ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
JATUH TAPI TAK TERPURUK



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Bukankah itu Gunawan Susanto dan Sekar Harum?"  Andre yang sedang mengemudikan mobilnya menuju pulang melihat dari jauh Gunawan dan sopir taksi sedang menurunkan koper di lobby Apartemen Ebby.



Andre sengaja memutar untuk melihat apartemen ini. Kalau tak memutar letak Apartemen Ebby tak terlewati.



Karena apartemennya lebih dulu dicapai daripada apartemen Ebby.



Andre dari arah berlawanan sehingga melihatnya agak jauh. Tapi Andre yakin sosok tadi adalah Gunawan Susanto.


\*\*\*



Alberto Gustav berupaya tegar melihat istrinya sekarang kembali bekerja membuka usaha toko grosir pakaian bayi.



Alberto  ingat lima bulan lalu saat dia terpuruk dan meminta bertemu dengan Gunawan.  Tiga minggu kemudian baru dia bisa bertemu Gunawan karena Gunawan habis pulang dari Paris.



Sesuai ketentuan pada saat pembicaraan harus ada lawyer dari pihaknya mau pun pihak Gunawan.



Penalti proyek yang sedang mereka kerjakan sangat besar. Walau perusahaan dijual, masih belum tertutup. Alberto dan Sasha sudah hitung. Bila semua rumah, mobil, dan kekayaan lain yang dia miliki dijual denda penalty tetap tak akan tertutup.



Bila perusahaan dia oper dan ditambah cari hutangan, baru semua bisa ditutup!



Kalau dia sudah tak punya perusahaan, dari mana dia bisa bayar hutang? Dan siapa yang mau meminjamkan uang dalam jumlah sangat besar tanpa memiliki agunan berupa perusahaan?



Itu sebabnya dia harus bertemu dengan Gunawan. Untuk meminta keringanan.



"Kalian siap ya. Dengar dan catat. Saya tak mau ada pengulangan!"  Ucap Gunawan pada para lawyer.



"Saya ingin jumlah total penalti di bayar cash. Bukan berupa barang. Saya kasih waktu 1 x 24 jam harus sudah saya terima," demikian permintaan Gunawan kala itu.



"Serius saya tak sanggup membayar cash. Terlebih dalam tempo waktu 1 x 24 jam," Alberto langsung menjawab dia tak mampu.  



"Saya akan berupaya membayar semua dalam waktu dua tahun," tawar Alberto.



"Tidak bisa. Saya tak ingin berurusan lebih lama dengan anda. Semakin lama saya melihat anda, maka *urusan personal* menjadi pengganjal." Semua yang hadir tentu tahu apa maksud urusan personal yang Gunawan sebut. 



Apalagi kalau bukan masalah gagalnya pernikahan putri tunggal Gunawan akibat ulah putri sulung Alberto?



Bahkan semua tahu, walau tak berani mengungkapkan, kalau masalah pembatalan kerja sama juga karena hal itu.



"Begini saja. Saya beri satu tawaran. Perusahaan anda sebagai pembayar denda penalti dan kekurangannya dibayar dengan kebebasan putri sulungmu!"



"Kamu tak perlu menjual rumah, mobil atau surat obligasi dan perhiasan anak istrimu buat bayar kekurangan penalti. Cukup dengan kebebasan Carolina Gustav yang saat  sembunyi tanpa kamu ketahui!" Tekan Gunawan.



"Sampai kapan pun dan dimana pun dia berada dia ada di bawah di kendali belati saya," kata Gunawan dengan kejamnya.



"Jadi optionnya hanya satu itu kecuali anda bisa membayar semua cash dalam waktu 1 x 24 jam!"



"Waktu berpikir Anda 1 x 60 menit," Gunawan keluar untuk memberi waktu bagi Alberto berpikir. 




Alberto langsung menghubungi Sasha dia berkonsultasi dulu. 



"Nyawa anak itu dibanding nyawa kita berempat lebih berharga mana Pa?"



"Dia yang bikin kita nggak punya apa-apa. Perusahaan yang Papa bangun dari Nol harus terlepas"



"Bila  kita cari hutangan pun nggak ada yang bisa kasih bila kita tak punya perusahaan. Lalu kita membayar hutang itu dengan apa bila tak ada sumber income?"



"Lepas aja Pa. Mama rela.  Dia yang sudah '*bunuh*' Mama kok. Waktu kita cuma 1x  60 menit. Walau dipikir selama 3 x 24 jam juga jawaban terbaik adalah melepas dirinya."



"Kita sekarang harus pikir Sensya dan Bertha. Mereka tak bersalah harus memikul susah karena ulah Carol. Bukan Mama berat sebelah. Tapi kita harus melihat kenyataan yang ada. Siapa menabur itu yang menuai. Carol yang berulah, biar dia menanggung sedikit akibatnya."



"Kita kan sudah menanggung kehilangan harta dan harga diri? Sensya dan Bertha kehilangan rasa percaya diri karena di bully."



"Yang penting saat ini kita nggak perlu cari hutangan buat bayar semua kerugian kita."



"Kita juga nggak harus pindah rumah dan jual mobil asal kita mau menandatangani bahwa kita menyerahkan kebebasan Carol."



"Serahkan aja karena dia yang berbuat ya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau Papa enggak mau tanda tangan, biar Mama yang tanda tangani!" kata Sasha dengan tegas.



Sasha agak plong karena dia tak harus melihat dua putrinya yang lain terlunta-lunta. Dia masih bisa pikirkan usaha selanjutnya. Sasha akan mengerucutkan hartanya untuk modal usaha.



Akhirnya lusanya resmi sudah Alberto tidak punya perusahaan sama sekali. Pembuatan serah terima perusahaan tentu butuh waktu. Yang penting  anak-anaknya aman tidak tidur di emperan dan tak perlu mengemis sana sini.



Dengan tegar Sasha yang memimpin semuanya setelah Alberto kalah perang tak punya perusahaan.



Sasha menjual rumah besar atau mansion yang mereka tinggali serta dua rumah besar mereka lainnya. Mereka pindah ke rumah kecil milik mereka yang hanya berisi empat kamar tidur saja.



Sasha menjual mobil mewah mereka. Dia hanya menyisakan dua mobil! Satu untuk dirinya dan Alberto dan satunya untuk Sensya dan Bertha.



Sasha  membuka toko grosir pakaian dan perlengkapan bayi di sebuah mall besar. Tokonya tak jual ecer. Mereka tidak kekurangan tapi ya tidak berlebihan seperti dulu.



Setidaknya aman lah buat hidup. Bertha dan Sensya sangat mensyukuri perjuangan sang mama. Mereka bukan anak yang banyak tuntutan. 



Alberto dan Sasha sadar semua itu atas kemurahan hati dari Gunawan Susanto. Makanya mereka sangat menghormati Gunawan Susanto yang baik hati.



Pada Bertha dan Sensya pun Sasha memberitahu soal keringanan yang Gunawan berikan untuk papa mereka.



Andai Gunawan waktu tak mau memberi keringanan san Aleberto mencari hutangan, tetep aja mereka nggak akan bisa nutupin semuanya. Kalau mereka bisa berhutang lalu mereka bayar dari mana?



Benar Gunawan Susanto Dewa penolong buat kehidupan Alberto Gustav saat ini. Karena bisa saja bila tak bisa bayar penalti lalu Gunawan melaporkan ke polisi dan berakibat Alberto masuk penjara?



Alberto dan Sasha tetap penuh cinta pada anak-anaknya. Walau pun memang sejak dulu Alberto keras tapi selalu penuh cinta Sensya  dan Bertha tak pernah kekurangan kasih sayang. Mereka juga tak kekurangan uang walau pun tidak seperti dulu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.