
Di dalam sebuah ruangan yang gelap, terlihat sesosok orang sedang berdiri sambil memandangi bulan yang terlihat agak merah dari dalam ruangan tersebut.
Sosok itu begitu gelap bahkan cahaya rembulan seakan tak menyinari dirinya, seluruh tubuhnya juga mengeluarkan sebuah aura kegelapan yang menakutkan sekaligus mengintimidasi. Sosok itu benar-benar memiliki aura sosok pemimpin yang ditakuti.
Sosok gelap itu selalu tersenyum dan wajahnya nampak bahagia, seakan-akan dia segera mendapatkan kabar bahwa dirinya menang lotre dengan jumlah yang fantastis.
Walaupun terlihat seperti sedang menunggu sesuatu namun sosok itu tetap tenang dan tak membiarkan dirinya berlarut-larut dalam ke bingungan.
Saat angin mulai berhembus dengan berat, sosok itu semakin tersenyum puas. Sosok itu tahu jika angin yang berhembus dengan berat itu merupakan kabar baik untuknya.
"Bagaimana keadaannya Glyfi?" Sosok itu seakan berbicara sendiri.
Tetapi sebenarnya ketika angin berat itu berhembus, muncul sesosok elf yang begitu tampan, lengkap dengan busur dan anak panahnya.
Elf itu bernama Glyfi, dia merupakan sosok kepercayaan dari sosok hitam itu yang merupakan ketua dari Guild World Dominator.
Namanya memang tak seterkenal Vayline, Joker hingga ranker yang lainnya. Bahkan dia tak ada di dalam list ranker tersebut, namun Glyfi adalah orang yang benar-benar hebat. Ia adalah player misterius dari sekian banyak player misterius di Cyrus Online.
Glyfi menunduk lalu memberikan hormatnya. "Semua sudah beres tuanku. Tidak ada lagi Ace Of Spade dalam waktu dekat ini, mereka benar-benar sudah hancur"
"Bagus aku senang mendengarnya" Sosok hitam itu sedikit tertawa mendengar laporan itu, lalu ia kembali tenang dan melanjutkan pertanyaannya. "Lalu bagaimana dengan kelima pilar mereka? Apakah kelompok kecil yang kita sewa itu mampu membunuh mereka?"
Wajah Glyfi berubah buruk dalam beberapa saat, lalu ia kembali normal dan melaporkan semua yang terjadi di lapangan.
Sosok hitam itu terkekeh setelah mendengar semua laporan dari Glyfi. Senyumannya kembali lebih lebar dari sebelumnya, dan aura-aura gelap di seluruh tubuhnya semakin naik ke atas sehingga menciptakan efek yang keren.
"Hahaha sehebat apapun player bernama Joker itu, bagiku dia hanya tak lebih dari sampah yang lainnya... Baik Glyfi kau boleh pergi dan berhati-hatilah"
"Baik tuanku"
Glyfi pun hilang dalam sekejap mata dari tempat itu, menyisakan sosok hitam dan gelap itu seorang diri. Sosok itu terus menatap bulan kemerahan sambil tersenyum, namun walaupun terlihat memandangi bulan itu, pandangannya sebenarnya menatap jauh ke arah yang lainnya.
"Aku mencium bau-bau keanehan dari laporannya Glyfi, nah bagaimana kalian akan membalasnya Ace Of Spade?"
---...---...---...---...---
Selepas dari tempat itu, Glyfi kini hendak berniat pergi ke suatu tempat. Namun langkahnya begitu berat kali ini, ia merasakan ada sesuatu yang berbahaya tengah mengintainya sejak tadi.
"Apa cuma perasaan ku saja ya?" Batin Glyfi.
Glyfi berhenti sejenak dan melihat ke sekitarnya, tak ada terlihat sosok yang mencurigakan sejauh yang ia lihat. Ia hanya melihat banyak NPC yang sedang saling berinteraksi dengan NPC lainnya atau dengan Player, namun ia tetap merasakan sebuah ancaman yang mengintai.
Merasa tak menemukan apa-apa Glyfi kembali berjalan. Semakin lama semakin terasa hawa mengancam itu, Glyfi pun kini melangkahkan kakinya dengan cepat dan tiba-tiba ia berhenti di sebuah jalan buntu di sela-sela kota.
"Sial kenapa aku jadi kesini" umpatnya
Saat Glyfi hendak pergi dari situ tiba-tiba muncul sesosok orang dengan tudung yang menutupi wajahnya.
Alis Glyfi naik setengah derajat melihat orang itu yang kini berdiri di hadapannya.
"Siapa kau?" Glyfi menerka-nerka siapa orang tersebut.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang kau harus lakukan hanyalah mati disini sekarang juga!"
Orang bertudung itu tiba-tiba dengan cepat menerjang Glyfi. Sebuah belati hampir saja mengenai Glyfi, beruntungnya dia sempat menghindari serangan itu.
"Belati? Kau Assasin dari Ace Of Spade kah?"
Sempat terdiam sejenak, orang bertudung itu kembali menyerang Glyfi dengan sangat cepat. Gerakkannya sangat cepat dan melebihi kecepatan Glyfi. Glyfi pun jadi kerepotan mengimbangi kecepatan serangan orang itu hingga pada akhirnya sebuah tendangan tak bisa di tangkis oleh Glyfi dan membuatnya harus termundur beberapa langkah.
Tetapi di saat itu juga Glyfi berhasil menembakkan anak panahnya ke orang tersebut, namun sayangnya serangannya itu mampu dihindari olehnya tetapi membuat penyamaran orang itu terungkap.
"FullHouse? Aku tak pernah mendengar nama itu" batin Glyfi
Glyfi masih tidak mengetahui bahwa orang yang menyerangnya tadi adalah ketua Guild Ace Of Spade yang baru saja ia hancurkan.
Glyfi hanya tahu jika Ace Of Spade memiliki 5 pilar utama dan hanya 4 dari mereka yang terekspos ke publik. Saat pengejaran itu mereka memang berlima namun Glyfi tak menyadari jika satu diantara mereka berlima hanyalah seorang decoy.
FullHouse yang sudah tak memakai tudung pun tak merasa takut sama sekali, ia sangat yakin jika Glyfi tak akan mengetahui siapa dia sebenarnya. Yang muncul di layar Glyfi hanyalah nicname yang ia kenakan, level serta status lainnya.
FullHouse juga dengan sengaja untuk tidak menampilkan status guildnya, karena itulah Glyfi hanya bisa menebak jika FullHouse adalah orang suruhan dari Ace Of Spade.
"Dia seorang Assassin yang berbahaya! Jika aku tidak hati-hati maka aku yang bisa tamat" ucap Glyfi.
Glyfi langsung menembakkan tiga anak panah sekaligus dengan cepat. Anak panah yang melesat cepat itu mampu dengan mudahnya di hindari oleh FullHouse, ia seperti menari kesana dan kemari menghindari anak panah itu.
"Sial!"
Glyfi terus menerus meluncurkan anak panahnya, dan FullHouse tetap mampu menghindari itu semua. Lambat laun FullHouse pun kembali berada di dekat Glyfi, ia kembali memberikan sebuah serangan kombo dan ia akhiri dengan sebuah tendangan lurus yang membuat Glyfi terbentur tembok dan terjatuh.
Melihat ada kesempatan, FullHouse pun langsung melompat dan hendak menikam Glyfi secara langsung, beruntung Glyfi punya sebuah pisau kecil yang ia gunakan untuk menangkis tikaman itu.
FullHouse tak ambil pusing, ia memutar tubuhnya dan langsung menyerang bagian yang terbuka. Ia langsung menusukan belati itu tepat mengenai paha Glyfi.
"Arggghhh sakit!"
"Sakit? apakah rasanya sakit? Bukannya kau juga melihat teman-temanku merasakan sakit seperti ini kemarin"
Glyfi langsung tercengang karena ucapan FullHouse tadi, ia kini menyadari ada sesuatu yang salah saat pengejaran 5 pilar Ace Of Spade itu.
"Jadi aku telah melakukan kesalahan ya? Pantas saja tuan mengingatkan ku"
Sebuah serangan dilancarkan oleh FullHouse, akan tetapi Glyfi berhasil kabur dengan melemparkan sebuah item yang berfungsi seperti sebuah bom asap. Dan itu mengakibatkan pandangan FullHouse terganggu.
"Jangan harap kau bisa kabur setelah kau melakukan hal seperti itu kepada teman-temanku" ucap FullHouse sambil tersenyum jahat.
"Chain!"
Sebuah rantai panjang tiba-tiba muncul di tangan FullHouse, lalu ia melemparkan rantai itu ke arah belakangnya.
Seakan-akan hidup, rantai itu pun bergerak mencari keberadaan Glyfi. Saat rantai itu mengetahui keberadaan Glyfi, rantai itu langsung merayap dan mengunci leher Glyfi sehingga ia tak mampu untuk bergerak lagi.
"Sial!" Umpatan kembali terdengar dari mulut Glyfi.
FullHouse menunjukkan senyuman kemenangannya ke Glyfi, kali ini ia benar-benar akan mengalahkannya.
"Matilah untuk teman-teman ku!"
FullHouse langsung menarik rantai itu dan membuat Glyfi langsung tertarik ke arahnya. Setelah itu FullHouse pun memberikan tebasan ke arah Glyfi dan membuat Glyfi menerima damage.
Satu serangan itu masih tak mampu membuat Glyfi kalah. FullHouse pun tak punya pilihan lain selain melakukannya secara berulang-ulang hingga batas waktu skill Chain miliknya.
Perlu 7 kali serangan untuk membuat Glyfi kalah dan jadi butiran partikel partikel kecil, selain itu karena telah membunuh seseorang, Glyfi pun di kenai sanksi penurun exp dan kehilangan beberapa item berharganya.
FullHouse pun tak mau ambil pusing, ia langsung mengambil barang berharga yang dijatuhkan oleh Glyfi tadi, ia sempat kecewa karena barang itu bukanlah barang yang ia perlukan namun ia tetap mengambilnya karena FullHouse merasa itu semua akan berguna bagi dirinya.
Setelah berhasil mengalahkan Glyfi, FullHouse pun meninggalkan tempat itu dan tidak lupa ia kembali mengenakan sebuah tudung yang menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.
"World Dominator tunggu saja...aku pasti akan membalas ini semua" Batin FullHouse lalu dia melangkah membelah lautan manusia yang ada di sana.
---...---...---...---...---
Selepas Archie mendapatkan apa yang ia cari di Hutan Razolore, ia kini kembali ke kota Ishavil yang merupakan tempat persinggahan terakhirnya sebelum pergi ke Nilfelin.
Perjalanan kembalinya tidak sepi seperti awal dia berangkat. Kini Archie ditemani oleh Audrey, Izzy, Viand serta anggota Nebula yang lainnya.
Memang saat mereka pergi dari Nilfelin, kondisi kota itu masih belum stabil dan perlu pembangunan besar-besaran. Tetapi Viola memberikan sebuah quest khusus untuk anggota Guildnya agar membantu pembangunan kota Nilfelin sehingga membuat beberapa anggota guild masih berada di sana.
Kedatangan Archie sudah di sambut oleh Rutland dan Alicia di depan pintu masuk kota.
"Jadi kau mendapatkan benda itu?" Rutland langsung menanyakan tentang Arcana.
Alicia menatap heran ke arah Rutland, kepalanya tak berhenti menggeleng atas sikap kerabatnya itu.
"Haha guru santai saja aku tak ambil pusing dengan sikapnya itu" Archie pun membuka panel inventorinya dan mengambil Gold Rose dari sana.
Begitu Archie menunjukkan Gold Rose, mata Rutland langsung menjadi terang dan air liur mengalir deras. Rutland langsung saja mengambil bunga emas itu dari tangan Archie, dengan wajah gilanya ia memandangi bunga itu dan bersiap membedah isi dari bunga itu.
"Dasar Rutland, dia tak bisa mengontrol dirinya jika melihat benda hebat"
"Hahaha santai saja guru dia memang seperti itu"
"Archie kalau begitu kami pergi dulu, aku harus melaporkan hal ini kepada para tetua guild"
"Ah kalau begitu aku ucapkan terimakasih atas bantuan kalian semua Viola, Venus dan semuanya" ucap Archie dengan tulus lalu ia membungkukkan badannya.
Viola tersenyum saja, ia mengulurkan tangannya mengajak Archie bersalaman. Archie pun menyambut tangan Viola dengan tulus lalu ia menunjukkan senyuman khasnya.
"Jangan lupa dengan janji itu"
"Ah? Ah ah yang itu ya hehe yang itu" Archie berusaha menutupi kesalahannya dengan tertawa dan menggaruk rambutnya.
Viola hanya tersenyum saja menanggapi hal itu, ia tak mau membuang waktu lebih lama lagi dan segera pergi meninggalkan mereka semua di sana.
"Hmppp ada yang ingin menjalin asmara di sini, kau tidak marah kan Nona Audrey?"
"Tidak tidak aku tidak marah tuan Izzy.... Aku hanya merasakan sakit di dalam sini"
"Sudahlah kalian ini selalu bercanda! Aku tak sabar ingin ke bar itu lagi dan memeasan moonshine" Archie meninggalkan mereka semua dan melangkah pergi ke arah bar terkenal di kota Ishavil.
Tetapi langkahnya terhenti. Di hadapannya kini muncul seekor rubah dengan corak api. Archie sedikit bingung karena ia baru melihat ada seekor monster yang masuk ke dalam kota.
Rubah itu langsung berlari dengan cepat dan menerjang Archie. Archie yang merasa terancam pun terpaksa menarik pedangnya dan bersiap untuk menyerang rubah itu.
"Jangan serang rubah itu Archie!" Alicia langsung berteriak nyaring saat melihat Archie yang serius hendak menyerang rubah itu.
Karena teriakan itu Archie pun jadi melirik ke arah Alicia dan membuat Archie teralihkan fokusnya.
Karena Archie yang teralihkan itu, rubah itupun dengan mudah menerjang Archie dan membantingnya ke tanah.
Namun sebuah keanehan terjadi, rubah itu tidak menyerang Archie, melainkan ia menjilati Archie. Rubah itu seperti menganggap Archie adalah tuannya.
"Hei tunggu sebentar jangan-jangan kau?"
"Ya kau benar Archie, dia itu si Jink.. rubah kecil yang mengikuti kau dulu"
"Jadi kau ini Jink? Aaah kau sudah sangat besar setelah beberapa waktu ku tinggal"
Archie pun membawa Jink berguling-guling di atas tanah kota Ishavil tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Teman-temannya pun hanya bisa membuang nafas berat sambil memijit kening mereka melihat tingkah Archie itu.