
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ko, Koko enggak lupa kan?" Andre terbangun tengah malam karena calon istrinya telepon.
"Lupa apa *Babe*? Lupa kalau sebentar lagi kita bisa melakukan kegiatan ehm ehm?" Walau mengantuk Andre masih bisa menggoda Ebby.
"Koko sih fokusnya kesana aja," rajuk Ebby.
Andre sangat menghargai Ebby yang tetap tak mau memberikan kegadisannya walau tinggal beberapa hari lagi mereka akan menuju altar.
"*Kalau beberapa detik sebelum kita menikah lalu koko ada halangan? Dan bibit yang sudah ditebar di rahimku langsung jadi. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan bayi itu ke mama papa juga ke anakku karena dia lahir tanpa ayah*?"
"*Selain itu memang aku enggak mau. Bahkan ~maaf~ dengan Aheng pun aku hanya beberapa kali berciuman. Tak pernah tidur bareng seperti yang kita lakukan*." Andre mengingat semua penolakkan Ebby pada dirinya.
Andre sendiri tak habis pikir. Mengapa dia sangat ingin melakukannya dengan Ebby. Berpuluh tahun sejak menduda, dia bebas melakukan kegiatan sekss dengan banyak perempuan kalau dia mau. Tapi tak pernah satu kali pun dia ingin melakukannya padahal dia pria bebas.
Ebby mengubah semuanya!
"Ya sudah, kenapa kamu bangunin aku?"
"Koko sudah tidur?"
"Sejak habis makan aku tidur karena tak boleh kerumahmu," balas Andre kesal.
"Aku cuma mau tanya apa koko enggak lupa buat kirim penjemput Dave, Stella dan Ruddy."
"Sejak dua hari lalu aku sudah menugaskan orang. Enggak perlu khawatir." Jawab Andre.
"Baguslah. Mau Koko taruh dimana?"
"Dirumah aku aja lah. Masih cukup."
"Koko curang, harusnya Stella tinggal di rumahku," kata Ebby.
"Kalau Stella di rumahmu lalu Ruddy di rumahku? Masa dipisah. Sudahlah nggak apa-apa rumahmu terlalu rame buat mereka. Semua keluargamu lebih banyak di rumahmu nggak ada yang mau di hotel."
"Ya bukan soal murah. Bukan soal uang tapi lebih senang kekerabatan, kami sangat senang kehangatan dan kebersamaan," ujar Ebby soal saudaranya yang datang dari mancanegara tapi maunya ngumpul dirumah bukan di hotel.
"Itulah makanya kasihan Ruddy, Dave dan Stella bila mereka tinggal di rumahmu. Mereka nggak punya rasa nyaman nanti karena kan pasti kalian bicara dengan bahasa kalian sendiri."
"Iya, kalau sedang berkumpul di keluargaku lebih senang dengan bahasa leluhur, nggak seperti keluargamu." Ebby sadar perbedaan itu.
"Karena kan keluargamu asli, keluargaku sudah campuran," kata Andre.
"Daripada ditaruh di rumahmu lebih baik mereka ditaruh di hotel saja lebih bebas."
"Ya sudah lanjut tidurnya. Aku barusan keinget itu jadi aku langsung telepon. Maaf kalau ganggu tidurmu."
\*\*\*
"Ko, nanti aku boleh kan main ke rumahmu?" Tanya Ebby. Mereka sedang di kantor Ebby. Ini hari terakhir Ebby kerja sebelum pernikahannya.
"Ya boleh lah. Seharusnya kita sudah enggak boleh bertemu. Kalau ngikutin adat beberapa suku di Indonesia kan ada acara pingitan. Aku nyerah kalau harus dipingit!"
"Nanti aku kirim aja Stella ke rumahmu tapi tidak untuk menginap paling tidak untuk bertemu."
"Nanti kalian janjian saja, aku akan suruh sopir antar Stella ke rumahmu," kata Andre.
"Koko enggak ke rumah sama Stella?"
"Enggak lah. Aku takut kalau kita sering terlihat bersama jelang pernikahan lalu ada yang mengompori para tetua."
"Ya kalau dipingit kita video call lah," jawab Ebby menenangkan Andre.
"Aku terus terang trauma akan seperti pernikahanmu dengan Hengky. Tiba-tiba kamu nggak ada."
"Kita nggak ada persoalan Ko, enggak usah kayak gitu pikiran nya."
"Gimana nggak dipikirin? Aku serius ketakutan. Dan saat itu Aheng juga enggak tahu ada kesalahan. Aku tak tahu kalau ada jebakan yang bikin aku gagal menikah denganmu," kata Andre.
"Sesungguhnya itu alasanku ingin kita melakukan sebelum ke altar. Agar kamu enggak ninggalin aku sebelum pernikahan."
"Aku bahkan waktu lamaran aja itu lebih nervous daripada saat aku sidang skripsi."
Ebby tertawa ngakak.
"Memang sidang skripsi ngeri?"
"Buat aku itu mengerikan. Saat sidang skripsi S1-ku kayaknya beban tuh seluruh isi dunia ada di pundakku."
Ebby makin terbahak-bahak.
"Orang sepintar kamu ketakutan saat sidang skripsi?"
"Bukan soal pintar, tapi ambisi aku untuk jadi yang terbaik itu takut tak bisa kuraih," kata Andre.
"Saat itu aku harus dapat summa cumlaude, bukan cuma cumlaude. Itu target ku."
"Oh gitu pantes kamu deg-degan," kini Ebby mengerti mengapa Andre nervous saat ujian sidang skripsinya.
"Tapi siang ini kamu bisa kok makan siang di rumahku," kata Andre.
"Sepertinya mereka telah tiba di bandara. Kalau kita pulang sekarang akan bertemu dengan mereka saat makan siang."
"Ya udah yuk kita ke rumahmu," ajak Ebby dengan semangat.
Mereka pun meluncur ke rumah Andre. Ternyata mereka datang berbarengan dengan rombongan dari Paris. Mobil yang Andre kendarai sama-sama masuk di parkiran rumah dengan mobil yang menjemput teman-temannya Ebby.
"Stellaaaaa," sambut Ebby dari jauh. Mereka berpelukan erat.
"Ayo masuk yuk," ajak Andre pada Ruddy dan Dave.
"Kopernya nanti dibawa masuk oleh pegawai ku," Andre memerintah sopirnya membawakan koper-koper milik para tamu.
"Ini rumahmu?" tanya Dave.
"Ini rumah kecil papaku. Aku tak punya rumah walau kecil sekali pun.
"Ini kecil?"
"Ya ini sangat kecil. Kamu akan kaget melihat rumah Ebby."
"Rumahnya 10 kali dari rumah ini."
"Ya Tuhan, kalian itu bener-bener Sultan rupanya."
"Aku enggak. Kalau Ebby iya. Papanya Ebby kan orang terkaya di Asia. Tapi rumahnya di sini masih sederhana dibanding rumahnya di Tiongkok dan di Singapura."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!