
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Heng, malam ini kita ke rumah kakekmu yuk," ajak Herman.
"Ngapain Opa, tumben ngajak kesana. Mereka dua kali aku kirimi undangan pernikahan saja tak ada respon," Aheng malas bila berhubungan dengan keluarga Jeffry Samudra kakeknya dari pihak Maura.
"Opa sudah lama aja enggak ke sana. Opa ingin tahu bagaimana kesehatannya," kata Herman tanpa ada alasan lainnya.
"Baiklah," jawab Aheng. Dia tak mau opanya pergi sendiri kerumah keluarga mantan besannya itu. Biar dia temani. Tak ada salahnya menemani opanya tercinta.
"Patty mau ikut?" Tanya Herman.
"Enggak Opa, aku dirumah saja dengan Oma. Pulangnya belikan aku sate padang saja. Aku kepengen itu," jawab Patty. Sekarang Patty sudah terbuka pada Herman dan Meylan. Malah lebih nyaman bicara pada Meylan dan Herman daripada dengan papa dan mama kandungnya.
\*\*\*
Sesuai rencana Hengky dan Herman pergi ke rumah orang tua dari Maura yaitu Jeffry Samudra dan Nirina atau yang biasa dipanggil Irene.
"Apa khabar?" tanya Jeffry. Dia sedikit terkejut besannya menghampiri. Sudah sangat lama mereka tak saling kunjung. Dulu rumah mereka berdekatan sebelum Herman pindah ketika Andre menikah.
Herman tak nyaman bersebelahan dengan besan.
"Hah? Aku baik. Aku sehat, punya anak dan cucu yang sehat. Bagaimana dengan kabarmu?" Herman balik bertanya.
"Aku baik, sangat baik," balas Jeffry.
"Baguslah berapa cucumu sekarang?" tanya Herman.
"Masih 7, dua anak lelakiku punya masing-masing tiga anak dan dari Maura 1 toh. Dan aku sudah punya 3 cicit," kata Jeffry bangga.
"Apakah dari Maura itu juga cucumu?" Tanya Herman.
"Ya pastilah," Jeffry menjawab cepat.
"Bukankah kalian tidak menyukai Aheng? Dia kan bukan cucu kalian," tutur Herman. Aheng hanya diam mendengar opa Herman bicara seperti itu pada opa Jeffry.
"Sudahlah. Jangan bahas itu," kata Irene ibunya Maura.
"Sepertinya kamu tambah botak," kata Herman melihat penampilan Jeffry. Dia menuruti permintaan Irene tak membahas masalah Aheng.
"Iya, sekarang sedang lumayan rontok."
"Lihat banyak rambut rontok di kepalamu. Ada apakah dengan kesehatanmu? Apa kau sedang banyak pikiran?" tanya Herman lagi.
"Ah enggak apa apa," jawab Jeffry sambil mengusap kepalanya membuat semakin banyak rambut yang berguguran.
"Coba aku bantu bersihkan rambutmu," ujar Herman sambil memunguti rambut Jeffry di kaos yang digunakan besannya itu.
"Ah nggak usah repot," kilah Jeffry tak enak.
"He he, aku pengen tahu aja rambutmu ini hitam asli atau sudah disemir," goda Herman.
"Ya sudah disemir lah pastinya," balas Jeffry.
Diam-diam Herman mengambil beberapa rambut yang ada di kaosnya Jeffry dan dimasukkan ke tissue yang memang sudah dia siapkan di saku celana kirinya.
\*\*\*
"Loh kirain memang sengaja ke sini," celetuk Irene. Bahkan pembantunya belum mengeluarkan air minum.
"Enggak, kebetulan aku ada perlu sama Andre tadi perlu lewat sini. Pas lihat daerah sini aku kangen lihat bekas rumahku. Ternyata enggak banyak berubah," balas Herman sambil memperhatikan bekas rumah lamanya.
"Iya, tak banyak yang diubah oleh pemilik barunya," jawab Irene.
Kedua kakek neneknya bahkan tak mengajak ngobrol Hengky sama sekali. Tak tanya khabar atau apa pun.
Hengky juga bingung, tadi siang katanya opa Herman mau ke sini. Eh tapi kok sekarang bilang cuma sekedar mampir!
\*\*\*
"Ternyata kamu rambutnya mirip seperti opa Jeffry ya Heng," Herman bicara pada Aheng.
"Masak sih Opa?" Herman yang baru saja melajukan mobilnya menjawab sekenanya.
"Iya," kata Herman. Herman mengusap rambut Hengky dengan tangan kanan, sengaja dia tarik beberapa lembar lalu dia masukkan ke saku kanannya yang juga sudah ada tissue disana.
"Benar, rambutmu mirip dia," kata Herman lagi.
"Jangan lupa kita mampir ke penjual sate Padang. Bisa marah Patty kalau kita tidak beli pesanannya," ucap Herman.
\*\*\*
"Done Ndre!" Herman menelpon Andre saat Aheng sedang turun membeli sate Padang.
"Sudah 2 sampel Papa ambil, besok Papa antar ke lab."
"Tambahkan dengan sampel milik aku ya Pa. Lalu Papa pergi sendiri ke laboratorium yang Papa tuju. Jangan laboratorium tempat aku periksa."
"Biar Papa yang urus sendiri. Biar Papa tahu yang aku lakukan itu betul apa salah." Andre memberi saran.
"Oke itu usul yang bagus," jawab Herman. Dia suka dengan sikap ksatria-nya Andre. Sifat yang menurun dari dia dan Meylan.
Besoknya sebelum ke kantor Herman minta sopir mengantarkan dia ke lab yang dia tuju dia berikan 3 sampel untuk diuji oleh laboratorium itu.
Semalam Andre langsung menyuruh pegawainya mengantar sample miliknya.
Herman hendak mengetes yang mana yang merupakan ayah dari Aheng.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk saya mendapat hasil pemeriksaan?" Tanya Herman
"Tujuh sampai sepuluh hari Pak." Jawab laboran yang langsung ditemui Herman.
"Saya minta maksimal 5 hari," desak Herman dengan cepat.
"Tidak bisa Pak," bantah laboran.
"Tiga hari," desak Herman minta semakin cepat, padahal 5 hari saja laboran belum menyanggupi.
"Baik Pak 5 hari," laboran menyerah.
"Oke saya tunggu. Terima kasih atas kerjasamanya," jawab Herman dengan tegas.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ