
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Andre menghubungi maminya di Indonesia ketika dia naik taksi yang kebetulan di kemudikan oleh Albeyn.
Andre hanya bertanya kabar saja, tak ada cerita penting apa pun.
"Bapak dari Indonesia?" tanya Albeyn dengan bahasa Indonesia, ketika Andre sudah selesai bicara di telepon.
"Oh iya, saya dari Jakarta," Andre menjawab ramah.
"Saya dari Bandung Pak. Saya tugas belajar di sini. Saya dari ITB." Albeyn memberitahu asal usulnya.
"Wah hebat kamu. Mengapa masih harus bekerja? Apa gajimu kurang?" Tentu Andre penasaran.
"Banyak waktu produktif tidak digunakan sayang Pak. Lebih baik saya gunakan untuk menambah income daripada saya hura-hura disini," Albeyn memberikan alasannya mengapa dia mencari income tambahan.
"Wah hebat kamu."
Akhirnya mereka pun bercerita tentang rindu terhadap Indonesia dan masakan Indonesia.
"Biasanya kami persatuan mahasiswa di sini sering mengadakan pertemuan rutin Pak," kata Albeyn.
"Kita bertukar cerita dan kadang juga ada yang bawa makanan dari Indonesia untuk menghilangkan rasa kangen terhadap negara tercinta."
"Sudah berapa lama kamu tidak kembali ke tanah air?" Andre bertanya karena sopir ini bilang sejak dia datang dia tak pernah kembali ke Indonesia.
"Hampir dua tahun Pak." Jawab si sopir taksi.
"Kasihan istrimu ya," Andre meledek Albeyn.
"Ha ha ha saya belum punya istri Pak. Waktu saya berangkat orang tua kami memutuskan saya dan teman dekat untuk bertunangan. Nanti begitu saya pulang kami segera menikah," demikian Albeyn bercerita tanpa beban pada Andre.
"Bagus itu. Semoga dia setia ya dua tahun nungguin kamu," Andre bicara tanpa niat apa apa.
"Dia tinggal disebelah rumah saya Pak jadi selalu ke pantaulah. Jadi dijamin setialah Pak."
"Dia di sana yang terpaksa setia karena ada orang tua kamu, kamunya disini gimana? Jangan pernah melukai hati perempuan karena kamu lahir dari rahim seorang perempuan." Andre memberi nasihat. Seperti dia biasa melakukan itu untuk Hengky putra tunggalnya.
"Selama ini sih saya setia Pak, nggak pernah ada yang bikin saya suka walau secantik apa pun. Tapi sudah dua bulan ini saya kenal gadis Indonesia dan saya mencintainya."
"Lah gimana kamu sudah punya tunangan," tanya Andre.
"Sejujurnya saya kalau ketunangan saya itu tidak cinta Pak. Kami tumbuh dari kecil. Padanya saya tidak punya rasa cinta. Bukan Cinta. Hanya ada rasa nyaman saja. Pokoknya sulit mengatakan rasanya."
"Saya sulit menerangkannya. Tidak ada rasa cinta dari saya. Sebenarnya hanya terbiasa bersama aja kok Pak. Berpisah dua tahun belum pernah merasakan cemburu atau rindu."
"Nah pada gadis Indonesia yang baru saya kenal ini saya sering cemburu melihat dia makan siang atau ngopi dengan teman-temannya. Dan saya sering rindu bila tak melihat sosoknya."
Andre lalu ingat tentang dia dan almarhum istrinya. Andre juga merasa tak pernah ada rasa cemburu atau rindu pada istrinya. Bahkan saat ditinggal selamanya Andre tak pernah merasa "kehilangan" dari hati. Hanya kehilangan sosok tubuh dan sapaannya saja. Sosok yang sejak kecil selalu membuntutinya. Tapi tak ada rasa kehilangan sosok kekasih.
"Kamu mengingatkan saya pada almarhum istri saya. Saya menikahi dia juga karena kami terbiasa dari kecil."
"Lalu dia minta saya menikahinya padahal umur saya baru 18 tahun saat itu."
"Satu tahun kemudian anak kami lahir tepat di hari ulang tahun saya."
"Rupanya dia minta dinikahi karena dia punya kanker rahim. Begitu anak kami umur 12 tahun, dia meninggal dan sampai sekarang saya belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta!" kata Andre.
"Saya sudah merasakan jatuh cinta, saya sudah katakan bahwa saya mencintai dia Pak. Seorang gadis Indonesia yang baru saya kenal dua bulan lalu. Sayang dia menolak saya. dia bilang tak bisa menerima cinta saya," cerita Albeyn dengan jujur.
"Semoga aja nanti dia bisa kamu gapai. Asal ingat jangan pernah menyakiti perempuan."
"Kamu mengejar yang di sini yang di sana putusin dulu. Jangan bikin yang disini jadi orang ketiga. Kesannya tak baik. Kalau kamu masih jadi tunangan yang di Bandung lalu kamu putuskan dia setelah dapat yang di Paris. Artinya yang di Paris adalah pelakor."
"Dilema Pak. Saya lepas yang di Bandung untuk ngejar yang di Paris. Eh yang di Paris nolak, kan akhirnya saya zonk pak. Enggak dapat keduanya!"
"Ha ha ha, kalau begitu kamu bukan lelaki sejati. Kamu penjahat wanita. Kalau kedua perempuan itu tahu sikapmu, saya yakin semua tak mau denganmu. Itu sangat tak disukai perempuan mana pun!"
"Jangan bikin seseorang jadi serep atau merasa bersalah karena jadi pelakor. Perempuan baik-baik tak mau menjadi pelakor. Mungkin perempuan Parismu sudah menyelidiki latar belakangmu di Bandung makanya dia tak mau denganmu," Andre memberikan uang sesuai jumlah tertera di argo.
\*\*"
Ebi sedang sibuk dengan desainnya saat mamanya menghubungi.
"Iya Ma, ada apa?" kata Ebby.
"Lusa mama berangkat dari Jakarta dengan papa." Sekar Harum memberitahu Ebby kalau dia akan menyambangi putri tunggalnya itu.
"Ya Ma, aku tunggu. Dengan siapa aja?" Ebby tentu harus mencarikan penginapan bila mamanya datang dengan orang lain.
"Kami hanya berdua," jawab Sekar Harum, mamanya Ebby
"Oke aku tunggu," kata Ebby tentu saja dia senang mamanya akan kembali mengunjunginya.
"Di sini masih musim salju loh Ma. Jangan lupa pakaiannya disiapin," kata Ebby.
"Pakaian Mama di sana kan masih ada toh?" Kata mamanya.
"Iya tapi kan waktu itu Mama kesini belum musim salju. "Mama belikan aja lah. Daripada cari di sini susah." Pinta Sekar pada putrinya.
"Oke besok aku belikan buat mama sama papa," kata Ebby.
"Kalau hari ini aku punya jadwal penuh."
"Terserah, pokoknya siapin aja."
"Oke Ma."
\*\*\*
Ebby ingin berkumpul dengan beberapa rekanan di usahanya. Mereka janjian makan malam bertiga. Yaitu Ebby, Dave dan Rudolf. Mereka tiga sekawan yang kenal sejak dua tahun lalu sebelum Ebby menetap di Paris.
"Sudah lama?" tanya Ebby.
"Kami baru saja tiba," jawab Rudolf
"Ada apa dengan wajahmu. Mengapa kayak gitu?" tanya Ebby sambil mencium pipi pada kedua lelaki itu.
Sejak Ebby masuk ke rumah makan itu, ada mata elang yang memandang tajam ke arahnya.
"Biasa. Kayak enggak tahu aja seperti apa dia. Selalu bikin aku marah," jawab Dave kesal.
"Kau seperti perempuan PMS," balas Rudolf.
"Kamu yang tidak pengertian," jawab Dave.
"Oke aku ke sini mau ngobrol dengan kalian bukan mau dengar kalian berantem," protes Ebby.
Saat awal bertemu Rudolf dan Dave, Ebby ragu untuk berbisnis dengan mereka. Ttapi seiring berjalannya waktu dia nyaman dengan sepasang kekasih ini. Mereka memang pasangan kekasih. Di depan umum mereka tak pernah memperlihatkan hal-hal yang aneh sehingga Ebby mau berteman dengan mereka. Di depan umum mereka sama-sama lelaki yang tidak saling memberi perhatian. Hanya beberapa teman yang tahu hubungan mereka.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Dave.
"Saat menuju kesini tetiba aku pengen chinese food. Tapi karena sudah dekat sini, aku enggak jadi bilang kalian minta ubah lokasi pertemuan kita."
"Aku ingin apa ya pokoknya pengennya panas-panas gitu. Terserah kalaian pesankan aku apa," sahit Ebby.
"Kamu tuh seperti anak kecil By," kata Rudolf sambil mengambil tissue. Rudolf mengelap ujung bibir Ebby.
Sepasang mata yang sejak tadi tak mau mengalihkan pandangannya semakin tak suka melihat Ebby diperlakukan semanis itu.
"Kenapa aku jadi marah kayak gini? Kenapa aku nggak suka dia diberi perhatikan manis seperti itu? Sementara Ebby, Dave dan Rudolf tetap bercanda dengan riang.
"Aku sayang kamu," kata Ebby. dia usap pipi Dave lembut. Rudolf pun tertawa.
'*Mengapa dia seperti itu kepada pria lainnya*?' pemilik mata elang itu jadi sibuk menebak-nebak hubungan mereka bertiga.
Akhirnya mereka bertiga pulang. Ebby berdiri di tengah keduanya. Mereka berjalan bersisian. Ebby melingkarkan lengannya dipinggang kedua lelaki itu dengan mesra. Begitu pun kedua lelaki itu tangannya merangkul pinggang Ebby.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.