
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Tiga hari sudah Ebby dan Andre beserta timnya masing-masing bekerja sambil terus berekreasi.
Memang pekerjaan mereka seperti itu, membicarakan konsep tapi selalu di ruang terbuka. Tak terasa sudah tiga hari Lionel, dan Maurits harus kembali ke Aussie karena mereka punya kesibukan lain.
"Aku nggak antar ke bandara ya," kata Andre pada kedua rekannya.
"Ya nggak apa apa, yang penting pembicaraan kita sudah tuntas," jawab Maurits.
"Kalian diantar oleh sopirku saja ya," jelas Andre lagi.
"Oke siap," kata Lionel dan Maurits.
Mereka pun berpisah di depan villa.
"Nanti realisasinya dua bulan lagi baru kita matangkan konsep. Aku akan ke Aussie untuk membahas dengan kalian berenam."
"Oke aku tunggu," kata Maurits.
\*\*\*
"Kayaknya kita besok harus selesai," kata Ruddy.
"Iya kita besok harus sudah selesai, ini tinggal sedikit kan," ucap Stella sambil mengamati kertas-kertas yang berserakan di meja.
"Iya benar kita besok selesai," kata Rudolf.
"Oke jadi lusa kita pulang. Aku langsung dari sini aja kembali ke Paris nggak usah balik ke Jakarta," kata Dave.
"Ya aku juga langsung balik dari sini saja," Stella juga sependapat dengan Dave.
"Oke kalau kalian mau seperti itu biar aku dan Rudolf yang kembali ke Jakarta. kalian nanti diantar pesawatku saja ke Paris." kata Ebby.
Rudolf memang masih tinggal di Jakarta karena masih harus berhubungan dengan Gunawan.
Hubungan Dave dan Rudolf sudah membaik mereka sudah bisa sedikit-sedikit bersikap normal seperti saat awal berteman dulu.
\*\*\*
"Jangan loss kontak ya, terlebih kita akan bikin proyek bareng," Ebby memeluk Rudolf setelah Andre melepaskan pelukan sahabatnya itu.
\*\*\*
"Kita mau kemana Pak?" Tanya sopir pada Andre.
"Mau kemana dulu Babe?" Andre malah melempar pada istrinya. Sekarang dia bukan decision maker kalau soal rumah tangga.
"Mau ke rumah mama Sekar atau mama Meylan?" lanjut Andre lagi.
"Ke apartemen," Ebby malah tak memilih kedua rumah orang tua mereka.
"Kenapa ke apartemen *Babe*? Kamu ingin kita pisah rumah. Mau beli rumah aja?" Andre bertanya penuh kehati-hatian.
"Percuma kita beli rumah. Mau sehebat apa pun rumah kita, kita akan ditarik-tarik mama papa karena kita sama-sama anak tunggal."
"Lebih baik kita pakai aja apartemen yang sekarang kita tinggali."
"Aku tahu kamu mampu beliin rumah yang mahal. Tapi nanti mama dan papa kita akan bilang pakai aja rumah kita yang di sana, disini atau apa lah."
"Buat aku rumah lebih kepada dimana hati kita nyaman. Bukan pada bangunannya." Jawab Ebby bijaksana.
"Aku nyaman bersamamu. Dimana pun ada kamu, itu rumahku." Ebby mengecup dagu Andre sekilas.
"Kamu yang terbaik," Andre memeluk lembut Ebby mendengar kata-kata istrinya itu.
Memang benar. Baik Gunawan mau pun Herman sama-sama punya rumah lebih dari satu. Kalau mereka mau beli rumah pasti akan disuruh pakai rumah mereka saja.
Jadi lebih baik menata hati untuk merasa nyaman dimana pun mereka berada.
Andre dan Ebby tertidur karena kelelahan. Perjalanan dari bandara ke apartemen sama waktu tempuhnya dengan penerbangan Denpasar ke Cengkareng.
Untungnya mereka tak mengabari kedua pasang orang tua mereka kapan mereka kembali ke rumah, sehingga tak ada yang rewel mengapa dari bandara pasangan ini tak datang ke rumah orang tua.
Untuk penggemarnya mas Sonny dan caca Adelia di novel berjudul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
baca sequel tentang Mukti, Vio dan Komang di cerita baru berjudul CINTA TANPA SPASI yaaaaa