ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY

ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY
KEPERGOK



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Herman, Andre dan Ebby bingung harus berkata apa pada kedua orang itu.



Kedua orang yang untuk sementara tak ingin mereka temui sebelum mereka bisa mencari jalan terbaik untuk menceritakan keseluruhan faktanya.



Andre segera memeluk Aheng, sedang Ebby  memeluk Meylan dengan lembut.



Rupanya mereka berdua yang datang memergoki rombongan Herman.



"Kita keluar yuk, jangan bicara di sini. Kita ke cafe di belakang saja," ajak Andre.



Sepanjang perjalanan ke cafe tak ada yang bicara. Mereka seperti kehilangan kemampuan merangkai kata.



Di parkiran belakang laboratorium ada cafe yang nyaman. Kebetulan tadi Andre parkir di sana sehingga tahu lokasi cafe ini.



Tiba di sana Aheng dan Meylan masih terdiam tak percaya mendengar semua perkataan atau diskusi Andre, Ebby dan Herman.



Ebby memesan semua tanpa diskusi atau bertanya pada semua orang karena semua masih tak ada yang mau bicara.



"Sebelum kalian bertanya aku yang akan bercerita dulu,"  kata Ebby memecah kebekuan yang terjadi. Bila tak dia mulai, tak akan ada yang bicara.



"Kalian jangan putus dulu pembicaraanku, mungkin setelah aku selesai nanti akan dilengkapi oleh Koko atau papa."



"Mama sama Aheng tahu kan aku sangat ingin punya anak, itu awal ceritanya."



"Seperti Patty, aku pun membeli ovutest. Sepulang dari Aussie aku juga langsung kontrol ke dokter dan disarankan kapan kami melakukan hubungan suami istri agar hasilnya bisa segera kami dapat sesuai harapan kami."



"Kami berdua juga minum obat pengoptimal kesuburan." 



"Tapi ternyata setelah mengikuti semua petunjuk dokter, juga minum obat aku tak kunjung hamil."



"Aku masih sabar tapi Koko yang merasa tidak nyaman, karena dia sudah lihat hasil test aku bagus. Aku subur."



"Akhirnya bulan lalu Koko berinisiatif untuk mengecek spermanya. Ingat itu bukan kemauanku."



"Koko yang menyeret-nyeret aku untuk test spermanya. Aku harus jelaskan, jadi Koko yang berinisiatif."



"Hasilnya sangat mengejutkan kami, ternyata selama ini benihnya Koko itu hampir tidak ada sama sekali."



"Tentu saja aku ngotot pada dokternya karena Koko sudah punya Aheng sebagai bukti bahwa dia adalah pria subur."




"Dokter bilang tidak mungkin salah. Koko memang sejak lama tidak ada benih sama sekali. Ada pun sangat sedikit kemungkinannya satu dibanding seribu."



"Aku bawa Koko ke Sinshe untuk tusuk jarum dan minum obat tradisional. Sudah satu bulan kami berobat dan tusuk jarum."



"Tapi Koko penasaran bagaimana mungkin dia punya Aheng dari Maura. Maura adalah perempuan baik-baik yang masih virgin saat berhubungan pertama kali dengan Koko."



"Sejak awal aku sudah larang Koko untuk memeriksa tentang jati diri Aheng tapi Koko ngotot."



"Koko penasaran ingin tahu. Akhirnya aku izinkan dengan catatan kami tak akan merubah status harta!"



"Semuanya tetap milik Aheng."



"Akhirnya Koko berhasil dapat sampelnya Aheng dan hasilnya Aheng bukan anaknya Koko."



"Saat mendapat hasil itu aku sudah wanti-wanti Koko untuk berhenti. Aku tak ingin ada keributan biarlah semua ini hanya aku dan Koko yang tahu."



"Koko bilang biar bagaimana pun papa harus tahu karena ini berhubungan dengan garis keturunan."



"Koko tak masalah untuk harta sama seperti aku, tapi garis keturunan harus dibetulkan terlebih nanti kalau anaknya Aheng laki-laki. Aheng harus tahu kalau itu bukan Nugroho."



"Akhirnya Koko bilang ke papa. Papa juga awalnya tak percaya."



"Akhirnya papa dan Koko cari bukti yang mungkin ditinggal Maura."



"Papa dan Koko membongkar barang peninggalan Maura sementara mama aku bawa pergi agar tak melihat perbuatan mereka."



"Dan puji Tuhan Maura meninggalkan bukti siapa ayah Aheng."



"Dengan petunjuk itu entah bagaimana caranya aku nggak tahu Papa dapat sampel ayahnya Maura dan Aheng."



"Aku nggak tahu. Aku dan Koko nggak tahu papa ambil laboratorium disini karena lab yang kami gunakan untuk uji coba untuk Andre dan Aheng bukan di sini. Kami beda laboratorium."



"Kami baru tahu lab yang papa gunakan diini tadi malam saat Papa menghubungi kami minta bertemu di sini jam 09.30.  Karena Papa bilang Papa takut pingsan tak kuat menerima hasil lab."



"Sampai sini aku mohon maaf Mama dan Aheng kami sama sekali tidak ingin masalah dengan Aheng dan Mama. Apa lagi masalah harta,  tidak aku dan koko sama sekali nggak berkeinginan membuat ribut di keluarga."



"Mohon maaf kalau tindakan Koko membuat semuanya jadi kacau seperti ini," kata Ebby tulus.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU