
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Mama tahu dari mana soal Yoce dan Jeffry Ma?" tanya Andre di mobil saat mereka menuju rumah keluarga Herman.
"Siapa lagi yang bisa kasih data akurat kalau bukan dari menantu Mama?" Jawab Meylan dengan bangga.
"Jadi Mama ada pesan sponsor?" tanya Herman tak percaya.
"He he he, ada sedikit yaitu masalah Yoce dengan Jeffry aja," jelas Meylan.
"Istriku tuh benar-benar istimewa ya Ma."
"Jangan pernah main-main sama dia," Meylan memperingatkan Andre.
"Yang main-main sama dia siapa Ma? Aku tuh cinta mati sama dia. Mama bisa lihat lah dari bukunya Maura, kami sudah tidur bersama empat hari baru aku bisa melakukan kewajiban suami istri." Jelas Andre tanpa malu.
"Kenapa? Apa kamu nggak tertarik padanya sebagai wanita?" tanya Herman penasaran.
"Aku memang nggak punya rasa yang istimewa Pa.", ungkap Andre.
"Tapi kan sebagai lelaki pasti tergiur lah namanya sudah tidur bersama," gantian Meylan yang mendesak Andre.
"Aku merasa dia itu adikku. Jadi ya aku nggak tega aja. Dari malam pertama itu aku udah bingung gimana mau menghindarinya."
"Akhirnya aku bisa melakukannya setelah dia peluk dan menciumku dengan membabi buta, baru malam keempat aku bisa."
"Aku nggak bohong kan. Ternyata Maura bahkan berharap aku menciumnya sejak di SMP. Apa aku pernah melakukannya? Aku nggak punya rasa apa pun."
"Sekarang kita bicara sebagai sesama orang dewasa bukan sebagai anak dan orang tua. Pada Ebby, aku sangat ingin melakukannya sejak aku bisa menciumnya di Berlin."
"Pada Ebby aku sangat ingin melakukannya. Aku nggak malu mengakui ini pada Mama dan Papa karena kita bicara sebagai orang dewasa."
"Aku sangat ingin dan memohon padanya, tapi Ebby teguh dalam agama. Dia tak mau kami melakukannya sebelum kami sah secara agama. Bahkan kami sering make out dan tidur naked dia tak mau memberi Ma."
"Papa ingat hari pemberkatan nikah kami sore hari dan dari pagi kami di kamar berdua? Itu pun dia tetap tak mau memberikannya!"
"Apa perempuan seperti itu bisa aku buat mainan Ma?"
"Kami sudah satu rumah di Paris, di Jakarta, di Bali, si Aussie. Saat di mana pun kami sudah tidur dalam keadaan polos tapi Ebby tak tergoyahkan Ma. Dia perempuan istimewa buatku."
"Dia masih virgin tak pernah tersentuh oleh siapa pun. Kalau Papa dan Mama nggak malu bisa cek pada Hengky. Aku yakin mereka tak pernah tidur bersama walau tak melakukannya seperti yang aku lakukan dengan Ebby."
"Kami sering tidur bersama Pa, Ma, kalian bisa lihat lah kami pulang dari Paris, dari Berlin, beberapa kali aku melakukan pelepasan, maaf bukan beberapa kali, tapi aku SELALU melakukan pelepasan karena aku butuh itu."
"Semua aku lakukan setelah aku bertemu Ebby! Selama aku menjadi duda aku tak pernah ingin. Aku nggak pernah ingin dengan perempuan mana pun bahkan dengan Maura bisalah dihitung jari."
"Maura sampai menulis yakin Aheng bukan anak aku karena sejak dia diperkosa oleh papanya, aku nggak pernah berbuat padahal kami masih pengantin baru dan ada di Brisbane yang dingin."
"Sampai Maura hamil aku dan Maura nggak pernah melakukan hubungan suami istri. Jadi Maura yakin itu bukan anak aku."
"Maura menulis seperti itu karena intensitas aku berhubungan sama Maura itu bisa dihitung jari. Terlebih ketika dia hamil aku tambah males bukan males, lebih tepat kasihan."
"Aku takut anak aku kenapa kenapa di kandungan, takutnya dia keguguran. Setelah melahirkan aku tambah males. Aku berpikir dia sudah lelah mengurus anak dan rumah, jadi aku enggak ingin dia tambah lelah. Bisa dihitung jari dalam setahun aku berapa kali melakukan itu. Dengan istri aja aku malas lebih-lebih dengan perempuan lain."
"Setelah aku menjadi duda aku masih dingin, tapi begitu bertemu dengan Ebby aku mengemis padanya. Untungnya dia enggak pernah kasih."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA