
Berita tentang keberhasilan Guild Nebula menaklukkan dungeon langsung menjadi trending topik di Cyrus Online.
Semua portal berita meliput hal tersebut, guild Nebula menjadi pusat perhatian di Cyrus Online kali ini.
Semua partisipan diberi reward oleh Nebula pusat. Mereka semua diberikan beberapa emas, perlengkapan serta book skill untuk semakin membuat mereka agar terus berprestasi.
Sedangkan untuk Viola, ia diberikan sebuah kebebasan wewenang untuk mengatur guild Nebula yang berada di wilayah Re-Estize Empire.
Tentunya ini disambut baik oleh Viola. Dengan begitu ia akan lebih leluasa untuk memajukan guild cabang yang dipegang olehnya.
Namun ada satu kegagalan yang dialami oleh Viola, ia gagal membawa Archie untuk masuk ke guild Nebula.
Tentunya ini juga disorot oleh para tetua dan eksekutif Guild Nebula pusat karena mereka berharap banyak kepada Viola untuk merekrut player yang sangat berbakat ke Nebula.
"Maafkan saya karena telah gagal membawa player tersebut ke Nebula" ucap Viola sembari berlutut.
"Tidak apa, jika memang begitu kenyataannya. Lebih baik kau fokus saja untuk membuat Nebula semakin maju di Cyrus Online aku yakin player tersebut sudah membuang kesempatan emasnya!"
Lalu Viola bangkit dan segera meninggalkan tempat itu karena sudah tidak ada yang dibahas lagi. Ia kemudian mencoba menghubungi D. Archie, namun player itu masih dalam keadaan offline.
Viola menarik nafasnya dalam-dalam sambil menatap langit-langit tempat yang saat ini ia pijak. Cerita masa lalu mulai terputar dikepalanya layaknya layar tancap yang diiringi oleh musik yang menenangkan.
Dengan senyuman penuh arti kemudian ia berkata: "aku akan membuatmu kembali ke tempat seharusnya kau berada dik!"
>>>>>>
Selepas kejadian tabrakan mengerikan di depan restoran itu, akhirnya Ikhsan dan perempuan yang ia tabrak itu masuk ke dalam restoran.
"Hahahaha malang sekali nasibmu, perempuan secantik kamu ini ditabrak oleh seorang Ikhsan"
"Aku tidak sengaja menabraknya Rama! Aku bergegas kesini karena aku bangun kesiangan!"
"Sudahlah kalian berdua! Lebih baik kita makan saja sudah"
Acara mereka siang itu ialah acara makan-makan bersama. Ikhsan sudah berjanji kepada mereka semua untuk mentraktir mereka sambil berkenalan lebih jauh dengan teman-temannya.
Salah satu diantara mereka ada seseorang pria yang terlihat seperti umur 30an, namun sebenarnya umurnya hanya 27 tahun.
"Aku tidak menyangka kapten berumur segitu, sudah hampir kepala 3 itu kapten!" Ucap Ikhsan
"Hmmm nak Ikhsan malah terlihat seperti orang berumur 60 tahunan"
"Hahaha mamam tuh rambut putih! Makanya jangan pernah nyinggung masalah umur orang"
Ikhsan mengalihkan kekesalannya dengan mengambil daging yang sedang dipanggang, tentu saja para teman-temannya tidak membiarkan hal itu terjadi.
Terjadilah pertempuran maha dahsyat yang disaksikan oleh restoran itu sebagai saksi bisunya.
Sunny lebih nyaman berinteraksi ke para perempuan yang lainnya. Namun sesekali ia memperhatikan tingkah para lelaki yang tak bisa di terima oleh akal sehat.
Sesekali juga matanya terhenti ke arah Ikhsan, lalu ia kembali menoleh ke arah lain ketika Ikhsan melihat ke arahnya.
"Sayang sekali Izzy tak bisa ikut kesini, jika saja ia ikut mungkin ia bisa bernyanyi untuk kita semua"
"Hmmm benar sekali itu kak Rama pertama kali aku melihatnya, aku kira ia orang gila yang bermain Cyrus Online"
"Wah kau juga berpikir begitu adiknya Willy? Aku juga sempat berpikir demikian ketika mengantarkan barang pesanannya itu bersama Sunni, ya kan Sunni?" Tanya Ikhsan
Sunni tak bisa menjawabnya karena ia merasa malu serta takut dalam waktu yang bersamaan. Hal ini terjadi karena Sunni yang jarang berinteraksi dengan orang lain selain adiknya.
Ikhsan paham dengan situasi yang dialami oleh Sunni, lalu ia tersenyum ke arah Sunni sambil mencoba memberikan sedikit keyakinan untuk Sunni agar bisa membaur dengan mereka semua.
"Oh iya apa kalian juga dikirim undangan oleh orang berdasi itu?"
"Undangan apa san? Aku tidak pernah menerima undangan apapun!"
"Ya aku juga begitu, kak Willy juga tidak. Memangnya undangan apa?"
"Yah pagi tadi ada orang berjas kantoran datang kerumahku dan memberikan undangan acara malam tahun baru ESSET CORP"
Bagai mendengar petir di siang hari, semuanya lalu mengerumuni Ikhsan yang sepertinya sudah ngelantur sangat jauh.
Namun sayangnya apa yang mereka dengar itu bukanlah kesalahan, Ikhsan menunjukkan kartu undangan yang diberikan oleh pria berjas kantoran pagi itu.
"Kenapa kau bisa diundang san? Ini hanya orang-orang penting saja!"
"Aku juga tidak mengetahuinya Rama, padahal aku enggan sekali untuk hadir karena pasti disana akan ada banyak orang dan terlalu formal"
"Ih kak Ikhsan tak boleh begitu! Orang mengundang itu harus didatangi!"
"Willy benar kamu harus datang san"
Diantara mereka, Rossa sangat ingin mengucapkan sesuatu ke Ikhsan namun ia mengurungkan niatnya dan menunggu momentum yang tepat untuk menyampaikannya.
>>>>>
2 jam telah berlalu. Mereka semua akhirnya berpisah dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Mereka semua sudah tak sabar ingin kembali menyelam ke dunia fantasi lagi.
Rama tahu maksud dari Rossa itu, ia mengacungkan jempolnya dan mulai mengedipkan matanya ke arah Rossa "semua biris!" Mungkin itu yang ia maksudkan.
"Dan aku duluan aja ya, sudah sakit perut ini! Ya terima kasih atas traktirannya!" Ucapnya dan langsung dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
"Dasar teman tidak tahu diuntung!" Komentar Ikhsan.
Melihat kesempatan yang ada, akhirnya Rossa mulai memberanikan dirinya untuk membicarakan apa yang ia ingin ucapkan ke Ikhsan tadi.
Rossa mendekati Ikhsan yang tengah membayar biaya makan-makannya ke kasir. Ia lalu menarik-narik baju hitam Ikhsan yang sudah terlihat kumal itu, maka semakin kumal lah baju itu.
"Ada apa Rossa? Apa kau ada perlu sama aku?"
"Apa kau ada waktu san? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu tapi tidak disini"
Ikhsan lalu mengangguk dan segera keluar dari tempat itu. Sampailah mereka diparkiran motor, dan di sejauh mata memandang sudah terlihat motor gado-gado milik Ikhsan.
Ikhsan lalu menatap Rossa dengan serius, tentunya hal ini membuat Rossa sedikit merasa salah tingkah karenanya.
"Apaan sih san aku dipelototin begitu?"
"Kau yakin mau ikut denganku? Motorku ini sudah tua loh, bahkan platnya saja masih tahun 2017 dan yang paling penting motor ini motor gado-gado, bukan Ducati, bukan Harley Davidson, bukan pula Ninja Kawasaki" jelas Ikhsan dengan gaya pedangdut.
"Hahaha apaan sih san, emangnya aku ini belum pernah naik motor gado-gado kau itu kan waktu SMA sering kau nganter aku ke kantor ayah"
Akhirnya Ikhsan mengalah dan menyalakan motor gado-gado miliknya. Jalanan kota ia belah bersama dengan motor gado-gado dan Rossa.
Rossa kembali teringat masa SMA nya dengan Ikhsan. Ia dulu sering sekali minta diantar oleh Ikhsan ke kantor ayahnya menggunakan motor gado-gado itu, ia merasakan sesuatu yang beda ketika naik motor gado-gado itu ketimbang diantar oleh sopir pribadi.
"Kita mau kemana Rossa?" Sebuah pertanyaan yang membuat lamunan Rossa buyar seketika.
"Kita ke toko pakaian formal"
"Mau ngapain kesana Rossa?"
"Sudah jalan aja, banyak tanya ih"
"......"
Kurang lebih 20 menitan memacu motor gado-gado, akhirnya Ikhsan dan Rossa sampai ke toko pakaian formal.
Ikhsan masih kebingungan kenapa ia dibawa kesini oleh Rossa, ia jelas-jelas ingat apa yang diucapkan oleh Rossa saat di restoran tadi.
Tanpa Ikhsan sadari, Rossa sudah hilang dari situ dan tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah Jas berwarna hitam. Rossa menyuruh Ikhsan untuk segera mencoba jas yang ia pilihkan tadi.
Ikhsan masih enggan untuk mencobanya, karena kesal akhirnya Rossa mendorong-dorong Ikhsan agar segera masuk kedalam fitting room.
Tak selang berapa lama muncullah Ikhsan dengan setelan jas berwarna hitam gelap. Cocok sekali dengan Ikhsan menurut Rossa, namun bagi Ikhsan tidak cocok.
"Ayo kita bungkus itu!"
"Pala mu yang aku bungkus Ross, aku masih kebingungan ini kenapa tiba-tiba kau nyuruh aku beli pakaian formal?"
"Udah beli aja, atau aku yang beliin nih?"
Mendengar kata beliin, Ikhsan langsung segera ke kasir untuk membayar jas itu. Ia sangat takut dengan kata 'beliin' karena ia punya prinsip selagi masih ada, maka ia akan beli dengan jerih payahnya sendiri.
Setelah membeli jas, mereka kembali mengarungi jalanan menggunakan motor gado-gado. Bias matahari sore sudah mulai terlihat, warna kuning keemasan surya kala itu begitu pas dengan momen yang dialami oleh Ikhsan dan Rossa.
Mereka berdua tidak pernah peduli dengan orang-orang yang hilir mudik. Mereka seperti memiliki dunia sendiri sore itu. Dan musik dari band Firehouse dengan judul Love a Lifetime seperti otomatis terputar di kepala mereka berdua.
"Sebenarnya apa sih yang ingin kau bicarakan Rossa? Aku masih tidak paham ini"
"Kau bilang kau diundang kan ke acara tahun baru itu nah aku menyuruhmu beli jas karena itu"
"Tapi aku tak ada yang menemani kesana, aku kira kalian semua diundang juga"
"Bodoh kali kau ini San haha, aku diundang juga disana. Ayah kan salah satu pemegang saham ESSET CORP"
"Ah benarkah itu? Aku bahkan tidak tahu hal itu"
"Hahaha dasar Ikhsan Sullivan bodoh, 3 hari lagi aku akan kerumahmu dan kita akan berangkat ke tempat acara dengan menggunakan motor gado-gado ini" ucap Rossa sambil memukul-mukul motor Ikhsan.
"Yakin nih?"
"Yakin Ikhsan Sullivan! Dahlah buruan antar aku pulang hihihi"
"Dasar betina" ucap Ikhsan kesal
Rossa tertawa melihat tingkah Ikhsan. Sudah lama ia tidak bercanda, bergurau, berhihi-haha dengan Ikhsan.
Ia lalu menatap langit sore dengan perasaan bahagia. Ia merasa seperti makhluk paling bahagia di dunia ini, sore ini. Rossa lalu menggenggam dengan erat jaket milik Ikhsan dan dengan gerakan lambat ia memeluk Ikhsan sambil berucap dengan sangat pelan sekali yang hanya bisa didengar olehnya dan angin sore kala itu.
Sebuah kata yang sangat simpel namun sangat berarti banyak bagi Rossa. Ia kumpulkan kuat-kuat keberaniannya dan akhirnya sebuah pengakuan terjadi sore itu, dan disaksikan oleh motor gado-gado.
"Aku sayang kamu san!" Ucapnya