
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Semua menikmati acara minum teh sore dengan bahagia.
Andre tak menyangka perjalanan cinta pertamanya bisa seperti ini. Dia mengalami jatuh cinta pertama pada mantan tunangan anaknya sendiri.
"Maaf," Andre mendengar permintaan maaf dalam bahasa Indonesia saat dia ditabrak seseorang di Paris.
"Maaf tidak sengaja," orang itu meralat kata-katanya dengan bahasa Perancis.
"Enggak apa-apa," jawab Andre dalam bahasa Indonesia.
Di situlah pertemuan pertama Andre dan Ebby setelah Ebby bukan tunangan Hengky. Ebby menabrak Andre.
Tentu saja Andre tak mau melepas kesempatan itu! Andre ingin Ebby kembali menjadi istri Hengky. Putra tunggalnya. Dengan dua kepentingan yang berbeda Andre dan Ebby pagi itu sepakat bicara. Mereka ke cafe terdekat lokasi tempat kejadian mereka tabrakan itu. Ebby dan Andre memesan kopi duduk bersama untuk membuat kesepakatan.
Menyelesaikan semua carut marut yang ada.
"Tolong Pak. Tolong, saya ingin hidup tenang. Saya tak ingin bertemu lagi dengan Hengky. Sudah saya kubur namanya saat saya melihat dengan mata kepala sendiri dia melakukan hal buruk di luar pernikahan," saat itu Andre ingat bagaimana Ebby minta Andre mengerti dirinya yang tak mau berurusan apa pun dengan Hengky lagi.
"Kamu harus tahu Hengky tak bersalah. Dia diberi obat . Dia tak sadar saat melakukan itu," bela Andre ketika itu.
"Saya sudah lihat postingan itu. Saya sudah tak peduli lagi. Tapi saya tak bisa menghilangkan ingatan saya. Saya tak bisa membayangkan suami saya pernah saya lihat berhubungan intim dengan orang lain yang bukan perempuan legal baginya." Ebby bersikeras pada prinsipnya.
"Saya tak bisa membayangkan suami saya berzina. Bila dia melakukan dengan istri sahnya, mungkin saya tak sesakit itu."
"Saya pernah menasehati Hengky berkali- kali kalau Carol itu punya rasa pada Hengky. Tapi Hengky tak menggubris saya."
"Hengky lebih percaya ada Carol daripada saya tunangannya. Itu tidak termaafkan!"
"Jika saya tak melihat live mungkin saya bisa memaafkan dia," kata Ebby lagi.
"Lalu Daddy harus bilang apa sama Hengky?" Andre masih menyebut dirinya daddy pada Ebby. Padahal Ebby memanggilnya Pak.
"Enggak usah bilang apa-apa. Anggap aja kita nggak pernah ketemu," Ebby bersikeras tak mau lagi bicara apa pun dengan Hengky.
"Oke dengan catatan kasih nomor ponselmu. Kalau kamu nggak kasih tahu, daddy akan beritahu alamatmu disini." ancam Andre pada gadis kecil dihadapannya.
Dengan ancaman itu akhirnya mereka bertukar nomor ponsel. Karena Ebby sudah tak mau lagi menggunakan nomor ponsel Indonesianya.
"Sebenarnya Bapak ada urusan apa ke sini? Dan sudah berapa lama?"Tanya Ebby.
"Daddy ada urusan disini, sudah satu minggu lebih. Oh sudah dua minggu malah," kata Andre.
"Lumayan lama, tinggal di mana?"
"Daddy punya apartemen di sini," kata Andre.
"Punya apartemen?" Ebby memastikan.
"Iya sejak Hengky SD, Daddy buka cabang perusahaan di sini. Jadi kalau ke Paris itu sampai dua atau tiga bulan," kata Andre lagi.
"Kalau selama itu tinggal di hotel tentu pemborosan. Jadi Daddy beli apartemen kecil. Kendaraan biasanya sewa per bulan. Tidak setiap hari naik taksi agar tidak boros."
"Oh gitu," kata Ebby.
"Baik. Saya sekarang permisi dulu. Saya sudah terlambat. Dari tadi saya sudah batalkan janji pertama karena pertemuan kita ini. Saya mau ke pertemuan berikutnya," kata Ebby lagi.
"Janji, jangan katakan bertemu saya. Saya sudah membuang diri saya jauh dari papa dan mama saya karena kelakuan anak anda. Tolong jangan kacaukan lagi hidup saya untuk pindah ke lokasi lain," sebelum berpisah tadi Ebby minta Andre tidak membocorkan keberadaannya pada siapa pun.
"Baik, Daddy janji," kata Andre.
"Kamu tinggal di mana?" Andre bertanya dimana Ebby tinggal selama ini.
Ebby menyebutkan kawasan tempat tinggalnya
"Loh Itu dekat dengan apartemen Daddy." Andre menyebutkan nama Apartemennya yang hanya dua blok dari tempat tinggal Ebby.
Mereka pun berpisah. Sejak saat itu Andre selalu terbayang wajah innocent Ebby.
\*\*\*
Tiga hari kemudian Andre sedang janjian dengan sepupunya di sebuah cafe.
"Kamu bertemu dengan Vero dulu, aku masih di jalan," pinta sepupu Andre ditelepon barusan.
"Oke." Andre tak keberatan.
"Ha ha ha, masa sih udah lama enggak ketemu? Aku malah lupa kapan kita terakhir ketemu," jawab Andre.
Andre dan Vero lalu memesan kopi sambil menunggu kedatangan suami Vero.
"Vero," Andre dan Vero menoleh saat seseorang memanggil.
"Hallo," kata Vero membalas orang yang menyapanya.
"Wah kalian sedang kencan rupanya," kata perempuan yang menyapa Vero.
" Ha ha ha kamu salah, aku tidak kencan dengan Andre," kata Vero lagi.
"Dia ini adik sepupu jauh suamiku," Vero menjelaskan hubungannya dengan Andre.
"Sebentar lagi suamiku datang kok. Jangan mengira seperti itu nanti dikira aku selingkuh," kata Vero.
"Mana suamimu? Kamu sudah lama sekali nggak terlihat bersama suamimu." kata teman Vero, Andre malas memperhatikannya. Andre malah memperhatikan tamu lain di cafe. Saat itu Andre kembali melihat Ebby setelah pertemuan pertama mereka tiga hari lalu.
"Suamiku jarang ada di Paris. Paling lama bermukim di Paris dia hanya dua atau tiga bulan. Suamiku memang tugasnya bukan di sini. Tapi aku punya suami. Jangan salah sangka," kata Vero lagi.
Andre hanya mengamati. Lalu tak lama suami Vero datang dan diperkenalkan pada perempuan itu.
Andre melihat Ebby dan teman-temannya sudah akan berlalu. Tentu saja Andre segera berupaya agar dia juga bisa pulang.
"Aku rasa sudah waktunya aku pulang. Terima kasih atas waktu kalian." Pamit Andre pada Vero beserta suaminya.
"Oke see you," kata Vero.
\*\*\*
"Ebby," panggil Andre.
"Ada apa Pak?" Andre tak suka mendengar panggilan Ebby untuknya. Sejak awal bertemu Ebby sudah merubah panggilannya.
'*Wah aku baru sadar, dia sudah merubah panggilannya padaku*,' batin Andre dalam hatinya.
"Kamu mau pulang ya?" Tanya Andre. Pertanyaan terbodoh yang pernah Andre lalukan. Dia gugup didepan anak kecil ini.
"Bapak enggak bawa mobil? Mari bareng saya," Ebby menawarkan Andre pulang bareng dengannya.
"Enggak apa apa saya naik taksi aja," Andre ragu, dia ingin bersama Ebby tapi koq merasa bingung mau ngomong apa ketika berhadapan.
"Bareng aja, kan saya ngelewatin arah apartemennya Bapak. Kalau ke apartemen saya dari sini kan ngelewatin apartemen anda." Ebby berupaya ramah.
"Ah nggak usah nggak usah gampang saya naik taksi lagi aja kata Andre.
"Baiklah. Saya duluan Pak," Ebby tidak memaksa.
\*\*\*
Satu minggu kemudian saat Andre sedang makan malam sendirian, Andre mengambil meja di sudut agar bisa mengamati semua pengunjung dengan leluasa. Andre kembali melihat Ebby masuk resto. Awalnya Andre hendak berdiri agar Ebby duduk satu meja denganya. Tapi akhirnya dia batalkan ketika melihat Ebby mendatangi meja yang sudah berisi dua lelaki dan seorang diantaranya melambai ada Ebby.
Andre melihat bagaimana Ebby bicara ramah pada dua rekan prianya. Andre melihat Ebby mencium pipi pada kedua lelaki itu.
Andre melihat seorang teman kencan Ebby mengelap ujung bibir Ebby dengan tissue.
Andre tak mengerti akan perasaannya. Saat itu dia sangat tak suka melihat Ebby diperlakukan semanis itu.
Kala itu dua minggu sejak tragedy tabrakan mereka.
"Kenapa aku jadi marah kayak gini? Kenapa aku nggak suka dia diberi perhatikan manis seperti itu?" Itu yang saat itu Andre pikirkan.
'*Mengapa dia seperti itu? Tadi lelaki yang pertama membersihkan ujung bibirnya dengan tissue. Tapi sekarang Ebby membelai pipi lelaki kedua*,' Andre bingung melihat interaksi Ebby dengan dua lelaki yang bersamanya.
'*Mengapa dia seperti itu kepada pria lainnya*?'
Andre jadi sibuk menebak-nebak hubungan mereka bertiga.
Akhirnya mereka bertiga pulang. Ebby berdiri di tengah keduanya. Andre melihat ketiganya berjalan bersisian. Ebby melingkarkan lengannya dipinggang kedua lelaki itu dengan mesra. Begitu pun kedua lelaki itu tangannya merangkul pinggang Ebby.
Andre geram. Entah mengapa ada rasa panas bergemuruh dalam hatinya.
"Apa aku cemburu?"
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED