
"No, gue maunya sampai tua nanti. " teriak Arzya sudah dikuasai mabok.
"Deal. " ucap Icha dan memetik gitarnya, Indra juga siap dengan dramnya, Derel juga siap dengan pianonya.
Jreng....
"Ohhhh... " sahut Arzya dengan memetik gitarnya pelan.
"Kau trimaku apa adanya. " balas Icha dan yang lain mengikuti alunan gitar.
"Walau ku banyak kekurangannya. " sahut Ghia dan minum jus.
"Memang sulit tuk dapatkanmu. " balas Derel dan memainkan piano, Arkya merekam yanng lain.
"Tak mudak juga tuk lepaskanmu. " ucap Indra dan manatap Ghia.
"Ohh, percayalah sayang. " balas Arzya dan minum lagi.
"Hatiku ini hanya untukmu. " ucap Indri dan menatap Verel yang memainkan dramnya.
"Berjalanlah, bersamaku. " sahut Laras dan menatap Arzya yang mabuk.
"Kita nikmati indahnya cinta. " balas Icha dan Arkya serempak.
"Sayangku. " ucap Vita dan minum jus lagi.
"Cintaku. " balas Ghia dan makan mie panjang, sambil menyuapi Ratih.
"Kuberuntung jadi pemilik hatimu. " sahut Arkya dan tersenyum tipis.
"Kusayang kamu, ku cinta kamu. " balas Arzya dan Laras serempak.
"Ku berjanji tak akan permainkanmu. " ucap Derel sambil memainkan piano
"Tetap bersamaku sayang, sampai tua nanti. " balas Verel dan Indri serempak.
Icha kembali melantunkan gitarnya dengan halus, diiringi yang lain restoran juga ramai karena mendengar suara nyanyian.
Sorak tepuk tangan menggema, dan Arzya menghabiskan akoholnya satu botol. Laras yang melihat itu hanya bisa diam, pandangan mereka bertemu dengan cepat Arzya mengalihkannya.
"Icha sini duduk, ada yang ingin om dan tante sampaikan padamu. " sahut Ratih, Arkha juga duduk disampung Ratih.
"Ada apa dokter? " tanya Icha dan Derel duduk disampingnya.
"Mulai besok kau harus aktif dirumah sakit, dan membantu Ratih bisa. " jawab Arkha.
Icha mengangguk,"oke, lagikan seminggu ini ada meting kelas. Berarti ngak belajar, iya kan kutub? " tanya Icha menoleh kearah Arkya.
Doorr....
Suara pekikan histeris dari para cewek, kecuali Icha yang menatap bahunya terluka dengan peluru masih bersarang disana.
Prok, prok, prok....
Suara tepuk tangan berasal dari pintu, membuat semua menoleh. Arkya membalut luka Icha dengan kain, agar darah berhenti mengalir.
"Dokter cilik Icha, ternyata lo tahan anti peluru ya. " sahut Seseorang yang membenci Icha.
"Gue gak pertakut yang namanya dengan peluru gadungan. " balas Icha berdiri dan meminta Arkya membawa Ratih dengan tatapan mata.
Arkya mengangguk, lalu membawa Ratih tapi Ratih menolak karena khawatir dengan Icha.
"Besar nyali juga lo, setelah jadi j*l*ng lo jadi dokter. " ucapnya.
"Maksud lo apa? Icha gak kayak gitu jangan main asal fitnah? " sentak Derel kesal tangannya mengepal.
"Oh jadi dokter Icha gak cerita ama lo pada ya, kasian. " ucapnya dan mengambil gelas lalu
Wushh....
Dan
Happ...
Icha menangkap gelas yang dilemparkan kearahnya, semua terkejut dan Icha tersenyum miring.
"Lilis, lilis dari dulu lo ngak bisa lukai wajah gue ya, kasian banget sih. " ucap Icha dan Lilis langsung menyerang wajah Icha dengan beutal.
Arkya langsung memlintir tangan Lilis,"berani-beraninya lo serang tunangan gue yang terluka, kalau lo berani lawan gue. " sahut Arkya dingin.
Dengan sigap Lilis menendang perut Arkya, hingga Arkya mundur beberapa langkah. Derel juga menyerang Lilis dari belakang, dengan cekatan keduanya adu tonjok.
Tapi yang banyak babak belur, Derel sendiri membuat Icha mendekat dan
Krakkk...
"Aaaa sa-sakit lepas. " teriak Lilis dan Icha menendang lutut Lilis hingga terduduk.
"Mau apa sih? Dari dulu lo cari masalah mulu ama gue? " tanya Icha kesal.
ijsngan lilke dan votw...