
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Siang ini Sasha menerima telepon dari kakak tertuanya. "Puas kamu? Itu cara kamu mendidik anakmu? Anak tak berguna!"
"Anakmu seperti sampah. Dia menghancurkan karir papa di usia senjanya. Kamu bisa bayangkan bagaimana nama papa di mata jemaat?"
Kakak nya Sasha memaki adiknya sedemikian rupa karena papa mereka terkena imbas akibat kelakuan Carol.
"Aku atas nama Carol dan atas nama pribadi mohon maaf Kak. Tak pernah aku mengajarkan hal seperti itu pada semua anakku," ungkap Sasha.
"Kata-kata maafmu itu tidak berguna menghapus kotoran di wajah papa dan mama." Sang kakak berkata dengan keras.
"Sebenarnya aku juga terluka Kak. Aku ibunya. Aku juga menanggung malu yang teramat sangat," Sasha menahan isaknya.
"Itu urusanmu. Kamu yang tak bisa mendidik anakmu. Kalau papa atau mama sampai sakit gara-gara kelakuan anakmu, kami akan menjeratnya langsung! Kami akan menggeretnya ke lubang kubur."
"Dan kamu tak perlu datang ke rumah papa untuk minta maaf. Tak ada maaf untuk keluarga sampah sepertimu," kata si kakak, lalu dia menutup pembicaraan dengan mamanya Carol.
Banyak telepon lainnya. Ada yang mengejeknya, ada yang memaki-makinya karena nama mereka sebagai saudara terseret oleh nama buruk Carol.
Sasha berusaha tegar dia harus mengayomi dua anak lainnya yang juga terluka. Dia juga harus menjadi pilar yang kokoh untuk bersandar bagi suaminya yang sedang goyah.
"Kalian siapkan barang berharga ijazah-ijazah dan surat berharga lain misal surat kelahiran, pasport dal lain-lain."
"Kalau kita harus pergi dari rumah ini mendadak, kita sudah ready. Hanya dalam satu ransel saja. Tapi kalian juga bisa prepare pakaian satu koper. Kalau harus atur waktu saat diusir kita malah tidak fokus terhadap semua surat penting." Sasha berpikir hal terburuk.
"Mama tidak menutup kemungkinan rumah ini akan digunakan untuk membayar semua uang pesangon karyawan."
"Ini gara-gara kelakuan kak Carol. Dia membuat luka dan sakit sekarang aku yang dibilang perempuan tak benar," kata Sensya kesal. Bertha juga merasakan hal yang sama. Dia tak mau berkomentar. Hanya melakukan apa yang mamanya suruh.
Sementara Carol sudah tidak punya orang yang bisa dia hubungi. Tak ada teman apalagi saudara. Semua mencibir. Carol tak tahu lagi harus bagaimana. Carol butuh surat-suratnya yang ada di kamarnya.
Semua ada di rumah termasuk perhiasan. Dia harus ambil. Surat-surat yang dia butuhkan untuk cari kerja dan perhiasan akan dia gunakan untuk bertahan hidup. Dia juga harus ambil BPKB mobilnya untuk dia jual.
'*Aku harus bisa masuk rumah untuk mengambil semua itu*,' pikir Carol.
Malam ini Carol mengendap lewat pintu samping. Ini biasa dia lakukan setiap keluar malam. Jadi bukan hal baru buat Carol.
Carol berhasil masuk rumah hingga kamarnya. Dalam senyap dia memasukkan semua surat-surat penting juga perhiasan. Sebagai pemenuh ransel besarnya dia isi beberapa pakaian yang bisa dia ambil sekenanya.
Carol bisa mendapatkan semuanya.
"Siapa?" tanya Sasha saat mendengar derit pintu samping.
Carol membuka pintu samping cepat lalu berlari. Carol sembunyi di balik pohon di luar pagar. Setelah lama baru dia berjalan menjauh dan memesan ojek online untuk kembali ke penginapan.
\*\*\*
Esoknya Carol menjual mobilnya dengan harga di bawah pasaran. Yang penting cepat terjual.
Carol membuka rekening baru. Rekening lamanya diambil semuanya lalu dia pindah ke bank baru. Carol harus menutup akses dari papanya karena
mama dan papanya tahu nomor rekening lamanya.
Carol juga cepat-cepat menjual semua perhiasannya. Carol tak ingin menjual ditempat baru. Mungkin akan ribet. Carol bertekad akan mencari kehidupan baru di luar pulau.
\*\*\*
Hengky sekarang terlihat kurus kucel dan memang tidak berseri lagi.
Hengky bukan pemuda yang mencari pelarian dengan mabuk-mabukan.
Hengky terus berkarya di kantornya dan ikut kegiatan amal di gereja. Sejak kecil omanya menuntun dia selalu berserah pada Tuhan.
Hengky sadar, mau dipaksa seperti apa pun bila Tuhan bilang dia tak berjodoh dengan Ebby, maka tak akan terjadi.
Karena agamanya kuat, dia pun tidak lari ke perempuan nakal tidak dia tetap bekerja dengan baik sesuai dengan kemampuannya yang tidak bisa konsentrasi lagi, tapi setidaknya dia masih berproduksi.
\*\*\*
Hari ini Andre harus pergi ke Paris dia ada pertemuan bisnis di sana. Andre memang punya perusahaan cabang di Paris sejak Hengky kecil.
Jadi perjalanan kali ini adalah hal rutin baginya. Andre bisa tinggal lama di Paris, dua atau tiga bulan. Bahkan pernah hingga enam bulan. Untungnya maminya bisa menangani Hengky kecil ketika itu.
\*\*\*
"Maaf aku belum bisa. Aku akan sulit menerima, jadi kamu nggak usah berharap," kata Ebby pada Albeyn Barnett. ( Albeyn dibaca alben atau albein ya ).
Albeyn adalah mahasiswa tugas belajar S2 dari Indonesia di Paris ini.
Sebenarnya tanpa menjadi sopir taksi pun dia tak kekurangan uang karena tugas belajar kan memang di gaji. Tapi Albeyn tak bisa diam berpangku tangan. Jadi dia nyambi menjadi sopir taksi.
"Tapi aku sangat mencintaimu By," rengek Albeyn.
"Halah nonsen! Tak ada cinta buat aku," kata Ebby. Sudah dua bulan Albeyn mendekati Ebby
\*\*\*
Perkenalan mereka tak sengaja. Waktu itu salju sedang turun dengan sangat lebatnya. Jalan tertutup salju tebal. Ebby tak bisa pulang.
"Kamu mau aku antar? Suamiku sebentar lagi tiba," seorang teman Ebby menawarkan bantuan.
"Enggak usah, aku tunggu disini aja. Sebentar lagi pasti petugas akan membersihkan salju agar semua bisa bergerak kembali," tolak Ebby. Rasanya tak enak merepotkan pasangan suami istri itu. Istrinya sedang hamil. Tentu ingin segera tiba di rumah untuk istirahat.
"Aduuuuh," pekik Ebby saat di hampir terjatuh karena terpeleset. Untung Ebby berhasil memegang kursi sehingga tak jatuh terjerembab.
"Hallo, kamu dari Indonesia?" Tanya seorang pemuda tampan dengan pakaian sederhana tapi Ebby tahu harganya mahal karena dia bergerak dibidang fashion.
"Eh, iya, saya dari Indonesia," sahut Ebby, langsung dengan bahasa Indonesia.
Mereka pun berkenalan sesama perantau sama-sama dari Indonesia.
"Kenapa masih disini?" Tanya Albeyn, demikian nama yang pemuda itu sebut tadi saat berkenalan.
"Mobilku nggak bisa jalan, karena jalan menuju apartemenku belum bisa dilalui," jawab Ebby.
"Taksiku juga nggak bisa lewat," kata si sopir taksi itu.
'*Kayaknya nggak mungkin deh ini orang sopir taksi, pakaiannya terlalu mewah untuk ukuran sopir taksi di sana*.' batin Ebby kala itu.
Mereka pun ngobrol-ngobrol dan akhirnya saling ketemu, sering minum kopi bareng.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.