
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Enggak mungkin Ndre, enggak mungkin," kata Herman sambil menggeleng menatap kertas hasil lab ditangannya.
"Aku juga enggak percaya Pa. Aku beneran nggak percaya," kata Andre putus asa.
"Aku enggak punya keinginan buat periksa itu dengan sengaja. Awalnya aku periksa sper-ma aku Pa."
"Ebby sangat ingin hamil. Kami telah periksa dia subur. Aku enggak tega kalau dia disalahkan bila tidak kunjung hamil."
"Maka aku periksa sper-ma aku. Ternyata bibit sper-ma aku itu kurang subur sejak dulu. Dokter bilang kemungkinan menghamili perempuan itu satu banding seribu."
"Ebby membantah, dia bilang pada dokter hal itu enggak mungkin karena aku sudah punya anak."
"Ebby bilang tidak mungkin ini sejak awal memang tidak ada pembuatan bibit."
"Tapi dokter bilang itu kenyataannya. Tapi kedepannya aku bisa diterapi. Sudah hampir satu bulan ini aku terapi tusuk jarum dan jamu sinshe juga minum obat dokter rutin."
"Shinshe bilang perkembangannya katanya mulai bagus. Dokter juga bilang perkembangan terakhir itu sudah mulai agak bagus."
"Aku sudah mulai ada bibit walau masih sangat sedikit dan sangat lemah. Tapi setidaknya probabilitas sudah meningkat."
"Bila masih belum dapat terjadi pembuahan maka bibit dariku sekarang bisa diambil lalu dibuat bayi tabung. Kalau sebelumnya tak ada bibit yang dariku."
"Itu yang sudah kami bahas ke dokter Pa."
"Aku tak percaya tapi bagaimana? Kalau Aheng itu anakku, karena sehabis melahirkan Aheng Maura tak pernah menggunakan kontrasepsi, seharusnya Aheng punya adik kan Pa?"
Herman bingung dia ingin tanya ke siapa. Enggak mungkin kan tanya Maura?
"Kamu ingat kebiasaan Maura menulis?"
"Dia suka menulis puisi, cerpen atau apa pun. Dia pasti menyimpan sesuatu di tulisannya. Bagaimana kalau kamu bongkar barang-barangnya Maura?" tanya Herman.
"Barang yang mana lagi Pa?"
"Dulu saat pindah dari rumahmu, ada barang-barang Maura yang tidak mau kamu buka mungkin di sana ada data dari Maura." Herman mengingatkan Andre.
"Coba barang-barang yang ada di gudang besok kita bongkar."
"Tapi kalau kita bongkar gudang, mama akan tahu Pa. Ebby tak ingin mama tahu sejak belum ada kepastian seperti sekarang." Andre tentu sependapat dengan Ebby masalah Meylan.
"Nanti aku yang jagain mama supaya enggak tahu aktivitas kalian," jawab Ebby.
"Biar mama sama aku kalian berdua masuk ke gudang," kata Ebby.
Mereka pun janjian untuk mengecek barang-barang di gudang besok pagi.
\*\*\*
Hampir seharian penuh Ebby membawa Meylan jalan-jalan membiarkan Andre dan Herman mencari barang bukti.
"Ayo Ma, kita pulang sudah sore," ajak Ebby pada mama mertuanya.
Ebby membawa pulang Meylan setelah Andre mengirim pesan sudah mendapatkan apa yang dicari.
\*\*\*
"Mborong apa Ma?" sambut Patty dan Herman tatkala Meylan pulang.
"Enggak mborong. Ebby beli peralatan bayi untuk cucunya. Dia pilih warna netral karena belum tahu akan dapat baby boy atau baby girl." Meylan bahagia Ebby menyayangi calon cucunya.
"Semoga kamu suka," ujar Ebby sambil melihat sopir menurunkan barang-barang yang mereka beli.
"Tapi feelingku dia laki-laki," ujar Ebby tersenyum. Dia lihat Andre dan Herman wajahnya kusut.
"Oma capek?" Tanya Patty dengan penuh perhatian.
"Enggak. Sehabis belanja Ebby ajak ke SPA. Jadi Oma sudah diurut agar relaks." Jawab Meylan.
"Kita siapin makan malam yok," ajak Meylan pada Patty. Sekarang keduanya sudah akrab.
Mereka berdua kebelakang sambil ngobrol meninggalkan Ebby yang langsung menghampiri Andre dan memeluk suaminya penuh rasa rindu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU