
..."Siapa dia? Senyuman tipisnya menambah kesan manisnya, aku ingin berkenalan tapi takut dia menolakku. Aku ingin menakluan hatinya, dan ingin segera meminangnya seperti Vian. " ...
...Vino Alvi Putra....
Terpesona dengan senyumnya.
2 BULAN KEMUDIAN....
Pukul 03 : 50 pagi buta biasanya semua orang harusnya masih bergulung selimut, tapi tidak dengan Icha yang sudah bangun dan berdiri dibalkon kamarnya. Perasaannya mulai kalut memikirkan Ratih yang kehamilannya bermasalah, Icha ingin meminta digugurkan saja tapi Ratih menolak keras.
(Ya tuhan aku bingung, harus milih yang mana dan tak mungkin menggugurkan janin yang tak berdosa. Tapi jika tidak maka keduanya dalam bahaya, aku sungguh bingung astaga. ) batin Icha dan menatap bintang.
Bahkan Ratih beberapa hari lalu membentak Icha, dan perasaan Icha sedih pertama kali dibentak oleh orang yang sudah dianggapnya ibu kandung. Untung saja hanya terkejut tidak menangis, karena Icha tidak bisa menangis lagi.
Triiiiiing....
Ponsel Icha berdering nyaring, dengan cepat Icha melihat siapa yang menelfon. Setelah tau Icha mengangkat panggilan itu, yang ternyata dari Ratih.
"Ha-halo Icha, udah bangun belum? " tanya Ratih sambil terbata.
"Iya sudah tante, ada apa telfon? " tanya Icha balik.
"Icha tante minta maaf soal bentakan tante, tante gak bermasud untuk bentak kau sayang. " jawab Ratih merasa sangat bersalah.
"Hmm I'am fine tante. " ucap Icha dan mendengar suara Ratih menghela nafas.
"Terus hubungan kau dan Arkya baik-baik aja kan? " tanya Ratih.
"Mungkin, karena beberapa hari ini Arkya gak pernah jemput Icha tante. Haha mungkin Icha yang kepedean, berharap Arkya untuk mencintai Icha. " jawab Icha dengan tawa pedih.
"Kok ngomong gitu sayang, apa Arkya pernah cium bibirmu sayang? " tanya Ratih maruh curiga terhadap keduanya.
"Enggak tante, mungkin Icha hanya pelarian saja. Tante Icha mau tidur lagi, daa tante. " pamit Icha.
"Iya baiklah sayang. " ucap Ratih dan Icha mematikan telfon.
Tok..
Tokk..
Took...
"Icha temenin mama kesupemarket yuk, sekalian beli kesukaanmu sayang. " ucap Sonya dan Icha turun lalu membuka pintu.
"Kapan Ma? " tanya Icha dan menggulung rambutnya keatas.
"Taun depan, ya sekarang sayang. Ayo cepat siap-siap, mama tunggu. "jawab Sonya dan Icha cengengesan, lalu menyambar jam serta jaket dan jalan keluar.
Icha dan Sonya pun jalan menuju keluar rumah, dengan jalan kaki karena supermarket agak dekat. Sepanjang perjalanan Sonya merasa ada yang mengikutinya, dengan cepat ia menggam tangan Icha. Sedangkan sipemilik tangan melihat sekeliling, ia tau mamanya merasa takut.
Disupermarket....
Sonya dan Icha sudah sampai disupermarket, lalu Sonya mendorong troli menuju bahan makanan. Icha juga ikut memilih sayur lalu meletakkan ketroli, ia juga jalan kearah snak kesukaamnya tak lupa memasang telfon ditelinganya.
"Udah belum ma? " tanya Icha meletakkan snak kesukaannya kedalam keranjang.
"Udah, Cha kau ngak takut gendut? " tanya balik Sonya lalu mendorong troli kearah daging steak.
"Tolong Mama. " teriak anak kecil yang digendong preman kekar yang pura-pura belanja.
"Diam. " bentak preman itu, dan langkah terhenti dipintu karena Icha menghalanginya.
"Icha jangan nekat sayang. " teriak Sonya disamping ibu anang kecil itu.
"Minggir jangan halangi jalanku bocah. " ucap preman itu dan anak kecil itu menangis senggukan.
Jangan lupa like dan vote ya gaes...