
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Hallo Rudd, hallo Stella," sapa Ebby ramah.
"Kalian sudah makan?" Sekar menyambut dua teman Ebby tersebut.
"Sudah Tante," jawab Stella. Sekar lalu pamit menyapa tamu yang lain.
"Bagaimana kesibukanmu By? Aku bisa ngobrol dengan mamamu?" tanya Stella.
"Kenapa?" Ebby curiga dengan kelakuan Stella yang serba salah.
"Iseng aja, kangen ngobrol sama mamamu." Stella berupaya menyembunyikan aap tujuan utamanya ke rumah Ebby kali ini.
Tapi rupanya kejelian Ebby tak bisa ditipu para sahabatnya ini.
"Kalian punya misi khusus ya?" tebak Ebby dengan jitu.
"Kamu tahu lah, ada orang yang sangat nervous. Kasihan dia sampai seperti itu. Aku takutnya dia malah kena serangan jantung." Jelas Ruddy.
"Dia terlihat sangat ketakutan." jelas Stella.
"Lalu bagaimana aku menjamin bahwa aku tidak kabur?" Keluh Ebby. Dia berkali-kali bicara pada Andre kalau dirinya tak akan kabur. Tapi itu percuma.
"Itu hanya kamu yang tahu. Aku nggak bisa ngomong apa-apa," kata Stella.
"Aku benar-benar melihat Andre itu sudah sangat putus asa. Aku yakin besok kamu terlambat datang aja dia langsung bunuh diri."
"Apa aku nginep rumah dia ya? Atau dia nginep di sini?" tanya Ebby.
"Pasti orang tua kalian nggak akan memberikan izin itu." Stella yakin Gunawan mau pun Herman akan melarang pasangan calon bersama jelang pernikahan.
"Lalu aku harus bagaimana?" Ebby pun jadi putus asa memikirkan bagaimana kondisi Andre saat ini.
"Bagaimana kalau kita diskusi dengan papamu aja?" tanya Ruddy.
"Aku saksinya bagaimana dia teramat ketakutan."
"Baik kita tanya aja ke papaku yok," Ebby setuju dengan saran Ruddy. Dia juga takut kalau terjadi apa-apa pada Andre.
"Pa, aku ingin bicara," bisik Ebby pada Gunawan.
"Ada apa?"
"Ayo kita bicara. Ini urgent dan sangat penting. Cari tempat aku panggil mama," balas Ebby.
"Ya sudah ke ruang kerja Papa aja yang pasti aman tak ada yang bisa masuk," kata Gunawan.
"Aku panggil mama dulu. Papa sama Stella dan Ruddy," Ebby langsung meninggalkan papanya mencari Sekar.
"Oke," jawab Gunawan sebelum Ebby berlalu.
"Ayo kalian ikut saya!"
"Baik Om," balas Stella.
\*\*\*
"Ada apa?" Sekar merasa ada yang mendesak karena tak mungkin Gunawan memanggil ke ruang kerja bila hanya ingin bicara dengannya.
"Ada hal penting Ma, cepetan," desak Ebby.
"Saya pamit dulu sebentar dipanggil Gun-gun," kata Sekar pada kerabatnya.
"Oke."
"Baik."
"Silakan." kata kerabatnya yang ada di situ.
\*\*\*
Setelah Sekar dan Ebby masuk ke ruang kerja Gunawan, Ruddy dan Stella lalu bercerita bagaimana nervousnya Andre sejak kemarin.
"Bahkan terlihat sepertinya semalam dia kurang tidur." Demikian Ruddy menutup laporannya pada Sekar dan Gunawan mengapa mereka dirumah itu. Semua karena Andre sangat takut bila Ebby meninggalkannya.
"Kita nggak bisa salahin Andre atau kita tertawakan kebodohannya."
"Dia ada trauma karena pelaku pernikahan besok adalah yang meninggalkan anaknya di altar!"
"Sekarang kita harus berpikir itu. Jangan menyalahkan Andre. Kalian coba bayangkan berada di posisinya Andre. Kalian juga akan seperti dia ketakutan ditinggal di altar sendirian."
"Please jangan salahkan dia," kata Sekar.
"Siapa yang nggak ngerti Ma? Papa ngerti itu." Gunawan menjawab pernyataan Sekar. Ebby sadar apa yang Andre alami saat ini akibat perilakunya dulu. Andai saat itu dia tak kabur. Andai saat itu dia tetap berdiri tegak dan langsung menyelesaikan semuanya di gereja. Walau dibatalkan tapi dia enggak kabur. Pasti tak seperti ini.
"Lalu solusinya gimana Pa? Karena Rudi dan Stella takut dia bisa kena serangan jantung bila kita datang terlambat atau dia ambruk saat di altar karena kurang tidur dua malam," kata Ebby.
"Aku janjikan apa pun dia enggak akan percaya," jawab Ebby lagi.
"Papa bingung kalau dia suruh nginep sini. Disini penuh dengan keluarga leluhur pasti akan jadi bahan cemoohan."
"Kalau Ebby yang di sana perias pengantin dan segala semuanya bisa dipindah, tapi Ebby pasti jadi cemoohan juga kalau meninggalkan rumah keluarga," ujar Gunawan lagi.
"Besok kan acaranya sore Pa. Bagaimana kalau dini hari kita pindahin tempat mereka jadi satu aja Pa?"
"Dari subuh jadikan mereka satu lokasi. Nanti mereka riasnya di sana. Mungkin itu membuat keduanya tenang. Jadi mereka berangkat ke gereja bareng aja cuma masuk gerejanya aja yang terpisah."
"Ya memang nggak lazim sih tapi dibikin lazim karena kondisinya seperti ini daripada kedua anak ini stres," kata Sekar.
"Aku setuju," kata Stella.
"Lebih baik seperti itu Tante daripada Andre juga senewen. Benar-benar saya ngelihat dari kemarin Andre itu udah nggak seperti dia pada umumnya. Andre benar-benar stres yang melebihi sikap dia sehari-hari."
"Saya tahu waktu Andre stress saat mau ujian S1-nya. Saat itu dia targetnya Suma cumlaude. Saya tahu betul itu karena saya dari semester pertama deket dengan dia."
"Itu pun jadi bahaya kalau Andre seperti itu. Takutnya karena dia merasa plong, karena merasa dia sudah tenang, dia pingsan saat sebelum sampai altar," kata Sekar lagi
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama AS CEMPRENG
dengan judul novel GODAAN HASRAT ANAK TIRI ya