
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Pulang kantor aku ke rumahmu ya?"
"Kamu bawa mobil, aku bawa mobil gimana mau bareng?"
"Iya nggak apa-apa barengan, bukan harus satu mobilkan?"
"Eh gimana hasilnya Bunaken?"
"Hengky belum laporan, mungkin hari ini mereka merapikan laporannya lusa baru lapor ke kantor Opa," jawab Andre.
"Kenapa kamu nggak kerja di kantor opa aja?"
"Aku nyaman di sini. Kantor ini dulu aku bikin sendiri gitu. Sama aja sama kamu. Kamu kenapa nggak kerja di kantor papamu?"
"Kamu nyaman kan bergerak sendiri? Tapi nanti harus kamu pegang. Sama kantor mamamu juga nanti harus kamu pegang."
"Enggak tuh."
"Lalu siapa yang pegang kalau bukan kamu?"
"Ya suamiku lah."
"Aku nggak mau," jawab Andre cepat.
"Emang kamu suamiku?" Goda Ebby.
"Jadi bukan aku ya? Ya, ya ya," Andre langsung menampilkan wajah kecewa.
"Iya kamu," ralat Ebby sambil mengusap pipi Andre lembut.
"Aku enggak mau pegang usaha keluarga istriku!"
"Milik keluarga ayahku aja aku kasih Hengky yang pegang."
"Lalu siapa yang akan pegang usaha keluargaku?" Ebby tentu bingung usaha sebesar milik Gunawan dan milik Sekar tak ada yang mau memegang.
"Ya anak-anak kita lah."
"Jadi aku harus cepat punya anak?"
"Iya, untuk pegang usaha mamamu, usaha papamu, usahamu dan usahaku," jelas Andre.
"Baiklah aku akan melahirkan satu lusin anak buat kamu," janji Ebby enteng.
"Bagaimana kalau kita mulai bikin yang pertama sekarang?" Tanya Andre tanpa merasa bersalah.
"Enggak nunggu kita sah?" Tanya Ebby naif.
Andre tak menjawab.
\*\*\*
"Kalian dari mana?" Tanya Sekar kala melihat Ebby datang bersama Andre.
"Dari kantor." Jawab Ebby.
"Aku mandi dulu ya Ma," Ebby pamit. Dia ingin membersihkan diri sebelum makan malam dan Andre bicara pada Gunawan.
\*\*\*
"Jangan ada yang ketinggalan loh kamu kamu tulis listnya semua," Hengky dan Patricia sedang minum coffee sepulang kantor, mereka akan belanja barang buat lamaran.
"Aku juga bingung apa aja Heng. Waktu Ebby dulu kalian belanja apa aja?" Tanya Patty.
"Aku nggak ngerti. Waktu Ebby semua Oma yang urus, kan Oma masih sehat."
"Waktu Ebby aku sama sekali nggak tau, semua Oma yang urus. Kamu tahu kan sekarang kondisi oma seperti apa."
"Coba kamu cek lagi di Google aja, umumnya kalau lamaran yang biasa di bawa apa?"
"Cek juga jasa membuat hantaran lamaran." Pinta Hengky.
Hengky dan Patty harus berdua beli semua kebutuhan untuk karena lamaran mereka yang tinggal satu minggu lagi.
Oma lepas tangan. Lepas tangan bukan karena sakit, tapi karena hatinya yang belum bisa menerima kehadiran Patty sebagai calonnya Hengky.
Kalau oma mau, dia bisa belanja ditemani para pegawainya.
Tapi ya udah, mau diapain lagi? Hengky harus pasrah menerima kenyataan ini. Karena perasaan tak bisa dipaksain kalau oma nggak sreg sama Patty.
\*\*\*
"Saya ingin bicara Ko," sehabis makan malam Andre langsung minta waktu pada Gunawan untuk bicara.
"Oke kita ke ruang tengah," jawab Gunawan.
Gunawan sudah bisa meraba apa maksud kedatangan Andre kali ini. Karena lelaki itu tak pernah datang ke rumahnya secara pribadi sendirian!
Andre pernah datang ke rumahnya saat melamar Ebby buat Hengky. Selanjutnya pembicaraan mereka selalu di kantor atau di lokasi lain tapi tak pernah di rumah.
"Gimana nDre?" tanya Gunawan."
"Gini Ko, saya jadi bingung mau panggil apa. Sudahlah kebiasaan dari dulu Koko aja ya."
"Tadi sore saya dan Ebby sepakat, kami mau serius."
"Kalian mau serius kerjasama?" Tanya Gunawan seakan tak mengerti apa yang Andre katakan.
"Ya saya dan Ebby mau serius kerjasama untuk membina rumah tangga." Jawab Andre tanpa terjebak kata-kata Gunawan.
Sekar dan Gunawan berpandangan.
"Kalian bener mau menikah? Mau serius?" Tanya Sekar.
"Ya Ma," jawab Ebby tanpa ragu.
"Kalau kalian memang sudah memutuskan untuk berkomitmen, ya silakan aja jalan. Mama dan Papa nggak akan larang," tanpa mempersulit Sekar langsung memutuskan tanpa perlu berkonsultasi pada suaminya.
"Cuma kamu harus ingat hadangannya sangat besar dan deras!"
"Kamu dulu pernah akan menjadi menantunya Andre. Sekarang kamu akan jadi istri Andre. Sanggup untuk menghadapi terjangan badai itu?" tanya Sekar.
"Sanggup Ma. Aku akan sanggup." Jawab Ebby tanpa ragu.
"Kalau kamu sudah tahu resiko yang akan kamu hadapi, jalankan saja. Kami tidak akan pernah melarang kalau memang itu sudah garis Tuhan."
"Kalian harus ingat apa yang telah disatukan oleh Tuhan tidak pernah boleh dipisahkan oleh manusia. Kalian berdua harus teguh dalam Iman bahwa kalian tidak akan pernah berpisah apa pun alasannya," nasihat Gunawan.
"Kami akan berpisah bila salah satu selingkuh!" kata Andre tegas.
"Saya tidak bisa mentolerir perselingkuhan. Jadi walau pun tidak terpisah secara agama saya tidak akan pernah mau bersatu dengan pasangan yang selingkuh," jawab Andre.
Suatu komitmen yang Andre ucapkan bukan Ebby yang perempuan.
Yang tak mau ada perselingkuhan buka Ebby, tapi malah Andre.
"Walau selingkuh hanya dalam hati, itu tidak baik buat sebuah komitmen." Gunawan dan Sekar sangat kagum terhadap pendirian Andre.
Andre telah membuktikan teguh dalam komitmennya. Walau tak mencintai Maura dan tahun-tahun terakhir Maura sakit Andre tak pernah mendapat hak sebagai suami, dia tak pernah sekali pun ingin berpaling. Baik untuk perasaan, mau pun badan.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY