
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Patty dan Ebby hanya melihat dari dalam kedatangan keluarga Samudra.
"Orangnya itu ya Mom?"
"Pastilah. Yang tua cuma dia, dua itu kayaknya kakaknya Maura," kata Ebby berbisik pada Patty.
"Ganteng sih mukanya hampir mirip dengan ko Aheng," kata Patty.
"Tapi kelakuan nya ampun-ampun." Patty geleng-geleng kepala.
Tamu yang datang adalah Lukas, Arthur Irene, Jeffry dan Paulina.
Saat itu Yoce atau Yohana tak ikut.
Patty dan Ebby tentu belum tahu yang itu Paulina atau siapa karena kan mereka juga belum kenal atau bertemu.
"Aku rasa Yoce yang nggak ada ya Mom. Kan dia malu."
"Mungkin atau sudah diusir suaminya karena ketahuan menjadi selingkuhan papa mertuanya sendiri. Jadi kemungkinan ya itu Paulina," mereka berbisik berdua.
Patty dan Ebby memang tidak keluar, mereka males. Enggak ada urusan kepentingan.Tapi buat antisipasi, penampilan mereka sudah siap secara paripurna.
"Enakan disini aja lah," Ebby ngemil kacang mede yang terhidang.
"Mom, jangan kebanyakan, kolesterol naik looh," ledek Patty.
"Ha ha ha, biar lah. Yang penting puas," jawab Ebby sambil terus ngunyah.
"Oh iya kan mereka makan malam pasti kita suruh ikut duduk di meja makan," kata Ebby.
"Semoga aja enggak ikut dipanggil, enakan makan sendiri," jawab Patty.
"Bu Ebby sama bu Patty dipanggil nyonya," seorang asisten rumah tangga menyampaikan panggilan Meylan pada kedua ibu muda itu .
"Sebentar lagi kami kedepan Bik," jawab Patty.
Patty dan Ebby keluar. Senyum manis mereka perlihatkan.
"Perkenalkan ini istri Andre dan ini istrinya Hengky," Meylan memperkenalkan kedua anak gadisnya.
Jefri dan Arthur melihat siapa istri Andre yang sekarang. Mereka pernah melihat saat lamaran Hengky dulu. Saat pernikahan mereka tak datang ke gereja, karena tadinya ingin datang ke gedung resepsi. Tapi ternyata resepsi batal karena ada kasus Carol.
'*Bukankah itu mantan calonnya Aheng? Sekarang menjadi istrinya Andre? Dan kedua perempuan muda itu terlihat sangat akrab*.' begitu pikiran yang ada dalam otak semua keluarga Samudra. Mereka hanya berani melihat nggak berani bicara.
Irene melihat sekeliling. Dulu orang tua Andre adalah orang terkaya di lingkungan tempat tinggal mereka. Tapi sekarang rumah ini sudah 5 kali lipat dari rumah lama mereka saat belum pindah dari sebelah rumahnya Irene.
"Aku yakin kalau ada Yoce pasti istrinya Andre akan dia bully karena masih mau bertahan dengan suami yang mandul tapi kaya dan tua."
"Yoce pasti akan mengejek Ebby karena cinta pada laki-laki tua yang kaya," batin Irene dalam hatinya.
Semua memang melihat istrinya Andre sangat muda seumuran sama menantunya.
'*Apa jangan-jangan menantu dan mertua adalah teman akrab sehingga saat berhubungan mereka mencari yang sahabat atau adik kakak, tapi akhirnya dapat yang ayah anak*,' pikir Irene lagi.
Irene malah sibuk memperhatikan kedua menantu dari Meylan.
"Ayo silakan semuanya," Meylan menawarkan agar semua memulai makan.
Irene dan Paulina memperhatikan saat Aheng memimpin doa sebelum makan.
Paulina juga memperhatikan bagaimana kedua menantu Meylan melayani suaminya masing-masing.
Satu hal yang tak pernah Paulina lakukan, bahkan Irene pun tak pernah memperlakukan suaminya seperti itu.
"Enough Babe, thanks a lot," Andre mengecup jemari istrinya yang dia ambil dan genggam.
"Makasih Yank," kata Aheng pada Patty.
Patty menjawabnya dengan tersenyum manis lalu dia baru mengambil untuk dirinya sendiri.
"Patty, ini bagus loh buat babymu," Ebby menyorong ayam jamur saos tiram request nya pada koki Meylan tadi.
"Iya Mom aku udah ngambil banyak. Aku tahu kalau jamur membuat baby bagus pertumbuhannya karena dia tinggi proteinnya." Balas Patty.
Mereka tadi sepakat untuk menyembunyikan kehamilan Ebby dari keluarga Samudra. Biar aja keluarga Samudra masih mengira Andre belum bisa menghasilkan keturunan.
Arthur dan Pauline sama-sama pekerja keras mereka sama-sama pegawai negeri BUMN yang lurus-lurus aja. Memang mereka bertemu saat kuliah dan kebetulan sama-sama di terima di BUMN yang sama hanya beda divisi.
Walau satu BUMN pasangan ini beda lokasi kantor.
Sementara Lukas adalah mantan seorang pelaut yang sekarang memilih bekerja disebuah maskapai pelayaran luar negeri tapi bukan sebagai pelaut atau pelayar lagi.
Kalau nggak salah sekarang dia di bagian kantor, tapi yang pasti sesekali dia masih suka berlayar, tapi tak lama. Hanya pelayaran pendek yang butuh waktu dua atau tiga hari kadang seminggu.
Kalau Meylan mau julid, dia bisa aja tanya kenapa Yoce nggak ikut. Tapi dia nggak mau bertindak seperti itu. Terlalu kekanakan. Biarin aja itu urusan mereka semua.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING