
Selepas dari rumah Ruksel, Momo-chan pun pergi menuju rumah Misphita sang Summoner yang ia cari. Menurut perkataan Ruksel, rumahnya Misphita berada di paling ujung desa Spezia dan cukup jauh dari rumah warga yang lainnya.
Mengetahui hal tersebut, alis Momo pun ikut naik beberapa derajat namun setelah itu ia mengangkat bahunya dengan menunjukkan wajah tanpa beban.
"Mungkin dia orangnya tak suka berinteraksi dengan yang lain saja" begitu komentarnya.
Momo-chan mengikuti jalan setapak yang ada di desa itu. Di setiap perjalanannya, ia bertemu dengan warga-warga desa yang sedang melakukan aktivitasnya. Tak jarang Momo-chan memberikan senyumannya ke setiap warga desa yang ia temui.
Ia juga bertemu dengan anak-anak desa yang sedang bermain di sebuah lapangan besar, mereka semua melambaikan tangannya ke arah Momo-chan dengan sangat riang. Momo-chan pun membalasnya dengan ikut melambaikan tangannya sambil tersenyum dengan sangat manis.
"Suasana di desa ini begitu nyaman dan indah! Warganya juga sangat ramah, aku jadi jatuh cinta dengan desa ini" Ungkap Momo-chan
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai di ujung desa dan ia melihat sebuah rumah yang sangat tidak terawat.
Rumah itu ditumbuhi tumbuhan liar yang merambat kesana-kemari tanpa permisi dengan si empu rumah, dinding rumah itu juga terlihat rapuh termakan zaman, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
Rumah itu bagaikan rumah manusia purba pada zaman megalitikum, mungkin. Tetapi siapapun yang mempunyai rumah itu, ia merupakan orang termalas yang pernah ada selain pattrick.
Momo-chan sempat ragu tetapi ia kembali memantapkan niat dan tekadnya, ia membusungkan dadanya sehingga membuat ada sedikit tonjolan yang bisa membuat para lelaki meneguk air liur.
Momo-chan memberanikan dirinya melangkah, lalu saat dirinya di depan pintu rumah itu ia langsung mengetuk pintu itu dengan perlahan sebanyak 3 kali.
"Tok tok tok.... Moshi-mosh!"
Tidak ada respon dari dalam rumah, Momo-chan menunggu sesaat lalu ia kembali mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya.
"Tok tok tok.... Sumimasen!"
Masih tidak ada respon, ia kembali menunggu beberapa saat dan mengetuk pintu itu untuk yang ketiga kalinya.
Sebelum mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya, Momo sempat teringat pesan dari mendiang mamahnya.
"Kalau kita bertamu dan sudah mengetuk pintu sebanyak 3 kali dan masih tidak ada respon, maka sebaiknya kita kembali besok saja" begitu ungkap mendiang mamahnya.
Momo-chan mengangguk dan ia kembali mengetuk pintu itu.
"Tok tok tok...Kaizoku ou ni ore wa naru!" Momo-chan berteriak sangat keras di depan pintu.
Beberapa saat menunggu masih tidak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan segera terbuka, karena itu Momo-chan pun berbalik badan dan ingin meninggalkan tempat itu.
Namun sebelum dia benar-benar pergi dari situ, tiba-tiba saja pintu itu terbuka secara perlahan hingga menimbulkan suara deritan yang sangat menyakitkan telinga.
Setelah pintu itu terbuka sepenuhnya, muncul sosok seorang perempuan dengan tampilan muda dan segar, berambut hijau dan berkulit putih.
Perempuan itu memandang kesal ke arah Momo-chan, dengan rokok yang masih menyala ia memandangi Momo-chan dengan sangat intens.
"Apa kau tidak tahu sopan santun kah hah? Apa ibumu tidak pernah mengajari kau kalau tidak boleh berteriak-teriak di depan rumah orang lain ha?" Ucap perempuan itu ketus.
................
Sekarang ini Momo-chan berada di dalam rumah perempuan itu yang memiliki nama indah, Misphita.
Misphita ini lah yang dicari oleh Momo-chan, dengan dia lah Momo-chan bisa belajar mendapatkan job Summoner.
Namun sepertinya usahanya tidak akan mudah, apalagi setelah Momo-chan berteriak-teriak di depan rumahnya seperti orang yang tak tau etika bertamu.
Sampai saat ini, Misphita masih menatap Momo-chan dari atas tubuhnya hingga bagian bawahnya, seperti singa yang siap menyantap mangsanya.
Sedangkan Momo-chan hanya bisa tersenyum canggung sambil terus-terusan meneguk ludahnya karena ditatap sangat intens seperti itu.
"Jadi siapa kau bedebah? Kenapa kau berteriak-teriak di depan pintu rumah ku seperti orang gila dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Apa kau mencoba bermain-main dengan ku hah?" Misphita menatap tajam ke arah Momo-chan.
Momo-chan langsung terdiam dan tertunduk, ia tak berani menatap mata Misphita yang terlihat sangat mengerikan sekarang ini.
"Aduh kenapa aku melakukan hal seperti itu tadi, bodohnya aku" Momo-chan menghardik dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan besar.
"Hei kalo ada orang bertanya itu di jawab, bukannya diam dan mematung seperti itu. Sekarang aku tanya sekali lagi siapa kau atau kau akan ku bunuh sekarang juga?"
Mendengar perkataan barusan, semakin takutlah Momo-chan. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya tak bisa berhenti bergetar juga. Mulutnya mencoba untuk mengucapkan satu patah kata, tetapi karena rasa takutnya akhirnya tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Karena masih tidak ada jawaban dari Momo-chan. Misphita pun berjalan mendekati Momo yang masih mematung dengan seluruh badan yang gemetaran.
Misphita memandangi wajah cantiknya Momo-chan sambil tersenyum penuh misteri, ia menyentuhnya dengan lembut seperti sentuhan seorang pasangan.
"Cantik juga kau, sepertinya kau cocok ku jadikan peliharaan ku" ucap Misphita tepat di telinga Momo-chan.
Seluruh tubuh Momo-chan terasa seperti tersengat aliran listrik, ia bergidik ngeri karena bisikan itu.
"Namaku Momo. Aku kesini ingin belajar menjadi seorang Summoner hebat seperti Anda! Aku disarankan oleh instruktur ku, Merlin untuk menemui mu. Katanya kau adalah orang yang bisa mengajari ku untuk menjadi Summoner"
"Argh Merlin sialan kenapa kau malah menganggu ketenangan hidup ku! Hei bocah asal kau tau ya, kehebatan aku bahkan tak sebanding dengan Merlin. Dia adalah mantan penyihir agung kerajaan!"
Mulut Momo-chan langsung terbuka lebar setelah mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh Misphita, tidak ada alasan baginya untuk membohongi Momo-chan sehingga Momo-chan langsung tau kalo itu memang yang sebenarnya.
Ia hanya tidak bisa memahami kenapa penyihir berbakat dan hebat seperti Merlin malah berakhir di sebuah tempat pelatihan Mage yang bahkan orang-orang yang belajar dari dia pun tak mengetahui asal-usulnya.
"Arghhh" Misphita memijit keningnya sambil memegang pundak Momo-chan, dan Momo-chan jadi bingung karenanya.
"Kau salah orang bocah, aku bukan orang yang pandai mengajari orang lain. Sebaiknya kau kembali dan minta ajarkan Merlin saja"
Misphita kembali duduk di sofa miliknya sambil tetap memijit keningnya, nampaknya mendengar nama Merlin membuat sebuah kesan yang cukup mendalam baginya. Terbukti dari setiap tarikan nafasnya yang sangat berat itu.
Sedangkan Momo-chan masih terdiam di tempatnya, perkataan Misphita tadi cukup membuat hatinya goyah. Namun ia merasa semua perjuangannya akan sia-sia jika ia kembali sehingga ia memutuskan untuk tetap tinggal dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Merlin.
Alis mata Misphita naik beberapa derajat melihat Momo-chan yang masih terdiam di sana, ia kembali menyuruh Momo-chan untuk pergi dengan halus namun Momo-chan tetap tidak mau beranjak.
"Aku tidak mau pergi! Aku akan tetap disini dan belajar darimu, karena aku percaya dengan apa yang di katakan oleh Merlin!
Merlin percaya dengan kemampuanmu sebagai seorang Summoner bahkan dia memujimu, dia menyuruhku untuk menemuimu karena mungkin dia punya alasan khusus yang hanya ia yang tahu!
Aku akan lakukan apa saja agar kau mau mengajari ku jadi seorang Summoner hebat seperti mu" dengan mantap Momo-chan berkata
Misphita sedikit tertawa karena perkataan itu, di dalam hatinya pun sedikit rasa menggelitik menyerang. Ia merasa Momo-chan sedikit menarik di matanya, namun ia menutupi ketertarikan itu dengan pura-pura tak peduli.
"Aku akan buktikan kalo aku memang pantas ia latih!, Tapi sebelum itu aku harus mendapatkan hatinya dulu. Apa yang harus aku lakukan ya?"
Momo-chan kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan hati Misphita, lalu ia teringat dengan tanaman merambat yang ada di depan rumahnya sehingga memunculkan ide yang brilian.
...................
Perlu beberapa jam bagi Momo-chan untuk membersihkan semua tanaman yang merambat itu. Dia tidak menggunakan skill yang ia miliki untuk membasmi semua itu, ia hanya mengandalkan staminanya saja.
Momo mengumpulkan semua tanaman itu di sebuah tempat, lalu ia menyalakan [Fire Ball] untuk membakar tanaman itu.
Setelah membakar tanaman itu, ia memperhatikan terlebih dahulu kondisi rumah Misphita. Sungguh berbeda dari yang sebelumnya.
Jika sebelumnya dipenuhi oleh tanaman liar yang merambat, sekarang rumah itu terlihat sangat bersih seperti baru di bangun tanpa ada sisa tanaman merambat.
Selepas itu, Momo-chan masuk kedalam rumah. Ruang tamu itu terlihat seperti kapal yang dihantam meriam 12 kali.
Ia mengambil nafas terlebih dahulu lalu kemudian ia mulai membersihkan ruang tamu yang amburadul itu.
Momo-chan menyapu, mengepel sampai membenarkan posisi benda-benda yang ada disitu. Hingga pada akhirnya setelah puluhan menit, ia pun menyelesaikan tugasnya itu dan sekarang tempat itu menjadi lebih bersih dan lebih rapi.
Momo-chan kembali ke luar rumah, begitu ia membuka pintu ternyata hari sudah mulai gelap, matahari sudah mengeluarkan sinar jingga.
Saat dirinya hendak melangkah keluar, langkah Momo-chan langsung di hentikan oleh Misphita. Dirinya langsung ditarik olehnya kembali ke dalam rumah, dan Misphita segera menutupi semua pintu yang ada di rumahnya itu.
"Gila kah kau?" Hardik Misphita ke Momo-chan.
Momo-chan hanya bisa memandangi Misphita yang sibuk menutupi semua pintu dan jendela rumahnya.
"Ku kira kau sudah pergi sejak tadi ternyata kau masih disini!"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti"
"Kau akan tau alasannya sebentar lagi, tunggu saja"
Momo-chan pun memilih berdiam di rumah Misphita karena memang dirinya tidak diperbolehkan untuk keluar rumah sekarang ini, ia duduk di sebuah kursi panjang sambil memikirkan sebenarnya apa yang di maksud oleh Misphita.
Karena tidak menemukan jawabannya, akhirnya Momo-chan memilih untuk log out untuk sementara waktu.
Setelah kembali pun Monica masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Misphita tadi, ia merasa aneh saja karena ia melihat ekspresi Misphita yang terlihat sangat cemas.
Sambil membuat smoothies untuk makan malamnya, Monica masih kepikiran bahkan ia hampir memasukkan garam yang ia sangka gula ke dalam smoothies miliknya.
"Hampir saja" Monica sedikit lega.
Monica kembali ke kamarnya dengan membawa segelas smoothies yang kaya akan vitamin itu. Sesaat sebelum dia masuk kamar, ia mendengar suara ayahnya yang sedang memanggilnya dari ruang tamu sehingga Monica pun menuju ruang tamu untuk menemui ayahnya.
"Ada apa ayah?"
"Ah Monica anak ayah, ayah tadi di telepon agensi dari Jerman yang katanya ingin mengundangmu ke acara sebuah peresmian teknologi terbaru dan kau diminta untuk menjadi bintang iklannya sekaligus memperkenalkan teknologi itu" Ayah Monica menjelaskan situasinya terlebih dahulu
"Terus apa kata ayah?" Monica terlihat sangat serius jika membicarakan urusan pekerjaannya.
"Bapak bilang kalau semua itu adalah keputusan dari Momo-chan sendiri, jadi mereka menunggu jawaban dari kamu namun mereka sangat berharap jika kau mau mengambil job itu"
"Hmmmm terus kapan acara itu akan di mulai ayah?"
"3 bulan lagi!"
Wajah Monica semakin serius kali ini, ia memegang dagunya layaknya pose orang yang sedang berpikir.
Ia sedang memikirkan bagaimana caranya dia bisa bermain Cyrus Online tanpa harus menolak tawaran tersebut, ia juga tidak mau merelakan job Summoner begitu saja, karena belum tentu selepas itu ia bisa kembali mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Job yang lumayan bagus di Cyrus Online.
"Aaah baiklah ayah aku akan mengambil job itu tetapi dengan satu syarat!" Wajah Monica jadi sedikit jahat dengan senyuman seperti orang yang mau membunuh.
Kacamata kotak milik ayahnya sedikit jatuh karena melihat ekspresi anak gadisnya itu, ia bingung sejak kapan anaknya berbakat menjadi seorang pembunuh. "Apa syaratnya nak?" Tanyanya dengan sedikit bergetar.
"Syaratnya mudah sekali. Ayah hanya perlu menolak semua tawaran job yang akan datang karena aku sedang ada hal penting yang aku kerjakan di dalam game. Pokoknya aku hanya mau berkerja di tempat itu saja, tidak untuk yang lain"
Mendengar permintaan yang biasa itu membuat ayahnya sedikit bernafas lega, untuk menghalau orang-orang yang menawarkan job itu adalah hal yang gampang bagi ayahnya Monica.
"Baiklah kalau begitu!" Sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Terimakasih ayah kau sudah mengerti aku" Monica berbalik dan kembali menuju ke kamarnya karena ia sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam dunia Cyrus.
Sedangkan ayahnya saat ini sedang membenarkan kacamata kotaknya serta membersihkannya dari debu-debu yang menempel.
"Sepertinya kau sudah mulai dewasa" komentarnya sambil mengusap-usap kacamata kotaknya.
............................
Momo-chan kembali masuk ke dalam Cyrus Online, ia masih duduk di kursi yang sempat ia duduki tadi.
"Akhirnya kau bangun juga" Misphita menjadi sedikit tenang setelah melihat Momo-chan sudah kembali.
Momo-chan langsung merasa heran dengan sikap Misphita yang agak sedikit aneh menurutnya.
Misphita bisa menangkap hal itu dari wajahnya Momo-chan, ia langsung menarik Momo-chan ke sudut ruangan yang ada jendelanya.
"Kau lihat saja apa yang sebenarnya terjadi di sini"
Semakin penasaranlah Momo-chan dengan apa yang dimaksudkan oleh Misphita.
Misphita kemudian membuka jendela secara perlahan dan tanpa suara, ia menyuruh Momo-chan untuk mengintip ke luar jendela secara perlahan.
Momo-chan pun menuruti apa yang diinginkan oleh Misphita, ia tengoklah keluar jendela dan betapa terkejutnya dia melihat suatu sosok yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan cepat ia kembali menutup jendela itu karena ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat tadi, sampai membuat dirinya ngos-ngosan.
"Apa itu tadi? Dari mana datangnya makhluk itu?" Ucapnya dengan sedikit ketakutan.