
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ya ampun Pa, ada bubur ini di Berlin. Ajaib! Benar-benar kejutan banget," kata Sekar.
"Iya makanya tadi Papa juga bilang sama Andre, seperti mendapat segenggam berlian. Pokoknya makanannya bener-bener TOP."
"Gantungan *pork char siu*, juga gantungan kalkun atau bebek peking merah berjejer Ma. Dan yang antri sarapan enggak kira-kira." Gunawan menceritakan situasi di rumah makan itu.
Ebby hanya melihat dengan mata terbelalak makanan yang papanya beli. Jenis dan jumlah cukup banyak. Karena mereka memang tukang makan. Enggak aneh kalau buat keluarga Gunawan dan Andre.
Stella Dave dan Ruddy sudah siap akan dikirim sarapan saat mereka vertiga masuk ke ruang Ebby.
Dave sejak kemarin sudah boleh turun ranjang dan berjalan. Karena memang ternyata otaknya eggak bermasalah. Hanya obatnya yang harus dia tuntaskan sampai besok pagi.
Ebby obatnya harus dituntaskan hingga maalm ini saja.
"Ayo makan," Andre membuka satu mangkok bubur dan dia suapkan perlahan ada Ebby.
"Stella ayo makan. Dave makan bubur selagi hangat," Sekar membuka mangkok bubur miliknya sambil memerintah orang lain untuk makan.
"Top ini buburnya," kata Gunawan yang telah selesai makan bubur pedas miliknya.
"Aku juga suka banget Pa," ucap Ebby yang disuapi Andre.
"Bener By. Kamu suka Stell?" Tanya Sekar.
"Iya Tante enak sekali," kata Dave.
"Kalau kemarin Andre nggak keluar cari pesanan mamanya kita nggak ketemu rumah makan ini," kata Ruddy yang baru mengerti ternyata rumah makan itu favorite anggota keluarga Ebby karena mereka orang Indonesia keturunan China.
Tangan kanan Ebby masih diinfus kemarin waktu mau pasang infus vena kiri tak teraba sehingga di pasang sebelah kanan. Itu sebabnya Ebby butuh bantuan saat mau makan karena kalau tangan yang diinfus banyak gerak takut mengganggu.
Sebenarnya tadi Stella mau nyuapin tapi melihat Andre sudah bersiap nyiapin ya dia nggak enak jadi dia biarkan saja Andre yang nyuapin.
Penambahan darah atau transfusi sudah berhenti sejak semalam sudah nggak ada darah lagi yang dimasukkan ke Ebby. Sekarang tinggal infus yang akan berakhir nanti malam.
Makanya kan Dokter bilang obat akan diselesaikan sampai malam ini.
Beda dengan Dave, infusnya sudah lepas kemarin sejak boleh turun dari bednya. Hanya obatnya yang masih sangat banyak sama suntik rutinnya. Karena itu dia baru boleh pulang besok setelah dapat suntik sampai besok pagi.
"Ini ada sambelnya lho ini atau saus sambel juga ada" kata Sekar.
"Enggak lah kami nggak suka pedas," kata Ruddy.
"Emang lidah kalian beda ya. Kalau kami suka pedas," kata Sekar.
"Nanti makan siang kalian juga nggak usah beli. Kita panasin aja. Tadi Om sudah beli banyak nasi dan lauknya untuk siang dan malam," kata Gunawan.
"Iya kah?" tanya Stella.
"Iya kami tadi beli sekalian biar nggak dua kali pulang pergi. Kita tinggal panasin aja sebentar di homestay," Gunawan memberitahu dia sudah beli makanan.
"Enggak dipanasain juga enggak masalah koq. Itu kan bukan bubur, sop atau kuah bakso yang harus panas," ucap Sekar.
"By, Mama sama Papa mau pergi sebentar ya," kata Sekar.
"Ke mana Ma?" Ebby tentu bertanya karena papa dan mamanya hendak keluar.
"Papa ada perlu," jawab Gunawan.
"Eh sebenarnya aku sama Andre aja Ma. Mama di sini sama Ebby," kata Gunawan.
"Mama pengen sekalian belanja Pa," kata Sekar.
"Oh kalau mama pengen belanja ya beda. Ya sudah biar Andre yang di sini sama Ruddy."
Setelah semuanya selesai makan baru Andre makan.
"Kamu jadi makan paling belakang Ndre," Sekar tak enak hati.
"Terima kasih Ma," ucap Ebby.
"Tumben," sindir Sekar.
"Ih Mama nyebelin. Aku bilang terima kasih malah dibilang tumben," protes Ebby.
"Kenyataan, kan kamu tumben manis-manis begitu," ledek Sekar.
Andre hanya tersenyum dia menuang sambal banyak-banyak ke buburnya.
"Makan nggak pedes nggak enak ya Ndre," tukas Sekar.
"Iyalah, paling sedih itu kalau sakit yang nggak boleh makan pedes. Haduh tersiksa," kata Andre.
"Enak Ndre pakai sambel begitu banyak?" Ruddy melihat apa yang Andre makan. Kalau Stella sudah biasa melihat Andre makan. Terlebih bila Andre makan di resto Padang saat mereka kuliah bersama.
"Enaklah," kata Andre pada Ruddy yang tadi bertanya.
Stella tadi sudah ngasih kopi buat semua.
"Ndre kita ngopi di depan sebentar berdua," kata Gunawan memberi kode bahwa dia hanya ingin bicara dengan Andre tidak dengan yang lain.
"Saya kembali ke kamar saya aja ya," kata Dave. Dia sudah mulai ngantuk. Pagi habis disuntik dia langsung tidur.
"Memang kamu sudah ngantuk ya?" kata Ruddy.
"Iya, aku sudah tak kuat," Ruddy lalu memapah Dave yang masih agak lemah tapi memang sudah bisa jalan.
"Aku harus disuntik sampai besok pagi," makanya kita nggak bisa langsung pulang ke Paris besok siang." Ujar Dava sambil mereka berjalan ke ruang samping.
"Yang penting kita bisa keluar dari rumah sakit. Kita bisa satu dua hari di homestay nggak apa-apa," kata Ruddy.
"Iya," lalu mereka berjalan ke luar ruangan Ebby.
"Kenapa Ko?" tanya Andre.
"Aku mau urus Rudolf."
"Dia ada dimana?" Bisik Andre
"Sudah ada di markas kita di Jakarta. Aku pengen gebrak yang di sini makanya tadi aku mau keluar sama kamu. Tapi Sekar mau belanja gimana dong? Susah juga kalau Sekar mau belanja kan."
"Kalau Cece belanja sama Stella bagaimana? Kita pergi berdua. Ruddy yang jaga atau nemenin Ebi dan Dave."
"Dave dan Ebby bisa kita satukan di kamarnya Ebby. Kan ada bed yang buat nunggu pasien Jadi mereka bisa ngobrol di situ."
"Baiklah itu bisa kita terapkan," Gunawan setuju usulan Andre.
"Tapi Koko yang ngomong ke Ebby. Kalau saya ngomong dia ngamuk."
"Kenapa ya dia sama kamu kayak gitu?" kata Gunawan.
"Saya nggak tahu Ko. Dia lebih banyak ngamuknya ke saya." Kelauh Andre.
"Baik saya yang mau kasih ultimatum dia. Tapi seakan-akan kamu nggak tahu bahwa kita udah atur rencana. Jadi kamu saya tugaskan nanti ya."
"Oke Ko siap," ucap Andre.
"Saya bicara dulu dengan Rudi dan Stella."
Mereka pun menyeruput kopinya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yaniktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.
