
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
'*Aku butuh taksi untuk menjemput kedua orang tuaku di bandara pukul empat sore. Apa aku bisa memesan jasamu sejak jam dua siang dari kantorku*?'
'*Kalau kamu enggak bisa jangan dipaksakan. Aku akan order taksi biasa saja*.'
Albeyn membaca pesan yang dikirimkan oleh Ebby.
'*Bisa kok, aku bisa*,' balas Albeyn cepat. Dia memang besok bisa memenuhi order yang Ebby minta.
'*Aku tunggu jam dua di kantorku ya*.'
'*Tapi ini order dari konsumen ya, bukan minta tolong antar teman*,' Ebby menjelaskan terlebih dahulu. Dia tak ingin karena pertemanan lalu mengganggu mata pencaharian Albeyn.
\*\*\*
Sesuai jadwal yang diminta kemarin, jam dua siang Albeyn sudah berada di parkiran gedung perkantoran tempat Ebby membuka usahanya.
"Sudah lama?" tanya Ebby saat dia masuk ke taksi Albeyn.
"Belum. Aku baru tiba saat lihat kamu keluar ke lobby. Aku enggak jadi parkir langsung ke lobby aja," sahut Albeyn.
Ebby memang tak bisa menjemput orang tuanya di bandara dengan mobilnya. Karena di Paris dia menggunakan mobil sport yang hanya bisa untuk dua orang saja.
Sepanjang perjalanan mereka bertukar cerita untuk mengisi waktu agar tak sunyi di mobil.
Hanya tema ringan, seperti cuaca, tentang kuliahnya Albeyn mau pun tentang kesibukan pekerjaan Ebby.
Mereka tiba di bandara tidak terlambat juga tidak terlalu cepat. Pesawat mama dan papa Ebby baru saja landing ketika taksi tiba di bandara. Ebby turun. Albeyn menanti di parkiran dulu sampai Ebby dan orang tuanya siap di lobby
Akhirnya Ebby dan kedua orang tuanya duduk manis di taksi.
"Ma, Pa, mau mampir makan dulu?" Ebby tentu tak ingin keduanya kelaparan.
"Tidak. Mama bawa rendang untukmu. Kita makan bersama saja. Kamu sudah beli beras sesuai pesanan mama kemarin kan?" Tanya Sekar.
"Sudah Ma. Tanpa Mama suruh kan beras selalu ada di apartemenku. Mama tahu aku lebih suka masak daripada harus beli makanan matang." Ebby mengingatkan Sekar kalau dia selalu masak sendiri. Hanya sesekali dia makan di luar bahkan untuk makan siang di kantor, Ebby lebih suka bawa hasil masakannya.
"Mama bawakan kamu banyak bumbu racik instan juga santan instan. Mama tahu santan disini mudah didapat, tapi sekalian beli bumbu racik jadi mama beli saja," Sekar tahu Ebby suka makanan bersantan seperti opor, rendang, gulai dan lodeh atau masakan lainnya.
"Ebby, kamu serius belum menerima cinta pemuda Indonesia itu?" tanya Gunawan Susanto papa Ebby.
"Belum lah Pa. Pertama karena aku memang belum ingin. Tak ada niat dari hatiku menjalin cinta."
"Kedua karena memang belum dapat info akurat dari Papa."
"Kan Papa bilang, Papa akan cari data dulu," kata Ebby.
"Kenapa gawat Ma?" tanya Ebby penasaran.
"Satu minggu sebelum dia berangkat ke Paris, dia bertunangan. Data diri tunangannya ada di Mama. Namanya Theodora Fransisca dipanggilnya DARA!"
Albeyn langsung kaget mendengar nama yang sama dengan nama tunangannya. Juga cerita awal yang mirip dirinya yaitu tunangan satu minggu sebelum berangkat ke Paris.
"Dara mengajar di SMP Tarakanita di Bandung dan mereka akan menikah begitu kekasihnya pulang dari Paris."
"Bahkan untuk WO-nya sudah disiapkan. Sekitar empat bulan lagi kekasihnya akan kembali," jelas sang papa.
"Oh gitu ya Ma, Pa," kata Ebby.
Albeyn tahu dengan jelas siapa yang dibicarakan. Dari nama Dara dan mengajar di SMP Tarakanita serta akan pulang empat bulan lagi adalah dirinya.
"Nggak nyangka ya Ma kalau depan kita ngomongnya cinta setengah mati dan tak mencintai siapa pun. Ternyata di belakang sudah punya tunangan."
"Kalau kamu menerima dia kemarin, kamu adalah pelakor! Itu adalah status yang sangat hina di mata mama! Dan sebutan itu akan melekat sepanjang napas kita karena tak bisa kita hapus dengan apa pun. Karena kenyataannya kita ambil posisi diantara pasangan.
"Ya itu juga status yang hina di mata Papa. Anak Papa jadi pelakor walau kamu tidak tahu, kalau kamu adalah pelakor karena si lelaki yang bilang ke kamu tak ada perempuan lain di hatinya!"
"Untung kamu minta di cek dulu." Gunawan bersyukur Ebby tak ambil keputusan sembarangan.
"*Perempuan baik-baik tak akan pernah mau jadi pelakor*!" kata-kata dari penumpang Indonesia kemarin terngiang di telinga Albeyn.
Albeyn sadar sekarang semua itu adalah kesalahan dirinya. Mungkin kalau waktu itu dia sudah putuskan hubungan dengan Dara baru mengejar Ebby, pandangan Ebby tidak akan seburuk sekarang.
"Aku nggak ngebayangin sepanjang hidup aku dicap sebagai pelakor. Padahal aku nggak tahu, kalau aku hadir merusak hubungan orang," Ebby bergumam tapi semua di mobil itu bisa mendengar dengan jelas.
"Makanya kita harus cek dulu," Sekar menasihati putri tunggalnya.
"Ya Ma. Aku juga tahu hal itu, makanya aku nggak mau terima orang sembarangan," jawab Ebby.
"Papa juga takut bila kamu didekati seseorang karena tahu kemampuanmu memimpin usahamu sendiri. Terlebih bila tahu kamu anak siapa," jelas Gunawan. Selama ini mereka tak pernah pamer kekayaan. Tak pernah memperlihatkan dengan tinggal di kawasan super elite dan menggunakan mobil sport limited edition walau kalau mereka mau, hal itu mudah mereka lakukan.
'*Jadi Ebby memimpin usaha sendiri? Tak seperti yang dia bilang selama ini kalau dia hanya pegawai di kantor itu*?' Albeyn tak pernah tahu latar belakang Ebby.
Albeyn menyukai Ebby karena pribadinya baik dan sopan. Bukan karena dia pemilik perusahaan.
'*Siapa kedua orang tua Ebby? Aku akan selidiki*,' Albeyn jadi penasaran.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.