ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
DIA SITE MANAGERKU!



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Herman dan Hengky serta pekerja yang akan menangani proyek itu langsung menuju ke lapangan dengan tiga mobil proyek.



Mereka memang menggunakan mobil lapangan yang berbeda dengan mobil untuk digunakan di tengah kota.



Mobil proyek harus siap di lahan keras. Hengky satu mobil bersama opa Herman dan drivernya.



Di lokasi sudah ada kantor berupa bangunan sementara atau BEDENG yang berguna untuk kantor.



Di lokasi juga sedang dibangun gudang untuk alat-alat kerja di lapangan.



Selain itu juga akan dibangun bedeng untuk tidur para pekerja bangunan dan juga dibangun dapur umum untuk para kuli bangunan itu.



"Heng, nanti kamu hitung aja jumlah yang bisa dibangun. Kamu hitung bersama site manager biar lebih klop," kata Opa.



"Biar aku kenalan dulu Opa nanti kita bisa hitung bareng dia biar dia lebih tahu apa yang aku mau,"  kata Hengky. Dia lebih suka menjelaskan langsung pada penanggung jawab area.



"Oke ayo kita turun,"  ajak opa Herman Putra Nugroho saat mereka tiba di lokasi.



Mereka baru sampai di depan bedeng lokasi yang akan mereka buka.



"Tadi Opa sudah bilang kok kalau kita akan datang. Mereka udah nunggu kita,"  kata opa.



"Oke,"  jawab Hengky. Dia pun turun dari mobil.



"Selamat siang pak Herman," sapa seorang lelaki berusia sekitar usia Andre daddy nya Hengky.



Wajahnya bersih dan cukup tampan serta berkharisma.



"Siang Vick, tambah keren aja kamu," goda opa Herman.



"Bapak bisa aja," Victor nama lelaki itu menyalami Herman dengan sopan.



"Hai Pak Victor. Apa khabar?"  kata Hengky.



"Tumben nih bos ikut turun ke lapangan," goda Victor pada Hengky.



"Bos apanya? Yang bos tuh Opa," kata Hengky.



"Maaf Pak,  timnya udah nunggu di dalam mereka sedang meeting kecil jadi tidak menyambut Bapak dan Pak Herman," kata Pak Victor pada Hengky dan Herman.



"Enggak apa-apa kami nggak perlu disambut kok," jawab Herman.



"Selamat siang," kata Herman pada beberapa orang yang ada di meja panjang dalam ruangan itu.



Hengky melihat semuanya termasuk dua orang perempuan yang ada di situ.



'*Kenapa jadi ada dia*?' kata Hengky dalam hatinya.



"Selamat siang Pak Herman,"  jawab beberapa yang sudah kenal.



"Perkenalkan ini Pak Herman pemilik perusahaan," Victor memperkenalkan siapa yang hadir saat itu.



"Dan ini cucunya. Beliau yang merancang semua bangunan di perusahaan kita," kata Victor lagi.



"Yang belum berkenalan silakan kenalan. Nanti biar pak Herman bicara dengan kalian," kata Victor.



Semua tanpa terkecuali berdiri untuk bersalaman dengan Victor walau pun sudah kenal tetep aja namanya yang datang di Bos kan mereka tetap salaman.



Kedua perempuan yang ada di sana itu sama-sama muda. Yang satu bernama Irene dan satu bernama Patricia.



"Hai Pat," sapa Hengky.



"Loh kalian sudah saling kenal?" kata Herman.



"Dia teman SMA aku Opa," kata Hengky jujur.



"Wah semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik karena kebetulan site managernya adalah Patricia," kata Victor senang. 



Victor hafal, Hengky sangat teliti dan tak ada *excuse* bagi kesalahan sekecil apa pun. Itu sebabnya opa Herman tak pernah percaya pada pegawai lain bila ada proyek besar dan sulit.




"Saya Hengky," Hengky memperkenalkan dirinya pada Irene.



"Irene." Mereka pun bersalaman.



"Silakan duduk lagi," Herman mulai bicara.



"Jadi gimana Heng. Yang perlu turun ke liat lokasi cuma kamu dengan Patricia kan? Kalian bisa naik motornya Victor aja. Motor lapangannya Victor ready koq. Yang lain biar di sini aja."



"Enggak apa apa kan kamu naik motor?" Herman bertanya pada cucunya.



"Aku sih nggak apa apa. Masalahnya bawa cewek nih. Naik motor siang-siang tu beda Opa. Perempuan itu takut sama sinar matahari," ledek Hengky.



Hengky memang malas berhubungan dengan kemanjaan perempuan. Ebby orang fashion yang bergerak dengan mode dan kelembutan.  Tapi Ebby tidak kolokan dan sangat mandiri.



"Saya nggak apa apa kok Pak. Saya biasa di lapangan," jawab Patricia dengan pelan seperti biasa.



"Percuma jadi site Manager kalau nggak berani turun di lapangan," kata Victor.



"Bener banget pak Victor. Saya orang lapangan kok. Saya bukan perempuan manja yang cuma bisa dandan. Dan ketika sampai sini udah ngeluh panas karena kantornya bukan gedung bertingkat mewah," jawab Patricia sinis.



Hanya dua orang yang tahu siapa perempuan yang tak bisa kerja di lokasi itu.



Sementara Irene memandang Hengky dengan wajah kagum penuh damba.



"Ha ha ha, aku tahu karakter anak teknik sepertimu. Sejak kuliah kita sudah biasa bertemu debu di lapangan. Ayo Pat, kita naik motor aja pakai helm-mu," kata Hengky saat menerima kunci motor dari Victor.



Hengky dan Patricia pergi berdua.  Patricia membawa buku kecil dan alat tulis. Walau sekarang bisa menulis sesuatu dengan mudah di ponsel, tapi kalau buat corat coret tentu dibutuhkan alat tulis dan buku atau kertas.



"Aku nggak nyangka loh kamu ternyata site Manager yang baru,"  kata Hengky. 



"Saya juga nggak nyangka kok Pak, bahwa Bapak yang jadi pemilik perusahaan tempat saya pindah kerja ini."



"Kita tuh temen. Walau di kantor sekali pun kamu nggak usah panggil aku Bapak," protes Hengky.



"Dan nggak usah pakai saya kamu. Terlalu kaku. Pakai aku kamu atau gue elo aja," jawab Hengky lagi.



"Baik Pak, Eh …," kata Patricia bingung.



"Eh nanti kasih nomormu ya. Biar kita bisa diskusi," kata Hengky.



"Baik Pak, Eh iya Hengky," kata Patricia.



"Kamu tuh kaku amat sih,"  Hengky menghentikan motornya. Mereka langsung diskusi tentang lahan dan type apa serta berapa unit bisa berdiri disana. 



Semua dicatat dengan teliti oleh Patricia.



Cukup lama mereka mengelilingi lapangan menghitung dengan benar dan memetakan lokasi sesuai dengan kondisi lahan yang ada. Mereka juga menghitung jumlah bangunan yang bisa dibuat dan yang lainnya.



"Kamu miscall aku dulu dong minta Hengky sambil memperlihatkan nomor ponselnya pada Patricia.



Patricia pun miscall ke nomor itu sesuai permintaan Hengky.



"Ayo kita balik ke posko," kata Hengky.


\*\*\*



"Gimana Heng?" kata opa Herman.



"Sudah Opa. Sudah kita rinci. Lusa aku kasih rinciannya ke Opa," kata Hengky.



"Mungkin besok aku diskusiin sama Patricia dulu," kata Hengky lagi.



"Pat bisa ya kirim nanti malam via email-ku," pinta Hengky.



"Ya Pak. Kirim aja  nama email Bapak. Saya akan coba bikin coret-coretannya hari ini." Jawab Patricia dengan meyakinkan.



"Oke aku tunggu. Jadi besok kita bisa diskusiin, lalu lusa saya bisa masukin ke Opa," begitu memang cara kerja Hengky. Selalu minta ceapt tapi akurat.



"Siap Pak," kata Patricia. Paling tidak di depan semua orang dia tetap memanggil Bapak tidak mau memanggil Hengky.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.