
Jauh di kedalaman hutan Razolore beberapa orang dengan pakaian berwarna merah menyala dengan lambang burung Phoenix melakukan suatu hal seperti mencari sesuatu.
Dengan beberapa rombongan kecil mereka semua menyisir seluruh hutan sambil berharap mendapatkan apa yang mereka cari, entah sudah berapa lama mereka disitu tetapi mereka tak pernah menemukan apa yang mereka cari.
Tak pernah berpikir entah siang ataupun malam mereka semua terus mencari benda itu hingga ketemu.
Hingga pada akhirnya salah satu dari kelompok pencarian itu melaporkan kepada pemimpin mereka bahwa mereka melihat makhluk yang tingginya 3 kali tinggi manusia pada umumnya.
Wajah pemimpin itu langsung berubah namun sedetik kemudian ia langsung tersenyum mendengar laporan itu, dengan cepat ia menuju lokasi yang disebutkan oleh salah satu anak buahnya tadi untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Sesampainya ia disana, ia dikejutkan oleh seekor makhluk yang sangat besar berwarna hitam pekat dan ditubuhnya selalu memunculkan api yang sangat panas. Orang itu sadar bahwa makhluk itulah yang selama ini mereka cari - cari, wajah orang itu tak bisa berhenti tersenyum puas setelah melihat mahluk itu.
"Akhirnya! Dengan ini semua rencanaku akan berhasil" ucap orang itu dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.
...
Suasana di kota Nilfelin terlihat semakin membaik setelah Archie berhasil menyerap semua kutukan yang ada di sana. Tetapi walaupun sudah bebas dari kutukan nyatanya orang yang terkena kutukan tak langsung bisa beraktivitas dengan normal, mereka semua dalam keadaan yang lemas dan tak berdaya dan harus diberikan perawatan yang khusus.
Beberapa elf yang ahli dalam bidang penyembuhan langsung diperintahkan untuk mengobati warga-warga yang terkena kutukan tadi, mereka semua berjibaku untuk membuat keadaan kembali seperti sediakala.
Lusirele juga langsung menuju ke kota setelah mendengar kabar berhasilnya Archie menghilangkan kutukan di kota Nilfelin, ia membawa rombongan prajuritnya untuk langsung membantu para penyembuh yang sedang berjuang.
Viola langsung merasa takjub melihat pemandangan itu, ia melihat bagaimana para elf yang saling bahu-membahu membantu sesamanya. Sekali lagi Viola terpikir tentang dunia ini, ia merasa ini bukanlah game, ia meragukan kemampuan game yang bisa membuat hal serealistis seperti yang ia lihat. Bahkan di kehidupan nyatanya hampir tak ada lagi manusia yang saling membantu satu sama lainnya, mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi mereka daripada kepentingan orang banyak.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Lusirele bertanya ke Viola yang sedang terlihat memikirkan sesuatu.
"Tidak aku hanya takjub melihat orang-orang kalian yang saling membantu satu sama lain, tidak seperti ras kami yang lebih mementingkan urusan pribadinya masing-masing" ucap Viola dengan tersenyum kecut.
Lusirele mengerti dengan apa yang diucapkan Viola, ia mengangguk sekali lalu berkata lagi. " Beberapa dari bangsa kami juga ada berpikir seperti itu tetapi itu bukanlah hal yang penting, yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha agar tak menjadi orang yang seperti itu, bukan kah begitu?" Sambil tersenyum manis menatap Viola.
Viola tersadarkan satu hal setelah melihat pemandangan yang ia lihat dan dari ucapan Lusirele, ia membalas senyuman Lusirele dengan mengangguk sekali tanda ia mengerti sekali perkataan Lusirele.
"Ngomong-ngomong dimana Archie? Aku tidak melihatnya disekitar sini" Lusirele melihat kesegala arah namun tetap tak menemukan orang yang ia cari.
"Archie ke hutan Wallnut seorang diri, ia ingin menolong orang yang ada disana"
Lusirele mengangguk lalu ia ikut duduk di samping Viola sambil menunggu kedatangan Archie dan beberapa prajurit yang ada di hutan Wallnut. Beberapa menit telah berlalu namun Archie tak muncul jua, hingga membuat mereka berdua khawatir akan keadaan Archie.
Mereka menunggu beberapa menit lagi tetapi tetap tak ada kemunculan Archie terlihat akan segera, dan setelah beberapa menit itu barulah Archie muncul dari arah hutan Wallnut dengan menggendong seorang prajurit muda yang terkulai lemas.
Senyuman langsung terlihat di wajah Viola dan Lusirele melihat kedatangan Archie, tetapi wajah mereka langsung berubah setelah melihat wajah Archie yang tak memperlihatkan ekspresi apapun.
Mereka berdua langsung bergerak ke tempat Archie dan ingin menanyakan keadaannya tapi mereka langsung sadar setelah melihat pemuda yang di gendong oleh Archie tadi sudah tak bernyawa namun diwajahnya terlihat senyuman yang sangat berarti.
Lusirele langsung menyadari hal itu, ia langsung memerintahkan pasukannya untuk segera ke hutan Wallnut dan membawa orang-orang yang ada disitu, sedangkan Viola mencoba menenangkan Archie yang terlihat sangat terguncang karena itu.
"Sudahlah aku baik-baik saja tak usah cemaskan aku" ucap Archie sambil tersenyum pahit.
Viola tak menghiraukan Archie dan langsung memeluknya dengan hangat, ia menyadari Archie begitu terpukul melihat hal itu namun Archie tetap berusaha terlihat tegar.
Archie pun juga tak menghindari pelukan itu, ia merasakan kehangatan yang begitu tulus saat Viola memeluknya. Terbesit di pikiran Archie tentang seorang yang dulu ia kenal namun ia segera menepis pikiran itu.
"Ketua ada apa?" Venus segera mendekati Viola yang sedang memeluk Archie.
Venus langsung menyadari setelah melihat pemuda yang sedang terkulai lemas di tanah, ia hendak berteriak namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Venus lalu terduduk lemas setelah itu.
Memang player yang mengalami kematian hanya akan di respawn kembali namun kehilangan beberapa item dan exp, tetapi bagi NPC yang ada di dalam game itu jika mereka mati maka tak ada lagi yang namanya hidup kembali.
Realitas itulah yang selama ini tak dipahami oleh banyak player sampai mereka bertindak semena-mena terhadap para NPC, namun berbeda jika mereka melihat hal yang dialami oleh Viola, Venus dan Archie. Mereka pasti akan berpikiran dan meragukan bahwa mereka sedang memainkan game.
...
Wajah Lusirele langsung berubah setelah melihat puluhan prajurit yang terkapar dengan wajah yang mengerikan, siapapun yang melihat itu pasti akan mengeluarkan sisa makanannya sampai habis.
Lusirele tak percaya akan terjadi hal seperti itu, walaupun ia tak menerima keadaan itu ia tetap mencoba tegar dan memberikan perintah kepada prajuritnya untuk memberikan pemakaman yang layak kepada prajurit yang gugur itu.
Lusirele merasa kesal dengan orang yang memberikan perintah kepada prajurit itu tanpa sepengetahuannya, Lusirele merasakan sakit yang luar biasa setelah melihat keadaan para prajuritnya yang begitu mengenaskan itu.
Bahkan beberapa dari pasukan yang dibawa oleh Lusirele begitu terpukul kehilangan teman seperjuangan mereka, bahkan beberapa diantaranya ada yang pingsan setelah melihat keadaan para teman seperjuangannya itu. Bayangan kebersamaan mereka saat berada di pelatihan mulai terlintas lagi di ingatan mereka, air mata juga tak bisa mereka bendung lagi walaupun mereka seorang perwira.
Butuh beberapa menit untuk membereskan semua jasad yang ada di hutan Wallnut tak ada satupun yang selamat dari kutukan itu, mereka semua terlambat untuk di tolong.
Lusirele lalu teringat dengan Archie, ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Archie setelah melihat jasad orang yang terkena kutukan itu. Jasad itu dipenuhi dengan lubang yang mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat, wajah mereka tak bisa lagi diidentifikasi akibat kerusakan yang disebabkan oleh kutukan itu, belum lagi badan mereka yang jadi hitam pekat dan kurus kering seperti tinggal tulang saja.
Lusirele kembali ke kota Nilfelin dengan rombongan pasukannya sambil membawa kantongan yang berisi kawan seperjuangan mereka. Tak ada wajah kegembiraan dari warga kota setelah kutukan itu mereda, yang ada mereka hanya merasakan kesakitan yang jauh lebih sakit daripada kena kutukan itu karena kehilangan saudara sebangsa mereka.
Tambah sakit hati Archie melihat peristiwa itu, tak pernah ia berpikir akan terjadi hal seperti ini, Viola juga terus-terusan menghibur Archie namun juga perasaannya begitu sakit melihat semua itu.
Acara pemakaman massal dilaksanakan pada tengah hari, Raja Elondil juga hadir di acara itu. Warga yang kehilangan keluarganya terisak di batu nissan, para teman seperjuangan menangis sesenggukan sambil memberikan penghormatan terakhir.
Archie juga mendatangi batu nissan seorang pemuda yang memberikannya sebuah belati kecil, ia bergumam pelan lalu menancapkan kembali belati pemberian pemuda itu di tanah.
Saat Archie hendak berpaling ia melihat seorang gadis kecil yang menangis sambil memandangi batu nissan itu. Sambil menggenggam boneka ditangannya gadis kecil itu menangis menjerit.
"Kakak! Jangan tinggalkan aku kakak!" Gadis itu terus berteriak sampai suaranya hampir habis.
Begitu sakit perasaan Archie melihat hal itu, ia mendekati gadis kecil itu lalu mengelus kepalanya dengan pelan. Gadis kecil itu bingung dengan Archie yang tiba-tiba mengelus kepalanya.
Setelah itu Archie kembali ke nissan pemuda itu lalu mengambil belati yang ia tancap tadi, belati itu ia berikan kepada gadis kecil tadi sambil memberikan senyuman hangatnya.
"Saudaramu adalah orang yang hebat jadi kau harus menjadi orang yang hebat juga seperti saudaramu itu" ucap Archie lalu kembali mengelus kepala gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menatap belati kecil yang ada di telapak tangannya, gadis kecil itu ingat belati yang ada di tangannya itu adalah milik kakaknya. Gadis kecil itu menatap Archie yang masih memberikan senyum hangatnya lalu berterimakasih sampai menundukkan kepalanya.
Archie membangunkan gadis kecil itu lalu ia berjalan menjauhi tempat peristirahatan terakhir, tak ada yang mengetahuinya bahwa gadis kecil itu akan menjadi salah satu orang hebat di masa yang akan datang.
...
Kondisi toko milik Audrey semakin hari semakin ramai setelah kemunculan armor berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.
Hampir setiap hari toko milik Audrey dibanjiri oleh para player maupun NPC yang ingin membeli armor itu, tak hanya armor itu yang dilirik oleh para pembeli, ada juga equipment lain yang kualitasnya tak jauh dari armor itu dijual dengan harga yang juga terjangkau.
Tetapi hari ini tak ada satupun orang lain ada di toko itu, hanya ada Audrey yang sedang bersantai sambil menikmati teh.
"Ah rasanya begitu nikmat lepas dari rutinitas" ucap Audrey sambil meluruskan tubuhnya seperti kucing.
Kringg
Audrey dikejutkan dengan lonceng yang berbunyi berasal dari depan, ia yakin ia telah menaruhkan tanda tutup di depan tokonya tetapi tetap ada yang mengunjungi tokonya.
Audrey pun terpaksa ke depan untuk melihat siapa yang datang, Audrey hendak melompat melihat orang yang sedang melihat-lihat barang pajangannya.
Orang itu terlihat seperti seorang pemuda berumur 18 tahunan dengan pakaian serba hitam yang terbuat dari kulit, lalu yang paling mencolok adalah sebuah topi panjang berwarna putih yang hampir menutupi wajahnya itu. Di punggung pemuda itu juga ada sebuah senjata berbentuk gitar yang memiliki tanduk di ujungnya.
"Hei nona bukankah kau terlalu sering tutup" ucap pemuda itu setelah menyadari Audrey ada disana.
Audrey hanya tertawa menanggapi perkataan pemuda itu. "Ada keperluan apa kau kemari Izzy? Sudah lama kau tidak kesini semenjak membeli beberapa alat perangkap"
Pemuda yang bernama Izzy itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa garing mendengar ucapan Audrey.
"Mari kedalam temani aku minum teh sambil kita berbincang-bincang" ajak Audrey ke Izzy.
Izzy pun mengiyakan ajakan Audrey, ia mengikuti Audrey ke dalam meninggalkan semua barang pajangan itu.
Audrey mempersilahkan Izzy untuk duduk lalu ia menuangkan segelas teh yang aromanya begitu wangi. Izzy langsung saja meminum teh itu dan merasakan ketenangan di dalam jiwanya.
"Teh buatan nona Audrey memang yang terbaik" puji Izzy setelah meneguk teh itu.
Wajah Audrey sedikit memerah mendengar pujian Izzy, ia menenangkan dirinya sebelum ikut duduk dan meneguk secangkir teh.
Perbincangan mereka dimulai dari seputar masalah yang ada di Thousand River City, semenjak terbunuhnya Walikota Thousand River City banyak terjadi pergolakan yang terjadi namun semua telah diselesaikan oleh Walikota baru yang langsung ditunjuk oleh warga Thousand River City.
Lalu Izzy menceritakannya petualangannya beberapa hari belakangan, Izzy bercerita dengan sangat ekspresif sampai Audrey bisa merasakan ketegangan dari cerita itu.
"Lalu bagaimana dengan Archie? Apakah kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Audrey
Sebelum menjawab Izzy terlebih dahulu meneguk teh kembali, lalu ia mengatakan bahwa ia tak bertemu dengan Archie semenjak dari dungeon itu.
Wajah kecewa mulai terukir di wajah Audrey ia mengira bisa menanyakan kondisi Archie ke Izzy tetapi Izzy pun sudah tak bertemu dengan Archie semenjak dari dungeon.
Izzy mengerti kekecewaan Audrey, dengan senyuman khasnya ia mencoba menghibur Audrey yang sedang kecewa. " Nono Audrey tak perlu risau, Archie pasti baik-baik saja kalau mau aku bisa menghubunginya saat ini juga".
Selepas itu Izzy langsung menghubungi Archie saat itu juga. Audrey langsung pucat melihat Izzy yang menghubungi Archie, ia berniat menghentikan Izzy namun ia tak bisa karena Izzy juga ingin menanyakan keadaan temannya itu, Audrey akhirnya hanya bisa pasrah dan menunggu jawaban dari Izzy.
Awalnya semua berjalan biasa saja, Izzy juga akhirnya mengetahui bahwa Archie sedang ada di kota Nilfelin dan melakukan sesuatu yang penting. Namun semua berubah saat Izzy menanyakan keadaannya, wajah Izzy juga langsung berubah setelah mendengar cerita Archie.
Audrey yang kebingungan hanya bisa menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi, Audrey menunggu keadaan Izzy sampai tenang lalu menanyakan kepadanya apa yang telah terjadi.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi di Nilfelin dan Archie dalam keadaan yang tak baik-baik saja" ucap Izzy dengan wajah yang tak bisa dijelaskan.