
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Setelah selesai makan malam, mereka semua kembali berkumpul di ruang depan dan memulai pembicaraan serius.
"Atas nama pribadi saya minta maaf untukmu dan ibumu," kata Jeffry datar. Tidak tersendat atau penuh perasaan. Ucapannya seperti seorang yang baca teks proklamasi tanpa penjiwaan.
Dari keluarga Nugroho merasa apa yang diucapkan hanya sekedar lips service saja. Tidak dari hati. Hanya sekedar kewajiban minta maaf. Tidak dari hati sama sekali.
Tentu saja itu membuat kubu Nugroho yang kali ini dikepalai Hengky merasa tersinggung.
\*\*\*
Tentu saja Ebby dan Patty tidak mau ikut kedepan. Mereka kembali ke ruang keluarga di bagian tengah rumah besar itu.
Kedua ibu muda ini lebih senang ngerumpi sambil makan kacang mede lagi.
"Mommy dibilang jangan banyak-banyak. Nanti pusing Mom," kembali Patty mengingatkan ibu mertuanya.
"Yang penting suka, udah nikmatin aja," kata Ebby sambil terus ngemil kacang mede.
\*\*\*
"Saya tidak mau berpanjang kata. Saya maafkan atau tidak itu tidak akan membuat Maura anak atau adik kalian hidup kembali kan?" Aheng berkata tegas sambil menatap lekat mata Jeffry, Irene dan Lucas serta Arthur.
Tak ada gentar dalam tatap mata calon bapak itu.
"Keluarga Samudra menuduh saya penyebab kematian Maura. Apa kalian tahu penyebab saya berada dalam rahim Maura adalah dia? Jadi sebenarnya pembunuh Maura bukan saya, tapi penyebab saya tidur di rahim itu. Yaitu Jeffry Samudra."
"Tuduhan itu ada pada anda! Tapi anda menghakimi saya adalah penyebab kematian Maura. Itu menandakan anda semua nggak punya otak."
"Dan anda semua keluarga Samudra. Mungkin betul anda semua nggak tahu saya adalah darahnya Jeffry, saya terima itu. Tapi anda semua tahu saya darahnya Maura adik atau anak kalian."
"Sejak saya ditinggal Maura ketika kecil dulu, apa pernah kalian memberi satu bungkus permen untuk menghibur anak kecil itu?"
"Apa pernah kalian menghapus darah luka dilutut saya ketika saya terjatuh dari sepeda?"
"Tak ada yang anda lakukan, karena buat kalian semua saya bukan Samudra. Saya bukan darah daging Maura."
"Saya pribadi tidak akan pernah memaafkan kalian semua. Tak akan pernah."
"Saya tetap Nugroho walau nama itu tak akan saya bisa gunakan untuk semua anak-anak saya."
"Tapi saya tidak butuh pengakuan dari anda keluarga Samudra."
"Saya tidak butuh harta anda karena semua harta Nugroho itu adalah pemilik saya walau saya tidak minta. Walau daddy dan opa sudah saya tahu bahwa saya bukan Nugroho mereka tak mengambil harta itu satu rupiah pun."
Keluarga Samudra hanya bisa diam mendengar kata-kata pedas dari Aheng yang sudah sangat terluka.
"Mungkin kalau Maura menikah dengan selain keluarga Nugroho nasib saya tidak akan seperti ini."
"Misal Maura menikah dengan keluarga X, begitu mereka mengetahui saya bukan darah X, bisa jadi keluarga X akan menghujat saya dan mengambil kembali semua harta saya."
"Saya beruntung berada di tengah-tengah keluarga Nugroho yang tetap mencintai saya apa adanya. Sampai saat ini buat mereka saya bukan Samudra karena sejak dulu Samudra memang sudah tenggelam."
"Jadi sekali lagi saya tidak pernah memaafkan keluarga Samudra. Satu titik pun tidak akan pernah!"
Herman hanya mengedikan bahu. Arthur dan Lucas terdiam. Memang mereka salah karena ikut menjauh dari Aheng keponakan kandung mereka. Dan sekarang mereka tahu bahwa Aheng adalah adik kandung mereka.
Lucas dan Arthur sadar kesalahan itu tak bisa ditebus karena waktu sudah menggulung semuanya.
"Baik. Terima kasih atas waktu dan jamuan yang diberikan. Kami tahu semua kesalahan memang sulit ditebus dengan kata maaf. Dan kami tak punya harta sebesar yang diberikan oleh keluarga Nugroho untukmu Heng."
"Tapi buatku pribadi kamu tetap keponakan manisku," ucap Artur dengan bijaksana. Ada nada tulus dalam kata-katanya.
"Keponakan anda saat masih ada Maura. Setelah Maura meninggal apa kalian mau menatapku? Bahkan bertemu di sekolah saat kalian ambil raport saja kalian tak mau menoleh apa lagi menyapa."
"Basi. Jadi saya rasa cukup sampai sini perbincangan kita. Saya yakin anda semua tahu dimana pintu keluar." Aheng berdiri lalu meninggalkan ruangan itu.
Pengusiran yang pedazzz.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR