
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Orang tuanya Carol, Alberto dan Sasha tak bisa berkomentar lagi mereka telah menjual kebebasan dari Carol.
Itu akibat yang dibuat oleh Carol sendiri, seperti apa pun tak bisa mereka angkat.
Kalau saat itu Alberto tak melepas Carol, yang akan kena adalah mereka berempat. Maka sekarang Sasha nggak bisa berbuat apa pun.
Melihat kondisi di foto, mereka juga sudah tau bahwa Carol sekarang terlihat sangat kurus.
Alberto dan Sasha juga bisa menduga Carol menjual diri demi kebutuhan. Bukan kebutuhan hidup untuk makan tapi untuk mendapatkan suplai obat.
\*\*\*
"Masih lama pulangnya Dadd?" tanya Hengky di telepon.
"Kenapa?" Andre balik bertanya.
"Aku mau cerita aja sama Daddy."
"Ada apa?" kata Andre penasaran.
"Kayaknya Gunawan langsung *berkarya* lagi Dadd," Hengky mulai akan bercerita.
"Maksudmu?"
"Pagi tadi dunia maya heboh foto-foto Carol jual diri terpampang di semua media sosial. Ekspresinya sepertinya pecandu sehingga dia butuh obat. Karena butuh obat dia jual diri."
"Ya ampun segitunya?" Andre tak percaya Carol akan senista itu.
"Kalau yang aku lihat seperti itu sih kemungkinannya."
"Itulah kalau menjadi lawan sosok seperti Gunawan. Padahal dia kalau kita baikin dia lebih baik lagi. Tetapi begitu dijahatin ya udah enggak bisa diprediksi balasannya."
"Di dunia usaha dia udah terkenal seperti itu."
"Aku juga tadi bilang begitu sama temen aku Dadd, Gunawan begitu dicubit bales nikam. Tapi bila kita elus ya dia malah memeluk kita," ujar Hengky.
"Bener banget, dia memang seperti itu."
"Jadi Daddy kapan pulang?"
"Mungkin besok," Andre berkeputusan meninggalkan Berlin lebih dulu dari Ebby. Andre memutuskan tidak akan membuntuti atau mengejar Ebby lagi. Rasanya dia MALAS.
\*\*\*
Malam ini Andre makan malam dengan Stella dan Ruddy. Karena Andre bilang dia akan pulang ke Indonesia besok pagi.
"Kamu balik ke hotel naik apa?" tanya Ruddy.
"Naik taksi lah," ujar Andre menjawab pertanyaan Ruddy.
"Kita naik taksi bareng aja."
"Kita kan satu jalan, nanti taksi lewatin hotelmu baru lanjut ke hotel kami," usul Ruddy.
"Ya sudah kalau kalian memang mau seperti itu. Kalian sendiri kapan akan pulang ke Paris?"
"Kamu sudah beli tiket?" Tanya Stella.
"Sudahlah," Andre memang telah membeli tiket sejak kemarin.
Mereka pun naik taksi bersama.
"Ada apa itu? Sepertinya taksi di depan celaka. Ada mobil didepan taksi yang menghalangi taksi itu." Stella bicara soal taksi yang berhenti di depan jalan yang akan mereka lalui.
"Iya Pak sepertinya taksi di depan dicegat mobil dan terjadi perkelahian." Sopir taksi menjawab apa yang Stella katakan.
"Lalu kita harus bagaimana?" kata Ruddy.
"Saya sudah mengirim pesan ke kantor taksi Pak."
"Kita lihat dulu aja apa yang terjadi. Kita harus berhenti, kali aja ada yang luka dan butuh bantuan kita," kata Stella.
"Ibu nggak apa apa kalau kita berhenti?" Sopir taksi bertanya. Dia harus minta persetujuan penumpang terlebih dahulu.
"Enggak apa apa kita harus nolong," sahut Ruddy.
"Oke," sopir taksi pun mulai menepikan kendaraannya.
"Andre nggak apa apa ya kamu jadi telat sampai hotel," ucap Stella.
"Enggak apa apa," Andre tak keberatan karena dia baru akan pulang esok pagi. Malam ini tak ada yang dia akan lakukan.
Memang jalan itu cukup sunyi dan saat itu mulai turun salju jadi sudah jarang orang lewat.
Ruddy dan Stella yang turun lebih dahulu melihat ada seorang tergeletak di tepi jalan.
"Dave!" Teriak Stella melihat sosok yang pingsan dalam kondisi babak belur.
"Eh eh," terdengar suara lemah. Andre mencari sumber suara, ternyata dibalik pintu taksi yang terbuka ada sosok wanita yang sepertinya hendak masuk taksi tapi sudah tak kuat, banyak darah berceceran. Wanita itu tertelungkup di bawah jok taksi.
"Nona, Ibu eh Ebby!!!!" Pekik Andre saat membalik tubuh perempuan yang hendak dia tolong.
Stella menghampiri. Dia melihat Andre yang membopong Ebby yang sudah berlumuran darah.
Ternyata taksi itu adalah mobil yang ditumpangi Dave dan Ebby.
"Pak kita langsung ke rumah sakit aja nggak usah nunggu ambulans," ucap Ruddy.
"Tapi ini sempit," sopir taksi bingung karena pasti tak nyaman bila sesak dibelakang.
"Enggak apa apa sempit yang penting kita bawa dulu. Ini darurat." Ujar Andre yang tidak sabar.
"Rudd, ambilkan tas Ebby ditaksi depan. Identitas Ebby ada disana. Nanti sulit bila daftar rumah sakit," Andre meminta Ruddy mengambil tas Ebby. Sepertinya sebelum pingsan Ebby akan ambil ponsel di tas nya untuk menghubungi seseorang.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.
