ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
BAGAIMANA BISA MENJAUH?



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Andre ingat, setelah dia minta nomor ponsel Stella pada Ebby, dia menghubungi sahabat lamanya.



"Aku mau pulang ke Indonesia. Entah kapan lagi kita bertemu. Sebelum aku pulang, bisa kita makan malam?"



"Koq mendadak? Kapan kamu pulang?"



"Besok pagi. Kalau bisa aku ingin kita bertemu malam ini," pinta Andre.


\*\*\*



"Kamu balik ke hotel naik apa?" tanya Ruddy. Mereka belum bayar bill. Masih di resto selepas makan malam.



"Naik taksi lah," ujar Andre menjawab pertanyaan Ruddy.



"Kita naik taksi bareng aja."



"Kita kan satu jalan, nanti taksi lewatin hotelmu  baru lanjut ke hotel kami," usul Ruddy.



"Ya sudah kalau kalian memang mau seperti itu. Kalian sendiri kapan akan pulang ke Paris?"



"Mungkin kami masih tiga hari lagi kembali ke Paris," jawab Stella.



"Kamu sudah beli tiket?" Tanya Stella.



"Sudahlah,"  Andre memang telah membeli tiket sejak kemarin.



Mereka pun naik taksi bersama.



"Ada apa itu? Sepertinya taksi di depan celaka. Ada mobil didepan taksi yang menghalangi taksi itu." Stella bicara soal taksi yang berhenti di depan jalan yang akan mereka lalui.



"Iya Pak sepertinya taksi di depan dicegat mobil dan terjadi perkelahian." Sopir taksi menjawab apa yang Stella katakan.



"Lalu kita harus bagaimana?"  kata  Ruddy.



"Saya sudah mengirim pesan ke kantor taksi Pak."



"Kita lihat dulu aja apa yang terjadi. Kita harus berhenti,  kali aja ada yang luka dan butuh bantuan kita," kata Stella.



"Ibu nggak apa apa kalau kita berhenti?" Sopir taksi bertanya.



"Enggak apa apa kita harus menolong," sahut Ruddy.



"Oke," sopir taksi pun mulai menepikan kendaraannya.



"Andre nggak apa apa ya kamu jadi telat sampai hotel," ucap Stella.



"Enggak apa apa,"  Andre tak keberatan karena dia baru akan pulang esok pagi. Malam ini tak ada yang dia akan lakukan.



Ruddy dan Stella yang turun lebih dahulu melihat ada seorang tergeletak di tepi jalan.



"Dave!" Teriak Stella melihat sosok yang pingsan dalam kondisi babak belur.



"Eh eh," terdengar suara lemah. Andre mencari sumber suara, ternyata dibalik pintu taksi yang terbuka ada sosok wanita yang sepertinya hendak masuk taksi tapi sudah tak kuat, banyak darah berceceran. Wanita itu tertelungkup di bawah jok taksi.



"Nona, Ibu eh Ebby!!!!" Pekik Andre saat membalik tubuh perempuan yang hendak dia tolong.



Stella menghampiri. Dia melihat Andre yang membopong Ebby yang sudah berlumuran darah.



Ternyata taksi itu adalah mobil yang ditumpangi Dave dan Ebby.



"Pak kita langsung ke rumah sakit aja nggak usah nunggu ambulans," ucap Ruddy.



"Tapi ini sempit," sopir taksi bingung karena pasti tak nyaman bila sesak dibelakang.



"Enggak apa apa sempit yang penting kita bawa dulu. Ini darurat." Ujar Andre yang tidak sabar.



"Rudd, ambilkan tas Ebby ditaksi depan. Identitas Ebby ada disana. Nanti sulit bila daftar rumah sakit," Andre meminta Ruddy mengambil tas Ebby. 



Andre melihat Ebby ada luka tusukan di perutnya bagian samping. Lebih tepat di pinggangnya.



Banyak darah keluar, Andre tentu saja cemas melihat kondisi Ebby seperti itu. Dia peluk Ebby dengan lembut dan dia kecup keningnya.



Andre meneteskan airmata. Niat Andre  pulang le Indonesia karena mau mundur! Tak mau lagi mengharap kelanjutan hubungan mereka.yang tak tentu arah.



Tapi melihat kondisi Ebby seperti itu Andre yakin tak akan mampu berpisah dengan gadis itu. 



'*Bagaimana aku bisa menjauh? Melihat kamu seperti ini saja aku seperti kehilangan tulang. Kamu kuat bertahan ya babe. Aku akan menemanimu. Aku tak akan meninggalkanmu*.'


\*\*\*



"Wali pasiennya siapa? Kami butuh dia menandatangani surat tindakan." Petugas rumah sakit menanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap Ebby.



Stella dan Andre saling pandang. "Saya," ucap Ande spontan.



"Anda suaminya, tolong tanda tangani ini."



Tanpa pikir panjang Andre tanda tangan.



"Ya ampun Stella. Aku tidak membantah kalau aku suaminya, aku asal tanda tangan yang penting dia cepat ditangani," Andre menyesal tidak membantah kata-kata petugas rumah sakit tadi.



"Sudahlah kita lagi kayak gini, udah iyain aja," kata Stella. 



"Aku enggak enak nanti dikira aku sengaja ngaku kalau dia istriku," sesal Andre.



"Enggak apa apa aku jadi saksi kok Namanya kita panik," kata Stella lalu mereka menandatangani surat operasinya Ebby dan juga perawatan Dave.



Sejak saat itu, Andre merasa Ebby adalah tanggung jawabnya karena Ebby adalah istrinya.



Andre mendalami perannya sebagai SUAMI EBBY.


\*\*\*



Sambil menunggu Ebby dioperasi Andre menghubungi Hengky. Dia memberitahu menunda kepulangan karena menemukan Ebby terkapar akibat perampokan.



Andre juga mengabari Gunawan. Dia akan kembali ke Indonesia bila Gunawan telah tiba di Berlin.




Karena terlalu lelah tak sadar Andre tertidur sambil menggenggam erat tangan Ebby. Andre berjanji tak akan bergeser 1cm pun dari sisi Ebby. Andre sadar dia tak bisa lagi menghindari sosok kecil yang dia mulai cintai segenap hati ini.



"Aku di mana ya?" Kata Ebby bingung. Andre merasa Ebby bergerak lalu bangun.



"Aku kenapa?" Tanya Ebby bingung.



"Kamu terluka, aku nemuin kamu di jalan. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Andre.



"Aku, Dave dan Rudolf baru bertemu dengan Hendrik. Kami selesai bicara bisnis. Seharusnya Stella dan Om Ruddy juga. Tapi mereka bilang sudah ada janji dengan Om lebih dulu karena Om akan kembali ke Indonesia besok."



Lalu Andre mendengar kronologis bagaimana Ebby bisa terluka. Saat itu Andre merasa ada yang ditutupi dari kejadian sebenarnya. Tapi dia diam saja.



"Om kenapa bisa lewat situ?"



"Seperti yang kamu tahu, aku habis makan dengan Stella dan Ruddy."



"Ruddy  ngajakin pulang bareng, dia minta satu taksi aja karena katanya hotelku kelewatan bila menuju hotelnya. Nanti aku di drop di hotel ku lalu dia.angsung  ke hotelnya."



"Malam ini kan aku sama Stella perpisahan karena besok pagi aku mau pulang ke Indonesia," jelas Andre.



"Urusannya udah selesai Om?" Selidik Ebby.



"Sudah selesai, aku mau pulang tapi udah aku batalin kok," kata Andre.



"Kenapa dibatalin?" Ebby tanpa sadar bertanya alasan Andre membatalkan kepulangannya ke Indonesia.



"Kamu sama siapa? Mana bisa aku tinggalin kamu sendirian disini."



"Kamu nggak usah merasa nggak enak. Udah tenang aja aku udah batalin kok," Andre tahu apa yang Ebby rasakan.



"Sekarang kamu minum dulu obatmu. Perawat berpesan  kalau kamu sadar harus  segera diminum obat ini," Andre memberikan obat yang perawat siapkan untuk Ebby begitu Ebby tersadar.



 "Terima kasih Om ," 



"Ya udah kamu sudah makan? Atau sudah lapar lagi?" 



"Enggak. Masih kenyang." Jawab Ebby.



"Sekarang tidur biar cepat pulih," Andre memberi saran agar Ebby kembali istirahat.



"Enggak aku belum ngantuk," Ebby bantah Ebby.



"Kamu sedang ada proyek apa?" tanya Andre untuk membuat  Ebby rileks dan tertidur tanpa sadar. Karena Andre tahu pengaruh obat masih Ebby rasakan.



Ebby lalu menerangkan proyek yang dia bikin dengan Stella dan grupnya.



"Kenapa kamu jauh-jauh kesini? Kerjaanku kan sama dengan Stella.Kenapa kita nggak kerja sama aja?" 



"Aku baru tahunya sekarang bawa Om sama Stella satu kampus. Mana aku tahu bisa kerja sama sama Om."



"Kamu dekat lama dengan Hengky, enggak tahu bidang yang aku geluti?" Tanya Andre penasaran. 



"Aku tahu bidangnya Aheng dan opa Herman. Aku pikir Om sama aja." Ebby memang tak tahu kalau bidangnya Andre tu bisa kerja sama dengan usahanya.



"Untuk yang berikutnya kamu bisa kerjasama dengan aku aja. Enggak perlu jauh-jauh dengan teamnya Stella."



"Om sendiri kerja jauh-jauh kan?" Cetus Ebby.



"Sebenarnya ini adalah usaha sejak masih kuliah di Australia dulu. Waktu itu aku belum sama Maura. Belum  menikah juga belum ada  rasa apa pun. Aku masih 16 tahun!  Memang nggak punya rasa apa-apa."



"Waktu itu aku buka usaha sama Steve yang pacarnya Stella itu. Steve berusia 20 saat itu.  



"Saat Hengky berumur 4 atau 5 tahun aku kembali bertemu Steve."



"Kami bekerja sama lagi. Mulai saat itulah kami buka lantor di Paris."



"Jadi aku di Paris itu kan memang dari dulu."



"Steve  baru meninggal tiga tahun lalu. Sekarang yang pegang bagian dia adalah apa gimana ngomongnya bukan istri sih tapi ya teman hidupnya Steve."



"Jadi mitraku sekarang sama dia."



"Jadi timnya om janda dong?" kata Ebby saat itu dengan jeas Andre merasakan ada nada  cemburu di kalimat Ebby.



"Tapi aku nggak tertarik sama dia kok," kata Andre yang tahu Ebby cemburu.



"Tertarik juga nggak apa apa. Jodoh kan janda ketemu duda!"



"Memang aku duda, Aku tahu aku punya anak besar. Aku tahu tapi aku nggak tertarik dia udah gitu aja." Entah mengapa saat itu Andre marah ketika Ebby bilang dirinya duda.



Bukan Andre tak terima dengan status itu. Tapi Andre merasa insecure dengan status itu. Dia merasa akan sulit menggapai Ebby.



"Ya nggak usah marah gitu juga kali," kata Ebby.



"Kamu tuh yang bikin kesel."



"Lah kenapa aku?" Protes  Ebby.



"Aku bilang aku nggak tertarik sama dia. Jadi kamu nggak usah cemburu."



"Siapa yang cemburu? Aku enggak cemburu koq," kata Ebby.



"Aku tahu kamu cemburu dan nggak usah kamu bantah itu."



"Kok jadi aku sih yang cemburu. Orang aku nggak apa apa kok," bantah Ebby.



Itu pertengkaran pertama mereka soal pengakuan cemburu.



Sama-sama tak mau bilang cinta, tapi sama-sama memendam rasa cemburu


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR