
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Ebby dan Andre ragu membuka amplop yang mereka terima dari petugas. Mereka berpandangan. Tentu berat menerima kenyataan bila hasil lab ini sesuai dugaan mereka.
Andre dan Ebby ingat bagaimana beratnya mereka mendapatkan sample Aheng secara sembunyi-sembunyi.
Andre sekarang tak leluasa masuk kamar Aheng karena putranya sudah menikah. Beda saat Aheng masih single dulu.
Ebby mengambil alih amplop dari tangan Andre. Dia keluarkan lembaran kertas dalam amplop.
Disana tertulis bahwa Andre dan Hengki sama sekali tidak berhubungan darah!
Tentu saja Andre kaget melihatnya. Ebby menggenggam jemari Andre menguatkan suaminya agar kuat menghadapi kenyataan.
"Ini nggak salah kan?" tanya Andre pada petugas yang mendampingi mereka membaca hasil test.
"Tidak Pak itu akurat. Kami tidak menukar sample dan sembarangan menyimpulkan."
"Itu benar-benar yang sesuai data."
Ebby langsung memeluk Andre dia tahu suaminya butuh kekuatan, butuh support darinya.
"Sudah ya sampai sini aja. Enough" pinta Ebby. Dia tak ingin masalah ini berkepanjangan terlebih melibatkan sosok yang susah meninggal.
"Enggak bisa aku harus beritahu papa. Terkait harta aku nggak akan ributkan seperti yang kamu minta. Aku akan nurut."
"Tapi soal nama keluarga, sepertinya tidak bisa. Lebih-lebih nanti anaknya dia juga akan bawa nama papanya. Itu berkaitan dengan nama leluhurku. Kita enggak bisa sembarangan."
"Kita lanjut bicara di luar ya. Sekarang kita pamit dulu. Banyak yang menunggu giliran dilayani." Ebby berbisik mengajak Andre pamit pada petugas.
"Maaf Pak. Dan terima kasih atas pelayanannya," ucap Andre. Dia baru sadar masih banyak yang antri.
\*\*\*
Andre langsung menuju cafe. Ebby memesankan dimsum dan teh madu untuk suaminya yang butuh relaksasi
"Please honey. Enggak usah dilanjut. Kamu minum teh madumu biar sedikit tenang," pinta Ebby. Sejak keluar dari parkiran lab hingga tiba di cafe ini Andre hanya diam tanpa kata.
Ebby berpikir tentu Andre sangat kecewa pada Maura yang tega membohonginya berpuluh tahun. Maura meninggal kan usia Aheng sudah lewat sepuluh tahun.
"Aku enggak nyangka, setelah aku turuti permintaannya menikah muda, dia tega membohongiku seperti ini." desah Andre pelan.
"Aku enggak yakin dia membohongimu," ucap Ebby.
"Dokter benar. Bibitku tak subur sejak dulu. Karena sehabis Aheng lahir, Maura tak pernah menggunakan kontrasepsi."
"Logikanya kalau Aheng adalah anakku, pasti akan ada satu dua atau bahkan tiga adiknya selama dua belas tahun sejak kelahiran Aheng!"
"See …? Jadi memang Aheng bukan benihku!"
"Tapi sudahlah kasihan Aheng nggak tahu dia tuh dari mana marganya." Ebby tetap tak ingin persoalan ini semakin berlarut.
"Tapi ini menyangkut keturunan Babe, enggak bisa seperti itu. Aku tetap menyayangi dia aku juga baru tahu ini kok. Kalau aku nggak iseng periksa hasil sper-ma milikku, aku enggak tahu selama ini aku tuh dibohongi Maura."
"Sehabis ini aku akan tetap sayang dia kok," kata Andre ngotot.
"Baiklah kita bicara dengan papa tapi tidak dengan mama. Aku tak ingin ada polemik. Nanti selanjutnya terserah kebijakan papa." Akhirnya Ebby mengalah. Dia tak ingin Andre tak mendapatkan solusi dari persoalan yang ada didepan mata mereka.
"Oke. Thanks Babe. Kamu yang terbaik untukku," jawab Andre dia sungguh putus asa melihat hasil seperti ini dia juga yakin ini bukan kesalahan Hengky tapi tak percaya saja Maura bisa menyimpan rahasia seperti itu. Bagaimana mungkin perempuan lugu dan polos seperti Maura memendam rahasia selama itu?
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR