ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
KERE SELEPAS BERCERAI



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




'*Aku mau ketemu makan siang*,' pesan yang Patricia baca. 



'*Aku lagi di proyek. Kalau mau kesini silakan*.' Patricia lalu kembali bekerja memperbaiki denah sesuai dengan perhitungan yang ada.



Hengky tak menjawab, dia langsung membawa mobil lapangan ke proyek. 



Hengky dan Patricia membahas materi tata letak yang sudah di revisi oleh Patricia. Saat itu juga ada pak Bedu, manager pengadaan barang pengganti pak Victor.



Dengan pak Bedu, Hengky dan Patricia membahas perubahan jumlah bahan disesuaikan dengan perbedaaan jumlah unit yang akan dibangun.



"Jadi makan siang bareng?" Tanya Patricia.



"Ayok," Hengky tak menolak.



"Aku makan di warung dekat sini. Mungkin kamu enggak biasa," Patricia memberitahu kebiasaannya makan siang di proyek.



"Apa saat lapar kita mengedepankan gengsi?" Balas Hengky. Hengky tahu buat orang lapangan buah dan daun di hutan bisa jadi santapan mereka tanpa perlu gengsi.



Patricia yang biasa makan dengan pak Bedu dan teamnya mengajak Hengky ke warung tempat para kuli makan siang dan malam.



Warung memang buka hanya meladeni makan siang dan malam saja. Warung buka jam sebelas siang hingga jam delapan malam. Tidak 24 jam dan tidak melayani sarapan. 



Patricia santai menyendok nasi dan lauk yang dia inginkan. Lalu mereka terus berjalan menuju meja kasir. Di warung ini semua memang mengambil sendiri dan sebelum makan langsung bayar. 



Di warung ini tak bisa ngutang sehingga pemilik warung aman. Karena dia juga pengusaha pas-as an. Bila yang makan ngutang maka dia tak bisa belanja untuk modal belanja esok hari.



"Kalau Irene tak mau nih makan di warung ini," celetuk pak Bedu.



Patricia tak peduli makan di warung yang biasa para kuli datangi, yang penting bersih dan sehat.



Irene sok borjuis. Dia berasal dari lingkungan kumuh tapi seakan tak pernah tahu lingkungan kumuh. Sangat berbeda dengan Patricia dan Hengky yang sama-sama anak orang kaya. Walau kekayaan orang tua Patricia hanya kelas menengah saja.


\*\*\*



Selepas dari istrinya, Victor bukan apa-apa. Memang awalnya dia manager. Tapi gajinya habis untuk membayar semua pengobatan papi dan maminya. Papinya kena sakit jantung dengan obat rutin yang mahal, maminya kena stroke ringan.



Istri Victor mempekerjakan satu orang perawat untuk mengawasi kedua mertuanya. Pembantu rumah tangga ada untuk mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu.




Tiga pegawai itu sudah sangat irit. Satu pembantu rumah tangga, satu pengasuh untuk dua anak dan satu sopir untuk antar jemput anak-anak.



Selepas bercerai tentu saja mantan istri Victor lepas tangan dengan urusan mantan mertuanya. Semua jadi kewajiban Victor padahal dia sekarang bukan manager! Gaji pokok yang dia dapat sangat minim. Untuk hidup dirinya dengan kondisi pas-pasan saja sudah mepet. Dia tak mampu menyokong biaya pengobatan kedua orang tuanya lagi. Apalagi membayar perawat.



Sekarang Victor tinggal di rumah petakan berdua dengan Irene, karena dia juga tak mungkin mengcover biaya kost Irene di kos-kosan mewah.



Victor tak bisa tinggal dengan kedua orang tuanya karena sangat jauh dari kantor. Sedang dia sekarang tak ada kendaraan apa pun. Motor butut pun tak punya!



Gajinya yang mepet harus dipotong membayar kartu kreditnya yang selama ini dia gunakan untuk memenuhi keinginan belanja Irene.



"Cape nih," keluh Irene saat baru selesai menyapu rumah petak mereka, saat melihat Victor datang membawa tiga bungkus nasi uduk untuk sarapan mereka berdua.



Victor tak menanggapi teman kumpul kebonya itu. Dia membuka bungkusan nasi uduk laku bersiap makan.



"Enggak bisa ya beli nasi rendang atau setidaknya pakai ceplok telor keq. Masa makan cuma nasi doang ama kerupuk!" Protes Irene.



Irene lupa dia dulu super susah. Kost di gang kecil becek dengan kamar mandi di luar. Bahkan di kamar kost tanpa barang hanya ada tikar saja dengan dua buah kardus berisi pakaian miliknya.



Begitu hidup jadi peliharaannya Victor, Irene lupa asal usul. Seakan dia terlahir sudah dari orang tua kaya dan tak pernah kekurangan.



Irene maunya hidup dengan segala kemewahan Victor yang selama sembilan bulan dia nikmati sebelum enam bulan dia resmi diangkat Victor jadi asistennya. 



Sebelumnya dia sudah berhubungan dengan Victor tapi kan tak bisa pergi kemana-mana bersama. Tidak seperti saat menjadi staf khusus.



"Jangan banyak mengeluh. Ingat kamu berasal dari mana. Istriku saja yang memang lahir dari orang tua kaya tak pernah mengeluh sejak aku masih merangkak dengan gaji kecil," Victor lelah mendengar keluhan Irene.



"Ya udah sana kamu balik ke istrimu itu!" Teriak Irene.



"Eh kenapa aku yang harus keluar dari rumah ini? Silakan kamu keluar dari sini bila tak mau menerima semua yang bisa aku sediakan. Gajimu saja tak pernah cukup untuk beli alat make up mu. Apalagi buat makan dan bayar kost," tantang Victor.



Tentu saja Irene nggak berani. Karena walau sekarang Victor hanya tinggal kontrakan petak, kondisi di situ gratis daripada dia harus membayar sendiri  kamar kumuh.



Kalau kontrakan petak, kan masih bisa gerak karena terdiri dari tiga ruang plus kamar mandi.  Kamar kos yang dia sanggup bayar sempit cuma satu ruang tanpa kamar mandi.



Irene tentu tak mau kembali kesana. Dan akan susah makan pula karena gajinya hanya sedikit tersisa bila dia bayar kamar sendiri.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.