
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Untung Ebby bisa sandiwara kayak gitu ya," kata Herman saat mereka hampir selesai belanja keperluan kelinci peliharaan mereka.
"Maksud Papa apa?"
"Iya tadi dia bisa langsung nanggepin waktu kamu bilang dia calon istrimu," ujar Herman.
"Oh itu, bagaimana kalau itu beneran Pa?"
"Buat Papa enggak apa-apa. Lebih-lebih kalau Ebby-nya mau jadi istrimu."
"Kasihan Ebby, dia pasti akan terbebani karena banyak yang pernah kenal dia udah mau nikah dengan Hengky. Koq sekarang mau nikah dengan aku," keluh Andre.
"Enggak usah pikirin itu memangnya mereka yang kasih makan kalian, memangnya kalian rugikan mereka bila kalian menikah nanti?"
"Yang penting kalian sendiri nyaman enggak? Apa kalian malah masih terganggu bayangan Hengky diantara kalian!" Herman mencoba memberi pandangan bahwa yang harus mereka pikir siap enggak akan bayangan Hengky diantara mereka.
"Ya kita lihat aja nanti lah Pa."
"Makanannya berapa karung?" Tanya kasir.
"Lima karung besar saja cukuplah."
Pegawai petshop menyiapkan makanan kelinci sebanyak lima karung besar.
\*\*\*
"Kita pulang kapan Heng?"
"Mau sekarang atau besok? Hotel sudah dibayar sampai besok sih."
"Ya udah besok aja deh. Hari ini kita jalan-jalan aja yuk," ajak Patricia.
"Oke jadi aku minta pulang besok ya buat tiket pulangnya," Hengky memastikan pada Patricia.
"Iya besok sore ya Heng, jangan pagi-pagi."
"Hari ini kita belanja oleh-oleh dulu. Aku pergi lima hari keluar kota, masa nggak beli apa-apa buat mama papaku."
"Ok pagi ini kita hunting oleh-oleh, aku juga akan cari oleh-oleh buat Oma sama Opa aku."
Hari ini benar-benar hari yang istimewa buat Patricia dan Hengky mereka jalan-jalan kebeberapa destinasi wisata di Manado. Mereka juga banyak membeli oleh-oleh baik makanan maupun kerajinan dan bahan baju khas Manado.
\*\*\*
"Selamat malam Om, Tante," sapa Hengky. Mereka berangkat dari Manado siang menjelang sore dari Manado.
"Mi, Pi, dia teman SMA aku. Ternyata pas aku pindah kerja, dia itu atasan aku di kantor," Patricia memperkenalkan Hengky pada mami dan papinya.
"Dia anak dari pemilik perusahaan sekalian atasan aku langsung." Jelas Patty.
"Om, Tante mungkin untuk seterusnya saya akan sering ke sini baik menjemput atau mengantar Patricia karena saya akan serius menjalin hubungan dengan Patricia. Saya bukan mencari pacar Om, Tante, saya ingin menikah."
"Tante sih nggak pernah peduli ya Patricia mau dengan siapa asal dia suka, dan pria itu bertanggung jawab. Tante tentu akan setujui," maminya Patricia tak menolak permintaan Hengky.
"Asal kalian jangan kelewat batas. Kita makhluk beragama." Ucap maminya Patty.
"Kami mengerti soal agama. Kami akan selalu taat, tidak akan melakukan suatu hal yang belum diizinkan oleh agama sebelum kami resmi menikah," kata Hengky.
"Sekarang saya permisi pulang dulu Om Tante, saya tahu Patty lelah. Saya juga lelah karena kami habis tugas bersama."
"Loh kalian pergi bersama?" papinya Patty kaget.
"Iya seharusnya yang berangkat itu Daddynya, tapi ternyata Daddynya kasih kesempatan buat Aheng berangkat bareng aku, Pi jadi daddynya kasih kesempatan Aheng mengucapkan cintanya di Bunaken."
"Kalian baru jadian? Bukan sejak SMA?"
"Saat SMA kami nggak ada hubungan apa pun baru jadian kemarin saat di Bunaken. Itu pun sebelumnya kami nggak pacaran, belum pernah pacaran," kata Patricia.
"Kami akan menjajaki dalam perkenalan kedepannya." Ujar Hengky.
"Bagaimana kalau kalian menikah aja lalu kalian pacarannya sesudah menikah?" Papinya Patricia memberi pilihan.
"Oke saya akan katakan pada orang tua saya. Dua minggu lagi saya melamar dan 1 bulan lagi kami menikah," kata Hengky dengan pasti."
"Begitu lebih baik," kata papinya Patricia.
Tentu saja Patricia kaget dia tak menyangka akan segera menikah tanpa persiapan apapun termasuk persiapan mental.
\*\*\*
"Ma, Pa, Dadd, aku minta dua minggu lagi kita melamar Patricia dan satu bulan kemudian aku akan menikahinya," pagi ini Hengky membuat kejutan saat sarapan. Semalam dia pulang sudah lewat waktu makan malam sehingga dia makan sendirian.
Andre tentu saja kaget tapi bahagia mendengar Hengky dua minggu lagi akan lamaran dan satu bulan kemudian menikah.
Meylan yang tak percaya, Herman tetap tenang.
"Apa kamu melakukan hal buruk sehingga baru menyatakan cinta langsung akan menikah?" Tanya Meylan.
"Enggak Oma, aku enggak seperti itu," ucap Hengky. Dia lalu menceritakan mengapa dia merasa tertantang saat papinya Patty bilang mengapa enggak nikah dulu.
"Kapan kalian lamaran?"
"Tadi aku bilang dua minggu lagi." Jawab Hengky.
"Bagaimana bila sepuluh hari lagi aja. Jadi pas hari Sabtu. kalau dua minggu itu hati kerja." kata Opa.
"Oke, kita akan lamaran sepuluh hari lagi terus, masalah gereja dan izin, kamu urus sendiri." kata Opa.
"Baik Opa, aku urus semuanya." Ujar Hengky tanpa gentar.
"Kasih tau Oma sedang tak bisa banyak bergerak. Suruh orang tua Patty tentukan gedung dan catering mana yang mereka pilih, Oma tinggal bayar!" Ujar Meylan. Padahal baru dua hari lalu dia bilang pada Andre dan Herman masih kurang sreg pada Patty.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA