
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Aku nanti pergi sebentar bertemu Dave ya Babe," pamit Andre pagi ini saat mereka masih bersiap di kamar.
"Sebenarnya aku pengen ikut Ko," rengek Ebby.
"Enggak usah kamu sini aja. Aku pergi sebentar kok. Mau ketemu Dave untuk meng clear kan persoalan aja. Masa sih kamu nggak percaya sama aku?"
"Sudah berapa kali aku bilang tubuh dan pikiran ini cuma punya kamu. Enggak mungkin aku berpaling," kata Andre dia tahu Ebby sangat takut dia bertemu Claire.
"Kamu tahu kan dulu pernah ada Maura tapi dia tidak pernah memiliki hatiku seperti kamu. Please percayain aku. Aku nggak akan mungkin berpaling."
"Aku bertemu sama Dave dan aku pasti akan pergi diawasi oleh pengawal papamu selain dengan pengawal pribadiku sendiri," Andre pun mencium Ebby sebelum mereka keluar ke ruang makan.
"Kok aku takut ya Koko pergi sendiri," ucap Ebby lagi.
"Aku kan nggak sendiri. Dari tadi aku sudah bilang aku dijaga pengawalku yang bertugas menemaniku. Juga akan ada pengawal ayahmu."
"Aku mengetahui papamu mulai ikut mengawasiku karena kejadian di Australia dengan William.dan Dianne kemarin sudah memperlihatkan ayahmu yang bertindak. Orang tuamu pasti tahu kita tinggal di kamar hotel yang sama selama di Australia, dan sekarang di apartemen yang sama karena pengawalnya pasti telah lapor."
"Semalam aku juga langsung minta pengawalan khusus secara resmi untukmu dan Stella karena ada Hendrik yang akan mendekatimu. Kamu bisa dibuat sebagai tamengnya. Kalau selama ini pengawalan sembunyi-sembunyi, maka karena aku minta, maka pengawalan akan sedikit terbuka untukmu."
"Jadi nanti ikuti aja permainannya Hendrik. Jangan memperlihatkan wajah marah mu atau tak sukamu. Perlihatkan wajah polosmu," Andre memberi saran pada calon istrinya.
"Iya Ko," kata Ebby. Layaknya istri yang baik Ebby mempersiapkan kopi dan sarapan Andre.
Untung semalam dia sudah membeli roti dan aneka isinya. Ebby tahu untuk sarapan pagi Andre tak suka selai manis. Sehingga Ebby menyiapkan selai kacang dan keju untuk sarapannya Andre. Juga kopi yang biasa dihidangkan.
\*\*\*
Tapi dengan Andre Dia sangat berbeda. Ebby takut kehilangan Andre.
"Kamu juga hati-hati ya hari ini. Aku nggak mau kamu celaka lagi."
Andre \*\*\*\*\*\*\* bibir Ebby.
"Sudah, nanti keterusan nggak jadi berangkat," Ebby mendorong tubuh Andre.
"Habis kamu tu nggemesin bikin aku nggak sabar menunggu sampai kita sah," ucap Andre.
"Enggak sabar tapi terus aja bikin kalang kabut setiap saat."
"Ya siapa tahu kamu kasih kesempatan aku menembus pintu yang kamu gembok rapat."
"Kalau aku sudah berikan padamu saat ini apa yang istimewa di malam pertama kita nanti? Begitu saja tiap malam kita sudah mendapat kepuasan kok." Ebby mencium Andre sekilas. Dia sekarang merasakan cinta mati pada seorang lelaki.
"Iya Babe, aku sabar menunggu hingga nanti," kata Andre. Prinsip yang Ebby pegang teguh membuat dia makin cinta pada perempuan yang masih punya prinsip walau selama ini sudah dia obrak-abrik prinsip itu.
Saat baru saja Andre akan keluar terdengar ponsel Ebby berbunyi.
"Honey, Hendrik menghubungiku," bisik Ebby.
"Tak perlu berbisik. Wong telepon belum kamu terima," jawab Andre.
"Angkat dan speakeri saja. Aku akan menuliskan apa yang perlu kamu katakan padanya," Andre berlari mengambil kertas dan spidol agar bisa mengarahkan Ebby menjawab perkataan Hendrik.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING