
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Kalian pulang naik pesawat pribadi?" tanya Dave.
"Kenapa? Kamu mau ikut?" Ucap Ebby, dia tentu suka bila ada tambahan teman seperjalanan.
"Enggak aku tanya aja," ujar Dave.
"Kalau kalian pakai pesawat pribadi, kan enggak akan ada peraturan maskapai yang menghadang kalian untuk tidak terbang?" tanya Dave.
"Iya sih," Jawab Ebby.
"Kalau pakai pesawat pribadi apa tetap harus nggak boleh kalau ibu hamil?"
"Sebenarnya semua sih aman kalau kondisi memungkinkan. Terlebih kita misalnya bawa dokter kandungan. Tapi kamu tahu kan goncangan di pesawat itu tidak bisa diprediksi. Apa dokter kandungan bisa mencegah terjadinya guncangan? Kan nggak."
"Guncangan di pesawat disebabkan turbulensi, karena ada perbedaan tekanan udara atau apa aku sendiri kurang mengerti hal itu."
"Jadi bukan soal boleh atau tidak boleh. Kalau aku berani ambil resiko, ya silakan aja. Memang benar selama ini kita naik pesawat aman tidak ada guncangan, tapi siapa tahu saat aku sedang hamil lalu terjadi guncangan. Kalau itu terjadi kita mau bilang apa?"
"Kalau sudah terjadi kegagalan kehamilan, penyesalan itu nggak akan ada gunanya kan?"
"Kalau aku sudah keguguran apa kita bisa ulang waktu agar aku enggak jadi pergi? Itu yang aku tidak mau," kata Ebby.
"Bener By, jangan cari resiko. Kalau memang bisa diminimalisir ngapain cari resiko. Lebih baik kita diam di rumah. Aku tahu sebenarnya celaka bisa terjadi di mana aja. Tapi kita bisa meminimalisir," kata Stella. Dia lebih setuju pada Ebby.
"Lebih baik nggak usah cari resiko dengan melakukan penerbangan walau jarak dekat sekali pun."
Akhirnya malam itu mereka berpisah tapi sebelumnya Ebby berpesan suruh memberitahu kapan diadakannya pembaptisan baby boy nya Ruddy dan Stella.
"Nanti kalau memang aku belum hamil, aku akan datang. Pasti aku datang," kata Ebby.
"Bukan tidak berharap kamu datang, tapi aku lebih berharap kamu sudah hamil saat pembaptisan anak kami," ujar Ruddy.
"Aku tahu kamu sangat mengharapkan mendapat baby secepatnya. Benar seperti yang Ruddy bilang bukan kami tidak berharap kamu datang, tapi kami lebih berharap kalian segera dapat momongan," Stella melengkapi kalimat suaminya.
"Terima kasih doanya," kata Andre dan Ebby bersamaan.
Mereka memang ingin segera punya anak.
\*\*\*
"Honey," teriak Ebby.
"Iya kenapa?" pagi itu sehabis berdoa Andre baru memesan sarapan pada petugas hotel ketika terdengar Ebby teriak.
Mereka sudah di Aussie selama dua hari.
"Aku mens," keluh Ebby.
"Setelah kamu selesai mens ini kita bisa memprogram punya anak."
"Kalau mau cepet berhasil kita melakukannya lebih serius pada saat kamu ovulasi."
"Seperti Patty, kita gunakan alat test ovulasi. Bisa kita deteksi kapan kamu ovulasi."
"Itu yang perlu kita gunakan. Kita beli itu sehingga tahu kapan kamu ovulasi lalu kita program."
"Kamu maunya bayi perempuan atau bayi laki-laki bisa diprogram."
"Tentu bayi laki-laki untuk anak pertama kita," jawab Ebby cepat.
"Oke kita ikuti program dokter sehabis ini. Setiba di Jakarta kita langsung ke dokter kandungan agar segera dapat momongan," kata Andre.
"Enggak usah sedih," bujuk Andre lagi.
"Terima kasih kamu telah mensupport," Ebby memeluk Andre yang masih berdiri, dia meletakkan wajahnya di perut suaminya.
"Pasti aku support lah, kamu kan istri aku," kata Andre.
"Iya Honey, aku senang punya suami kamu."
"Memangnya kamu mau punya suami siapa?" Goda Andre.
"Enggak ingin siapa pun, cuma pengen punya kamu."
"Ya udah," kata Andre dia memeluk istrinya dan mengecup kening Ebby dengan penuh cinta.
Perempuan ini sangat ingin punya anak terlebih menantu mereka sudah hamil.
"Enggak usah iri dengan siapa pun terlebih pada Patty karena dia langsung dapat baby. Jalannya orang itu beda-beda," kata Andre sambil memeluk istrinya.
"Kita pasti dapat kamu perempuan sehat kok. Kita sabar. Begitu tiba di Jakarta kita langsung ke dokter kandungan terbaik."
"Ya honey," jawab Ebby tenang.
"Sekarang coba kamu konsultasi via telepon dengan Sinshe, katakan kamu sedang menstruasi dan minta obat penyubur agar bulan depan kamu langsung hamil," kata Andre.
Ebby pun setuju dia langsung menghubungi Sinshe keluarganya agar diberikan resep biar Sekar membelikan untuknya dan obat-obat itu sudah siap begitu mereka tiba di Jakarta.
Rencananya mereka dia Australia hanya 4 hari.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR