
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Coba ceritakan padaku bagaimana kau mengambil Rudolf?"
"Aku mendekati Rudolf dengan mengajak teman dekatnya bekerja dalam satu proyek denganku. Mereka sering berbagi peran membiayai proyek. Aku mendekati gadis itu agar tak ada yang tahu niatku mendekati Rudolf," sahut Hendrik.
"Siapa nama gadis itu?
"Febri, gadis asal Indonesia."
"Febri siapa?"
"Entah, sebentar aku ingat-ingat. Dia hanya sekedar pengalihan saja sehingga aku tak peduli siapa namanya. Dia bukan type ku. Ha ha ha, ya tak mungkin lah aku tertarik pada seorang gadis!"
"Febrianti, itu yang aku ingat," ujar Hendrik.
"Sebentar aku cari nama Febrianti dari Indonesia. Apalagi yang kau tahu?"
"Tinggal di Jakarta."
"Wow banyak sekali nama Febrianti Jakarta. Apa kau tahu nama orang tuanya?"
"Aku belum tahu tapi coba kalau Febrianti Gunawan. Karena Rudolf pernah bilang nama itu waktu kami di Sibolga."
"Febri habis menerima telepon dan orang tuanya kirim salam buat Rudolf. Saat itu aku mendengar : *sampaikan salamku pada om Gunawan*."
"Ups, kau benar-benar sial Hendrik."
"Apa maksudmu?" Hendrik penasaran ia melihat layar laptop temannya.
"Namanya bukan Febrianti tapi Febbryanti. Dia anak tunggal Gunawan Susanto. Orang terkaya di Asia tenggara."
"Di depan umum tak ada yang aneh sepak terjang Gunawan. Tapi di dunia bawah tanah tak ada yang tidak tahu siapa Mister ICE."
"Padahal sesungguhnya namanya Mr S, singkatan dari Susanto."
"Pria berdarah dingin. Aku takutnya dia marah karena putrinya kau buat tameng mendekati Rudolf!"
"Usaha yang sudah dihancurkan Mr ICE tak ada yang bisa angkat. Bahkan di jual pun tak ada yang mau beli karena biar sudah pindah tangan, perusahaan itu tak bisa bangkit sama sekali."
\*\*\*
Hendrik pun kembali ke Paris kemarin dia sudah dengar dari Monica bahwa papanya Ebby mencarinya di rumah Monica.
"Bagaimana dengan Rudolf?" tanya Hendrik.
"Kamu pura-pura nanya atau bagaimana? Kamu yang bawa dia kan." Dave geram saat ingat kejadian itu. Bagaimana teman-temannya Hendrik menghajarnya sementara Hendrik sibuk menarik Rudolf.
"Aku tak tahu, dalam perjalanan dia melarikan diri."
"Ya aku nggak tahu sampai sekarang buktinya nggak yang ke sini."
"Aku tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak karena ponselnya tak pernah bisa aku hubungi."
Akhirnya Hendrik pun menuju ke Stella dan Ruddy.
"Kami hanya mengaudit perusahaan-perusahaan saja tidak ada proyek lagi. Proyek kami yang kamu acak-acak gagal." Ruddy menjawab tak ada yang bisa dia bantu untuk menolong Hendrik.
"Bagaimana kalau kita bikin proyek baru?" kata Hendrik.
"Maaf kami tidak punya modal untuk membuat proyek. Biasanya penyandang dananya adalah Ebby dan Rudolf. Sekarang keduanya nggak ada ya siapa yang mau tanggung biayanya?" Ruddy menjelaskan kondisi mereka.
"Apa kamu punya dana?" tanya Ruddy.
"Oh aku nggak punya, uangku sudah habis di proyek-proyek sebelumnya dan belum kembali modal," jawab Hendrik berkilah.
"Belum kembali modal atau tidak akan kembali modal?" tanya Stella sinis.
"Maksudmu?" jawab Hendrik pura-pura tak tahu maksud Stella.
"Aku dengar dari beberapa teman perusahaanmu hancur lebur," ungkap Stella datar.
Rudi tak percaya apa yang dia dengar dari istrinya.
"Dan aku juga dengar dari beberapa teman perusahaanmu gak ada yang mau beli karena takut terkena imbas!"
"Usaha itu tergantung TRUST, kalau kita nggak punya kepercayaan orang kita nggak akan mungkin bisa maju. Bagaimana orang akan percaya kalau kredibilitas kita buruk?" kata Stella.
Stella sudah tahu siapa yang menculik Rudolf dan membuat Dave dan Ebby terluka dari Dave. Sehingga dia langsung antipati sedang Ruddy masih
bisa bermanis muka pada Hendrik.
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang baru aja terbit dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
Atau juga judul lain yang baru terbit dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN