
"Ta-tapi aku . " ucap Laras, Derel, Verel pamit dengan mamanya. Indri dan Ghia ingin melarang, tapi gak punya hak untuk itu.
"Derel! " panggil Ghia dan menunduk, Derel memdekat dan menarik tangan Ghia membuat si empu terkejut dan mendongak.
"Aku pamit ya, ini mungkin berbahaya. Tapi nanti jadi petualangan yang seru dan tegang. " ucap Derel.
Tanpa aba-aba Ghia memeluk Derel dengan erat, membuat Derel terkejut dan mengelus punggung Ghia.
"Gue takut lo kenapa-kenapa De. " balas Ghia membuat Arkya geleng-geleng.
"Macan putih tak takut yang namanya dengan luka, luka itu udah makanan sehari-hari kalau dalam misi ini. " sahut yang duduk disamping jendela.
"Meskipun bonyok sih nanti pulang, tapi itu seru kok. " balas yang tidak ikut berperang.
"Sudah, pulang kemarkas. Nanti ketua telfon saat akan berangkat," sahut Arkya dan menatap anggotanya.
Seluruh anggota macan putih, berdiri dan membukuk sebagai tanda hormat. "Siap laksanakan ketua, kami permisi. " ucap semua serempak.
"Hmm, hati-hati. " balas Arkya dan semua anggota keluar resto dengan berbaris, restoran kini sepi dan membuat suasa sedikit hangat.
Arkya tetap menjadi dingin, sebelum misi selesai. Derel dan yang lain pun membersihkan restoran, Icha menghela nafas melihat Arkya diam dan dingin.
"Kya! " panggil Vita yang dari tadi diam.
"Hmm. " sahut Arkya dan mengepel dengan lari.
"Sebenernya anggota macan merah berapa? " tanya Indra.
"70. " jawab Arkya dan mendang kursi hingga terbang dan terumpuk dengn yang satunya.
"Terus anggota lo berapa? " tanya Verel dan menumpuk piring.
"Jangan kaget setelah gue kasi tau. " peringat Arkya ketus.
"Kasi tau makanya biar tau. " desak Icha dan Indri penasaran.
"100. " ucap Arkya dingin, membuat yang lain melongo.
"Panjang ceritanya, Yah nanti Raufan gak pulang. " jawab Arkya membuat yang lain bingung.
"Terus tidur dimana? " tanya Arkha dan langsung masuk, lalu membuat jus dan Icha menatapnya dengan intens.
"Gak dimana-mana, mau nyelametin nyawa orang. " jawab Arkya dan
"Huks, huks. " batuk Arkha tersedak jus, dan Asifa mengelus punggung suaminya. "Maksudnya apa? " tanya Arkha lagi.
Arkya berbalik, dan memperlihatkan tulisan Ketua macan putih. Arkha pun mengangguk, dan tiba-tiba Leo dan Lian lari dengan ngos-ngosan, mereka mengatur nafas dan melihat kearah Arkya yang mengepel.
"Ketuaaaaaa. " panggil Leo dan Arkya menatap kearah Leo dan Lian.
"Hmmm. " sahut Arkya dan Taufan serta Arkha duduk ditengah.
"Kita punya kabar buruk dan baik. " ucap Leo dan semua diam mendengarkan dengan baik.
"Buruk? " tanya Arkya dan dingin.
"Nian meminta ketua menjauhi nona Icha, dan menjadi pacarnya. Kalau enggak Nian bakalan berbuat nekat. " sahut Lian.
"What, gila tuh anak. Gue jadi elo udah gue hajar tuh bocah, " ucap Derel yang tak terima.
Arkya menyeringai dan memiliki ide brilian, Leo dan Lian yang melihat ketuanya menyeringai menjadi merinding.
(Ketua apa yang lo pikirkan, merinding liat lo senyum gitu. ) batin Lian.
"Bener tuh, gue setuju suka ngancem dasar sampah. " kompor Verel mendapat jitakan dari Indri.
"Ini lagi malah ngomporin, awas aja lo berani ikut-ikutan geng Arkya. " ancem Indri.
"Sakit Indri sayang, belum pacaran udah KDRT aja lo. " balas Verel dan lari menghindari amukan Indri.
"Jadi gimana ketua? " tanya Leo dan Arkya memberi syarat agar mendekat, Leo dan Lian pun mendekat lalu Arkya membisikin sesuatu dan keduanya mengangguk.
Jangan lupa like dan vote....