
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kamu sudah bilang Ebby?" Tanya Andre saat mereka menuju mobil masing-masing.
"Belum lah. Siang ini aku janji makan siang dengan Ebby. Kenapa Dadd?"
"Kalau kamu sudah bilang ke dia, Daddy akan minta dia jadi pendamping Daddy," balas Andre.
"Tapi kamu jangan bilang kedia niat Daddy ini. Nanti biar Daddy bicara sendiri," kata Andre lagi.
"Oke, aku tak akan mengatakan apa pun masalah permintaan Daddy padanya nanti. Aku hanya minta dia datang di hari bahagiaku." Hengky yakin Ebby akan datang sesuai janji mereka.
\*\*\*
"Kamu serius Heng?"
"Seriuslah. Aku di tantang gitu sama orang tuanya pada saat datang pertama. Ya udah aku langsung bilang dua minggu lagi aku ngelamar."
"Kamu gila ya?"
"Ya nggak gila juga lah aku udah capek ya kalau harus pacaran, pendekatan dan segala macamnya. Aku udah tahu dia orang baik, udah gitu aja sih. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Toch aku juga sudah menyatakan cintaku waktu di Bunaken."
"Aku senang, aku senang banget Heng," ucap Ebby.
"Tapi Opa bilang lamaran kami sepuluh hari lagi biar jatuh hari Sabtu, kalau dua minggu lagi nanti hari kerja repot."
"Sip lah. Aku mendoakan kamu sukses."
"Iya aku senang. Aku harap kamu juga cepat nikah."
"Aku juga berharap begitu ada sedikit kendala."
"Kenapa? Kendalanya apa? Aku bisa bantu kamu."
"Enggak sih nanti aku bicarakan dulu dengan orangnya." Tolak Ebby.
"Aku pasti datang pada saat kamu pemberkatan di gereja maupun resepsi," lanjut Ebby.
"Apa aku jadi bridesmaidnya Patty?"
"Jangan aku nggak mau kamu jadi bridesmaid. Aku mau kamu jadi orang spesial di hari pernikahanku," pinta Hengky.
"Tenang aku akan datang. Aku pastikan aku datang," kata Ebby tanpa ragu.
Lalu Hengky dan Ebby melanjutkan makan siang mereka. Tak ada hal penting lain lagi yang mereka bicarakan.
"Kamu akan ambil gereja mana?"
"Mungkin yang dekat dengan rumah Patty aja."
"Enggak pakai gereja yang pernah aku pilih dulu?"
"Buatmu gereja itu tak menyisakan kisah kelam. Tapi buatku disana ada cerita horor yang tak ingin aku lihat kembali. Aku takut kesana lagi," dengan jujur Hengky bercerita soal traumanya dengan gereja klasik yang jadi pilihan Ebby dulu.
"Kalau aku menikah disana, apa kamu akan datang?" Tanya Ebby.
"Aku upayakan datang. Karena saat pernikahanmu itu aku jadi tamu, bukan pelaku. Aku yakin bisa hadir," jawab Hengky memastikan.
"Baik, jadi enggak masalah ya kalau aku menikah disana?" Tanya Ebby.
"Enggak. Enggak apa- apa kalau kamu menikah disana."
"Lalu gedung?"
"Oma sudah bilang, Oma enggak bisa bergerak. Jadi minta keluarga Patty yang urus gedung dan catering. Kami tinggal bayar saja."
"Dan aku yakin alasan Oma bukan cuma itu, dia belum bisa nerima Patty sebagai ganti dirimu."
"Wah jangan gitu lah. Kami sosok yang berbeda. Enggak bisa dibandingkan," Ebby jadi tak enak kalau oma Meylan jadi tak menyukai Patty karena dirinya.
'*Mungkin aku harus bicara dengan oma untuk belajar menerima kenyataan kalau aku dan Hengky tak berjodoh*.' Ebby bertekad ingin bicara empat mata dengan Meylan.
Selesai makan siang Ebby tak kembali ke kantornya. Dia harus bicara dengan seseorang. Ada hal penting yang tak bisa ditunda!
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY