
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Pagi ini Andre hendak keluar sarapan sekalian belanja. Kulkasnya kosong. Dia juga butuh membeli peralatan pribadi selain kopi serta roti. Andre mengeluarkan mobil sewaannya.
"Loh, apa mereka mau pulang? Kalau Ebby mengantar dengan taksi, dia pulang pasti sendiri kan?" Andre melihat Gunawan mengangkat koper masuk taksi.
Andre langsung mengikuti taksi itu karena tahu Ebby akan pulang sendiri.
Andre melihat Ebby baru keluar dari terminal keberangkatan bandara. Rupanya Gunawan dan Sekar kedua orang tuanya sudah check in jadi dia akan cari taksi untuk pulang.
"Ebby!" panggil Andre
"Eh Om," Andre memperhatikan sekarang Ebby merubah panggilan untuknya jadi OM.
"Sedang apa By?" tanya Andre pura-pura tidak tahu kalau orang tua Ebby datang ke Paris.
"Antar mama dan papa pulang Om," jawab Ebby.
"Lho, orang tuamu kesini? Sayang Om enggak ketemu," Andre mengalah menyebut dirinya Om. Daripada dipanggil pak.
"Mereka satu minggu disini Om," Ebby memberitahu kalau orang tuanya cukup lama menemaninya.
"Om sendiri ngapain?" Tanya Ebby.
"Antar teman mau pulang ke Singapore," Andre
"Kamu bawa mobil? Kalau habis antar orang tua mu, enggak mungkin kan pakai mobil sportmu itu," Andre bertanya menjebak.
"Bareng Om aja. Om bawa mobil koq." Ajak Andre.
"Iya Om tadi kami naik taksi," kata Ebby.
"Ya udah bareng om aja," ajak Andre lagi.
"Enggak ngerepotin Om ?" tanya Ebby ragu.
"Enggak lah. Kayak ama siapa aja," balas Andre.
"Om kapan pulang ke Indo?" Tanya Ebby saat mereka sudah keluar dari bandara.
"Mungkin bulan depan pekerjaan disini sudah bisa ditinggal," Andre menyalakan musik slow pelan.
"Wah bisa bareng tuh," Ebby mengatakan akan pulang ke Indonesia.
"Kamu mau pulang ke Indonesia?" Andre akan memberitahu Hengky bila memang Ebby benar pulang ke Indonesia.
"Ya Om saya liburan mau pulang ke Indonesia sebentar. Sekalian ketemu Hengky," jawab Ebby.
"Ada apa bertemu dengan Hengky? Kalian mau balikan?" Andre tentu senang bila anaknya bahagia.
"Nggak Om. Bukan untuk balikan. Saya hanya memberi kesempatan dia untuk minta maaf agar dia bisa mati dengan tenang," jawab Ebby santai.
"Kamu tuh," kata Andre tanpa menyelesaikan kalimatnya.
"Ialah Om. Kasihan dia. Saya maafin kok. Saya tahu dia tidak sengaja berbuat itu. Tapi kalau untuk kembali itu tidak akan mungkin. Saya nggak bisa. Hengky sudah tahu itu."
"Lho kalian ngobrol di mana kan Hengky nggak tahu nomor teleponmu," tanya Andre bingung.
"Ngobrol di email Om. Sejak dulu Hengky tahu email saya," Jawab Ebby.
"Semoga kita bisa bareng," kata Andre.
"Iya Om. Saya tergantung pekerjaan. Bisa jadi minggu besok, bisa jadi dua bulan lagi," jelas Ebby.
"Dalam rangka apa papa mamamu datang?" Selidik Andre. Kali aja dia dapat info bahwa mereka berkenalan dengan calon mantu.
"Kangen aku aja. Biasanya tiap bulan mereka memang mengunjungiku," ucap Ebby.
"Om belum sarapan?" tanya Ebby.
"Belum. Enggak enak tadi sama rekan. Kami hanya sempat ngopi saja. Kasihan dia kalau harus terburu-buru."
"Rekan atau pacar?" Andre merasakan ada nada cemburu di perkataan Ebby pagi ini.
"Om itu menikah dengan tante Maura, mommynya Aheng ( Hengky ) tanpa rasa cinta seorang lelaki pada perempuan. Om menikah karena kami tumbuh bersama."
"Saat Maura berusia 16 tahun dia minta kami menikah."
"Saat itu omanya Hengky melarang. Sampai saat Maura 17 tahun dan Om 18 tahun kami menikah tepat di hari ulang tahun Om."
"Lalu dia hamil. Sampai saat itu tetap TAK ADA CINTA. Om hanya merasakan sayang dia sebagai adik atau sebagai saudara karena tumbuh bareng."
"Hengky lahir tepat di hari ulang tahun Om ke-19. Satu tahun sejak pernikahan kami. Jadi Hengky adalah kado ulang tahun dari Tuhan buat Om. Kami lahir ditanggal yang sama."
"Saat usia kehamilan Maura berusia empat bulan, Om dan keluarga baru tahu Maura mengajak Om menikah karena dia punya kanker rahim yang sudah stadium parah."
"Maura bisa bertahan sampai Hengky umur 12 tahun. Saat dia meninggal tak ada kehilangan sosok tercinta. Om kehilangan kawan kecil. Dan Aheng sejak kecil dengan mamanya Om."
"Keluarga Maura membenci Aheng, mereka menuduh Hengky penyebab Maura sakit dan meniggal."
"Hingga saat ini rasa untuk Maura itu hanya iba dan sayang sebagai adik sih sebenarnya nggak merasa sebagai yang lain."
"Jadi sampai sekarang Om memang belum pernah punya rasa cinta pada seorang perempuan entah itu jatuh hati atau pacaran."
"Belum pernah ada rindu menggebu terhadap kekasih. Merasa cemburu layaknya pasangan yang penuh cinta. Sekarang hanya terasa kehilangan teman dekat masa kecil saja," jelas Andre.
"Kalau sekarang Om jatuh cinta, Om rasa itu wajar. Hanya sosok perempuannya yang Om rasa tidak wajar!" Saat itu Andre mulai berani mengungkap ada rasa cinta yang salah tubuh dihatinya.
"Karena itu om menepisnya dalam-dalam. Sekarang Om belum punya pacar belum pernah pacaran." Rasa cinta yang seharusnya tak boleh tumbuh. Karena dia jatuh cinta pada mantan tunangan putranya.
"Yang Om antar tadi adalah seorang bapak dari Singapura ke sini bersama dua orang anaknya yang nantinya mewariskan perusahaannya."
Akhirnya Andre mematikan mesin mobilnya di sebuah Cafe. Mereka pun makan pagi yang kesiangan atau BRUNCH.
Tak ada jaim di pihak Ebby mau pun Andre. Mereka makan biasa aja karena memang mereka biasa dulu pernah akrab sebagai calon menantu dan calon mertua.
"Sebentar ya Om aku kemeja sebrang." Ebby pamit pada Andre
"Kenapa?"
"Ada temanku. Nanti dikira aku sombong," Ebby mendekati Albeyn.
"Hai kamu," sapa Andre saat melihat siapa yang datang bersama Ebby.
"Eh Bapak. Apa kabar?"
"Lho kalian sudah kenal?" kata Ebby kaget.
"Om pernah naik taksinya. Waktu itu Om pas lagi telepon Oma,"
"Lalu dia tanya Om dari Indonesia akhirnya kami ngobrol," jawab Andre.
"Waktu itu dari kantor mau pulang kalau nggak salah," lanjut Andre.
"Bagaimana dengan perempuan Indonesia di Paris yang kamu sukai?" tanya Andre ada Albeyn.
Albeyn diam, orang yang dimaksud ada di depan mereka.
"Ingat lo pesan Om jangan khianati tunangan kamu sudah punya dia," Andre menasihati Albeyn.
Dari percakapan selanjutnya Andre akhirnya tahu kalau Albeyn, mahasiswa S2 dari UNPAD mencintai Ebby dengan segenap hati walau sudah punya tunangan di Indonesia dan akan segera menikah begitu Albeyn selesai kuliah.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER