo bedua. " jawab Ratih dan Icha mengeluarkan berkas dari tasnya, lalu menyodorkan kearah Rosa dan Tio.


"Ini apa maksudnya? " tanya Tio dan menarik map yang ada diatas meja.


"Baca aja om, semuanya ada disitu. " sahut Icha dan bersandar disofa, Tio dan Rosa pun membuka map dan membaca air mata Rosa langsung menetes.


Setelah tau kebenaran tentang Ghia yang mengidap kanker rahim stadium dua, Tio merangkul Rosa dan menangis dipelukan suaminya hingga senggukan.


"Apa ada cara untuk sembuhkannya Rat? " tanya Tio mengelus punggung Rosa.


"Ada banyak cara, itu pun kalau Ghia mau ikuti. " jawab Ratih.


"Ap-apa aja Rat? " tanya Rosa sambil senggukan.


"Kemo 1 bulan tiga kali, dan angkat rahim Ghia. Berarti Ghia gak akan bisa hamil selamanya. " jawab Ratih dan melirik Ghia yang menunduk.


"Ayo diminum dulu. " tawar Rosa, dan Ratih serta yang lain menganguk.


"Tante kamar mandi dimana? " tanya Icha sedikit kesal.


"Ada dikamar tamu sebelah kanan, biar Ghia antar. " jawab Rosa dan Ghia mendongak menatap Icha.


Icha berdiri dan menggeleng, dengan pincang dan menuju kamar mandi. Ghia juga mengejar Icha, ia tau sahabatnya ini sedang marah. Setelah selesai Icha menuju ruang tamu, tapi tangannya ditahan Ghia.


"Cha lo marah ama gue? " tanya Ghia dan yang lain melihat keduanya.


"Gak kok, ngapain juga gue marah gak guna. " jawab Icha dan melepas tangan Ghia.


"Te-terus kenapa lo diem aja Cha, hiks? " tanya Ghia sambil terisak membuat Indra sedih.


"Emang gue gak bisa marah, tapi gue kecewa sama lo Ghi. Elo egois gak mau berobat, lo liat air mata bonyok lo Ghi. Dan sekarang lo pacaran sama Indra, kalau nanti hubungan lo dan dia kepelaminan. Dan lo hamil disaat itu juga Indra harus memilih diantara kalian berdua, pilihan itu berat Ghi. " jawab Icha panjang lebar sambil sedikit bentakan.


Deg...


Jantung Ghia berdebar dengan cepat, dan berhambur kepelukan Icha dan menangis seseguka. Icha tak membalas pelukan  Ghia, ia membiarkan Ghia menumpahkan air matanya.


"Gue mau berobat, tapi elo yang temenin ya. Gue takut, ya. " ucap Ghia dan Icha melepaskan pelukan.


"Iya gue yang temenin, asal lo rutin jalanin kemo. Tiga hari lagi kita keto oke, Udah jangan nagis. " balas Icha dan jalan munuju Ratih, lalu duduk disampingnya.


Setelah akhir mewek-mewekkan mereka saling tawa, melupakan kesedihan tadi dan tertawa.


(Gue salut ama lo Cha, ya meskipun dulu lo takut ama darah dan jarum suntik. ) batin Ghia melihat Icha makan gue, dan lomba dengan Tio.


(Sapa dulu pacar, Arkya gitu lo. ) balas batin Arkya dan mendapat tatapan horor dari Ghia.


(Geer banget lo. ) ucap batin Ghia dan melempar bantal sofa keArkya.


Setelah sejam bertamu, mereka pun pamit pulang karena sudah malam. Rosa cipika cipiku dengan Ratih, sebagai ibu-ibu haha.


Akhirnya selesai juga....


Jangan lupa like dan vote yang diwattpad...