ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
SHE IS MORE POSSESSIVE



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Baiklah," kata Dave.



"Pokoknya kamu ikutin langkah yang sudah aku dan papanya Ebby terapkan kalau kamu ingin menghantam dia." Andre mewanti-wanti Dave agar berlaku sesuai aturan dan tidak membuat keputusan sendiri agar semua berjalan lancar.



"Aku pasti akan hantam dia dan aku bersyukur karena berkat kamu dan papanya Ebby aku sudah mulai bisa kembali melupakan traumaku terhadap perempuan."



"Sekarang aku berharap Rudolf juga bisa kembali normal seperti aku yang sudah mulai bisa melupakan traumaku itu. Aku tentu tak akan cepat-cepat mencari perempuan untuk menggantikan Rudolf."



"Kamu salah. Seharusnya kamu mencari perempuan sehingga cepat melupakan trauma itu. Kamu harus bisa dan aku yakin kamu bisa."



"Oh ya aku juga minta kamu datang ke pernikahanku bulan depan."



"Kamu mau menikah?" Tanya Dave penasaran.



"Ya." Andre menjawab dengan senyum bahagia.



"Dengan siapa? Apa dia pernah bertemu denganku? Owh maaf. Tak mungkin aku kenal calon istrimu karena saat aku ke Indonesia kita belum berkenalan."



"Kamu bahkan berteman akrab dengan calon istriku." Goda Andre jenaka.



"Aku akan menikah dengan Ebby!"



"Are you serious?" Tanya Dave tak percaya.



"Off course. Aku serius, sangat serius."



"Kok bisa?"



"Aku juga nggak ngerti bagaimana cerita cinta kami bersemi. Sejak bertemu di Paris dulu aku mulai jatuh cinta pada Ebby dan Ebby lebih gila lagi, dia lebih mencintaiku daripada mencintai tunangannya di masa lalunya yang seumuran."



"Ebby lebih posesif padaku." Ulas Andre.



"Kita tidak tahu jodoh kita siapa Ndre. Kalau memang Ebby jodohmu yang baru ya kenapa nggak?"



"Aku berharap seperti itu. Thanks God aku bisa bertemu dia di Paris lalu kita bertemu di Berlin. Entah dimana sebenarnya awal cinta kami tumbuh dulu," jawab Andre.



"Aku sudah menyiapkan undangan untukmu beserta Stella dan Rudi kamu bersiap nanti aku kirim tiket pesawat pulang pergi."



"Oke aku akan datang. Tidak kamu belikan tiket pun aku akan datang karena kamulah yang menyelamatkan aku dan Rudolf."



"Kamu nggak boleh seperti itu nanti kamu jadi naksir aku,"  goda Andre.



"Ya nggak lah aku sudah sadar koq."



"Ya sudah aku harus pamit karena aku ingin menjaga Stella dan Ebby."



\*\*\*



"Kamu di mana Beib?" tanya Andre.



"Aku sedang on the way kekantorku," jawab Ebby.



"Oke aku kesana sekarang." Andre ingin makan siang bersama Ebby



"Kamu sudah selesai dengan Dave dan kamu nggak kemana-mana lagi?" Selidik Ebby.



"Please jangan pernah berpikir seperti itu. Ini aku masih dengan Dave. Kalau kamu nggak percaya, bicara dengan  Dave," Andre menyerahkan ponselnya pada Dave.



"Hallo By," sapa Dave.



"Hai Dave, sudah selesai pembicaraan dengan ko Andre?"



"Sudah, dan kami sudah memesan taksi untuk langsung ke arah kantormu. Ini kami sedang di depan lobby. Aku juga akan ikut dengan Andre, jadi kamu tak perlu curiga seperti itu."



"Kami tidak bertemu dengan siapa pun dan kalau nanti kami bertemu dengan seseorang aku jamin Andre sejak tadi bersamaku," kata Dave.



"Oke Dave take care ya, aku tunggu di kantorku."



"Sekalian kita makan siang boleh?"  kata Dave.



"Aku kangen sama kamu."



"Oke kita makan siang bersama Stella dan Rudi. Kalau nggak salah Rudi juga sedang on the way ke sini."



Padahal waktu itu sudah hampir jam 02.00 siang dan mereka memang semua belum ada yang makan.



"Oke kita bertemu nanti di kantormu aja atau langsung ke cafe?"



"Langsung ke cafe aja ya Dave." Pinta Ebby.



"Oke aku langsung ke cafe di kantormu aja nggak usah ke ruanganmu,"  kata Dave. Laku telepon ditutup dan dia kembalikan pada Andre.



"Kamu bisa lihat kan bagaimana possessif-nya dia ke aku. Bukan aku yang tua yang ketakutan kehilangan dia,  tapi dia yang ketakutan kehilangan aku. Sehingga aku jadi sering takut kalau aku celaka atau aku sakit."



Mereka pun masuk ke taksi yang sudah dipanggil oleh Andre. Sejak sakit Dave menjual mobilnya. Dia dilarang mengendarai mobil karena sering pusing.  Daripada mobilnya nganggur, mobil dia jual dulu. Nanti kalau dia sudah bisa menyetir lagi baru dia beli mobil sekalian memang dia harus membuang semua memory bersama Rudolf.



Dave pun telah pindah apartemen dia pindah ke apartemen sendiri. Dia ambil barang-barang miliknya sendiri. Barang-barang milik Rudolf dia kirim ke alamat orang tua Rudolf.



Jadi tidak ada barang kenangan bersama Rudolf di apartemen Dave yang baru.



Itu memang terapi yang digunakan agar semua kenangan bersama Rudolf hangus tak bersisa.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE